“Kau bisa cerita apa saja pada kami. Maksudku padaku,” Norman melirik sinis pada Lisa. “Apa maksudmu? Aaric itu lebih dulu kenal denganku, mana boleh kau melangkahi taman yang lebih dulu dikenalnya? Bagaimana pun aku lebih tahu siapa Aaric. Kami satu sekolah, kami satu kampus, kamis satu jurusan...” ucapan Lisa tiba-tiba terpotong. “Tapi kau bisa apa tentang urusan psikis, dirimu saja butuh konseling!” timpal Norman dengan senyuman yang menyebalkan. “Sudah hentikan! Sampai kapan kalian akan memperebutkan aku seperti barang?” Aaric tertawa. “Aku akan cerita pada kalian berdua, tapi mungkin tidak hari ini,” jawab Aaric. “Aar, jangan pernah merasa sendiri! Ceritakan apa pun pada kami,” ucap Lisa sambil menggengam telapak tangan Aaric. Aaric hanya tersenyum. *** Beberapa hari pasca Aar

