Elli mendengar suara pintu ruang kerjanya di ketuk. Ia buru-buru menyimpan botol ramuan ke tempatnya. Kemudian segera keluar meninggalkan ruang rahasia itu. Lalu bergegas membuka pintu ruang kerja. “Mutti, aku ke luar lagi. Aku mau bertemu Aaric sebentar, ada yang harus kami urus,” Christina sudah berada di depan pintu. “Oh, baiklah, Sayang! Semoga urusanmu lancar!” respon Elli. Seperti biasa dengan sangat ramah. “Terima kasih. Kalau begitu aku pergi!” ucap Christina kemudian beranjak. “Ok,” Elli menjawab sambil tersenyum. “Mmm... bagaimana dengan tanganmu, Mutti? Apakah terasa nyeri?” tanya Christina, tak sengaja matanya melirik ke bagian tangan Elli. “Tidak apa-apa, Sayang? Semuanya akan membaik dengan sendirinya!” jawab Elli. Sambil menyembunyikan tangannya. Yang kondisinya saat

