Kartu 3

1647 Kata
Aaric beranjak dari dapur, ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju perkebunan milik kakeknya. Meski ini sudah hampir tengah hari, namun hawa masih begitu dingin, matahari pun seolah memancarkan cahaya sekenanya saja. Terlihat George sedang mencabuti tanaman hama yang tumbuh di antara deretan kentang-kentang milikinya, hampir sepanjang hari George menghabiskan waktu di perkebunan, sungguh masa tua yang damai. “Hai, Opa, kau sedang apa?” sapa Aaric. “Hai, Nak, kau sudah pulang? Sejak kapan kau berdiri di sana? Mendekat lah!” balasannya. “Aku baru saja sampai,” Aaric berjalan ke arah George dan berjongkok di sebelahnya. Ia memperhatikan sejenak apa yang tengah dikerjakan George, kemudian ikut mencabuti tumbuhan liar itu. “Sebentar! Kau jangan kemana-mana!” ucap George tiba-tiba. Ia bangkit dan berjalan ke sebuah rumah kecil yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka berjongkok. Kurang dari lima menit  Ia kembali, dan memberikan sepasang sarung tangan besar terbuat dari bahan lateks yang biasa digunakan untuk berkebun. “Cuci tanganmu, lalu pakai ini!” perintah George sambil memberikan sepasang sarung tangan berkebun pada cucunya. “Ah ya, terimakasih, Opa! Sebentar aku kembali!” respon Aaric. Ia bergegas menuju sebuah keran air dan mencuci tangan di sana, mengeringkannya dengan handuk yang tergantung, dan kembali dengan kedua tangan sudah dibalut sarung tangan. “Kau tak punya pekerjaan rumah?” tanya George. “Sebetulnya ada. Tapi bisa aku kerjakan nanti,” “Kudengar pertengahan musim panas ini kau akan menempuh ujian kelulusan, untuk itu kau harus lebih keras belajar, bukan?” katanya lagi. “Ya benar, doakan aku, Opa!” “Tapi nampaknya kau sudah cukup pintar, aku yakin kau akan dapat angka 1 dalam ujian nanti,” George tersenyum, ia selalu optimis dalam menjalani hidup. “Opa, ini masih terlalu pagi untuk membuatku senang,” balas Aaric. Mendengar ucapan George itu Aaric luar biasa gembira, ia tersenyum lalu merangkul kakeknya. “Terlalu pagi katamu? Kau tahu ini sudah pukul berapa?” respon George berusaha menjadi lebih humoris. Mereka berdua pun tertawa lepas, sungguh keakraban cucu dan kakek yang membuat iri. “Ayahmu sudah cerita akan pindah dari sini?” tiba-tiba George bertanya. “Aku belum tanya Papa, tapi menurut rumor sepertinya itu benar,” jawab Aaric tangannya sibuk mencabuti tanaman liar, yang tumbuh dengan subur meski tak ada yang merawatnya. “Rumor? Rumor dari siapa?” “Mamaku dan anak pemilik kedai kopi di ujung jalan,” “Oh begitu rupanya. Sebaiknya kau tanyakan langsung pada ayahmu nanti saat senggang,” “Akan kulakukan,” “Itu bagus, Nak,” “Kau sendiri, apa yang akan kau lakukan jika kami pergi?” Aaric bertanya tiba-tiba. “Tentu saja aku akan melanjutkan hidupku di perkebunan ini,” jawabnya, sesekali memunguti sampah tumbuhan benalu yang berhasil dicabut, lalu memasukkannya ke dalam sebuah ember besar. “Kami pasti akan merindukanmu, Opa,” ucap Aaric sambil memandang wajah George yang sudah dipenuhi keriput. “Kau kira aku tidak?” balas George. Aaric tersenyum. *** Waktu terus beranjak sore, matahari musim semi sangat ramah, tak terlalu menyengat tapi tetap memancarkan sinar. Waktu siang perlahan menjadi lebih panjang di penghujung musim dingin, dan suhu pun mulai menghangat. Memang sangat cocok untuk aktivitas berkebun atau berjalan-jalan di hutan kota. Ada Sabine yang sedang membaca buku di depan teras rumah menghadap ke jalan utama yang relatif sepi. Hanya sesekali tampak mobil hilir mudik dan beberapa orang melintas tepat di depan rumah, tengah melakukan jogging. Seseorang di antaranya menyapa Sabine dari kejauhan sambil melambaikan tangan. “Gruss dich! (salam), kau terlihat sangat sibuk?” katanya sambil tersenyum. “Halo Peter, aku pikir tadi bukan kau,” respon Sabine, lalu beranjak dari kursi malasnya, yang sengaja ia simpan di teras rumah untuk bersantai sambil membaca buku. Ritual yang tak pernah Sabine lewatkan setiap kali musim semi datang, memandangi pohon ceri yang mulai bermekaran. Biasanya Sabina merebahkan tubuh di kursi malas sambil membaca dan menikmati secangkir Teh Early grey dengan sedikit gula dan aroma minyak bergamot (red. salah satu jenis minyak atsiri terbaik yang ditemukan pada varian Teh Early Grey yang cukup terkenal di Inggris) yang sangat pekat. “Tidak berjalan-jalan? Hari ini cukup hangat, bukan?” Peter kemudian berhenti, dan berbelok ke halaman rumah kediaman keluarga Karte. Peter Schnapp adalah tetangga Sabine, kediamannya hanya berselang tiga rumah saja. Keluraga Schnapp cukup akrab dengan Sabine dan Uli, karena mereka dulu pernah satu perkumpulan di grup olah raga hockey. “Kurasa tidak hari ini, mungkin lusa saat temperatur menunjukan angka 20,” candanya. “Astaga, kau seperti beruang pemalas,” balas Peter tertawa. “Kau mau ke mana?” tanya Sabine lebih serius. “Hanya berlari sekitar sini saja, atau mungkin jika hari masih terang aku akan berkeliling hutan,” jawabnya. “Baik, Sabine, tampaknya aku menggangu waktu hibrinasimu, aku pergi dulu ya, sampai jumpa,” sambungnya lagi. Kemudian keluar dari pelataran rumah keluarga Karte. “Oke, selamat bersenang-senang, berhati-hatilah siapa tahu kau bertemu beruang sungguhan di sana!” teriak Sabine sambil tersenyum dan melambaikan tangan, kemudian kembali ke kursi malasnya. Tak lama berselang Aaric keluar dari garasi dengan sepedanya. Ia mengenakan setelan swater yang lebih tipis, dan celana sebatas lutut. “Mau ke mana, Sayang?” baru saja rebahan, sabine kembali bangkit. “Aku mau bersepeda, Ma. Mau ikut?” tanya Aaric. Ia mengecek kedua ban sepedanya, sepanjang musim dingin ia jarang menggunakan sepeda itu, biasanya bannya menjadi sedikit kempes, untunglah kali ini tidak. “Mungkin nanti…” jawaban Sabine terpotong. “… jika temperatur menunjukan angka 20, bukan begitu?” sambung Aaric. Sabine menghela nafas. “Kau mendengarkan pembicaraanku barusan ya?” respon Sabine. “Aku sudah mengenalmu selama 18 tahun, Ma. Aku bukan anak yang berbakti jika tak tahu kebiasaanmu yang satu itu,” jawab Aaric. Sabine tersenyum. “Ya sudah, aku pergi dulu ya, sampai bertemu saat makan malam!” Aaric berpamitan sambil mencium pipi ibunya. Ia pun segera mengayuh sepedanya. Angin yang berhembus memang terasa masih cukup dingin untuk keluar rumah, meskipun hal ini tidak akan lama, apa lagi di puncak musim panas sekitar bulan Juli nanti, sebuah telaga di dekat hutan akan penuh dipadati orang-orang yang berendam dan bejemur, karena matahari bersinar terik. Aaric terus mengayuh sepedanya, betisnya mulai terasa kaku, mungkin memang bukan ide yang terlalu bagus menggunakan celana sebatas betis, di cuaca yang belum begitu hangat. Tapi lama kelamaan jika kakinya terus bergerak, rasa dinginnya dapat menghilang dengan sendirinya. Deretan pohon pinus terhampar hampir di sepanjang jalan, sesekali ia pun berpapasan dengan pesepeda lain, ada juga yang berjalan-jalan dengan anjingnya. Kedai kopi milik keluarga Kevin mulai terlihat dari kejauhan, ini adalah kedai kopi terbaik di Ramsau untuk kategori kedai kopi dengan nuansa homy. Ayahnya Kevin bernama Maxi, adalah mantan polisi yang mengambil pensiun muda kemudian membuka usaha kedai kopi, itu terjadi saat Aaric dan Kevin masih duduk di bangku SMP. Uli, ayah Aaric sangat menyayangkan keputusan Maxi, ia berdalih menjadi polisi itu bukan perkara mudah, dan setelah dilantik Maxi malah memilih karier menjadi penjual kopi, dan ini sangat lucu di mata Uli. Ketika orang-orang berlomba-lomba merebut posisinya, Maxi malah melepasnya begitu saja, namun apa pun keputusannya itu sudah menjadi bagian dari kehidupan orang lain yang tidak bisa di-intervensi. Aaric memarkir sepedanya di tempat penitipan sepeda, sudah berjajar beberapa sepeda lainnya yang lebih dulu datang, mungkin mereka pun sama ingin menikmati secangkir kopi hangat. Ini baru awal musim semi, jadi menu kopi hangat masih tersedia, jika mendekati musim panas biasanya yang akan tertera di papan tulis hitam berukuran sedang itu adalah jenis Iced Coffee. “Selamat sore,” sapa Aaric dengan ramah di depan meja Barista. “Sore,” jawab Maxi, ia terlihat sibuk mengeringkan gelas-gelas yang baru keluar dari mesin cuci piring dengan lap. “Hai, Aar, lama tak bertemu, mau kopi?” akhirnya ia melirik ke arah depan dan menyadari orang yang datang itu adalah anak dari temannya, Uli. “Sibuk, Pak?” Aaric berbasa-basi. “Tidak terlalu. Kau datang sendiri?” tanya Maxi sambil melirik ke beberapa arah. “Ya, kebetulan aku sedang bersepeda santai, dan tercetus ide untuk mampir ke sini,” “Idemu bagus. So, mau kopi apa? Americano, Cappuccino, atau?” “Kopi Vietnam saja dengan tambahan krim yang banyak, Bitte (tolong)!” “Seleramu masih belum berubah, Aar,” Maxi tersenyum sambil meracik segelas kopi Vietnam dengan tambahan krim yang banyak sesuai pesanan. “Aku tidak menemukan kopi Vietnam lain yang lebih enak selain di sini,” komentar Aaric. “Ah, kau bercanda!” Maxi tampak bahagia. “Aku serius, Pak. Ngomong-ngomong di mana Kevin?” tanya Aaric mengubah topik. “Hari ini ia ada jadwal bermain bola di tempat biasa,” “Oh begitu ya,” “Ada sesuatu yang penting?” “Ah, tidak. Nanti aku ke sekalian ke sana dengan sepeda,” “Oke. Dan ini silahkan dinikmati kopinya!” Maxi menyerahkan sebuah nampan dengan segelas Kopi yang masih terpasang pada alat drip-nya. “Terima kasih,” ucap Aaric, kemudian ia mengambil nampan itu dan pergi ke sebuah meja di pojok ruangan. Alunan musik jazz di kedai itu membuat pengunjung semakin terhanyut. Di antara mereka, ada yang sedang bercakap-cakap tapi tak sedikit juga yang datang sendirian. Aaric merogoh saku dan mengeluarkan telepon genggam, sambil menyeruput kopinya, ia mencoba menghubungi Kevin. “Masih di lapangan?” “Baru selesai latihan, ada apa, Aar?” “Tidak. Aku hanya ingin memberi tahu, Aku sedang ada di kedai ayahmu,” “Wow, kenapa tidak bilang kau mau ke sana? Oke kalau begitu, aku meluncur ke sana sekarang!” seru Kevin antusias seperti biasa. “Tidak perlu buru-buru. Selesaikan saja latihanmu! Aku mau segera pulang sebelum hari gelap, besok saja kita bertemu di sekolah,” jawab Aaric. “Baik kalau begitu, semoga harimu menyenangkan!” “Kau juga,” Aaric beranjak, setelah membayar kopinya—meskipun Maxi menolak untuk di bayar, ia bergegas menuju tempat parkir sepeda, dan kembali mengayuh sepedanya pulang ke rumah. Ia yakin sebelum makan malam ia sudah sampai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN