Lisa maju ke depan, mendekat, dan lebih dekat lagi dengan sosok kadaver. Keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya. Profesor Kopfmann menyerahkan sebuah pisau bedah berukuran tidak terlalu besar, namun pasti ini sangat tajam. “Ya Tuhan, bagaimana ini!” bisik Lisa dalam hati. Sesekali ia melirik pada Aaric, seolah meminta bantuan. “Aaric, tolong selamatkan aku!” teriaknya dalam hati. “Tak perlu ada yang diselamatkan, Lisa! Kau pasti bisa! Kau hanya perlu melakukannya!” tiba-tiba terdengar suara Aaric bergema di kepalanya, padahal ketika dirinya melirik ke arah Aaric, ia sedang terdiam menatap Lisa lekat-lekat, seperti teman-teman satu kelompoknya yang lain. Aaric tak mengatakan sepatah kata pun. “Aaric bagaimana ini? Tanganku sama sekali tidak bisa bergerak,” ucap Lisa lagi dalam hat

