Kartu 87

1400 Kata

Aaric berjalan dengan semangat menuju rumah Maxi—pasca pengintaian itu, Aaric membuntutinya sampai ke rumahnya. Ia tak menyangka kediaman ajudan yang menyamar sebagai sopir taksi itu ternyata hanya berselang dua stasiun saja dari komplek tempat tinggalnya. Berbekal buku yang ia pinjam dari Norman tentang topik Prakognisi, ia berniat menunjukkan kepada Maxi sekaligus menceritakan soal mimpi “penyihirnya” tempo hari. Tapi tiba-tiba saja semangatnya sirna. Ia menghentikan langkahnya secara mendadak. Ketika melihat papan pengumuman terpasang di halaman depan rumah Maxi. “Disewakan!” tulisan di papan pengumuman itu. “Kukira dia akan lama tinggal di sini, kenapa ia pindah dengan tiba-tiba?” gumam Aaric. Padahal minggu kemarin ia masih menemui Maxi di sini. Aaric berjalan mendekati papan pen

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN