Bab 2. Pelarian

1347 Kata
"Berikan kuncinya!" perintah Raka. Aluna menggelengkan kepalanya. "Jangan, ini mobilku!" Raka mendelik, menatap geram. "Berikan! Aku tidak butuh mobil butut! Anak buahku yang akan mengamankan mobilmu itu, selama kita pergi!" jelasnya. "Apa jaminannya?" Aluna menatap tajam, menantang Raka. Gadis yang terkenal tegas dan pemberani itu kini berdiri jumawa, meskipun tak dapat dipungkiri, jantungnya melompat-lompat tanpa bisa ditahan. "Nyawaku!" sahut Raka tanpa pikir panjang. Kedua mata Aluna membulat, namun akal sehatnya lebih dulu muncul, sebelum ia bertindak bodoh. "Oke, aku ambil tas dulu." Aluna melangkah dan masuk ke dalam mobil dengan tenang, sementara Raka menghubungi seseorang melalui ponselnya dengan raut wajah panik, karena dari kejauhan terdengar suara sirine mobil polisi, yang sedang mengejar. Melihat kelengahan Raka, sudut bibir Aluna terangkat. Ia menutup pintu mobil, lalu melajukan dengan cepat. "Sial! Mau kemana kau?" teriak Raka, yang lalu mengejar Aluna dengan motornya. Sesekali ia memukul badan mobil, memaksa gadis itu untuk berhenti. Aluna tertawa lepas. "Aku tidak takut!" teriaknya. "Kau tidak akan bisa membunuhku!" "Siapa bilang?" balas Raka. Ia lalu mengeluarkan pistol peredam miliknya, mengarah ke wajah Aluna. "Bersiaplah!" desisnya. Aluna menatap ngeri. "Tembak saja!" ucapnya, sembari menyipitkan mata. Sejujurnya ia begitu takut, namun gengsi yang terlalu tinggi membuatnya tetap berkeras untuk menantang Raka, meskipun kedua tangannya gemetar. Raka menelan saliva dengan susah payah. Ia memang terlatih dan terbiasa melenyapkan nyawa seseorang, tetapi tidak sembarangan. Aluna bukan targetnya, gadis itu hanyalah saksi, yang tentunya akan membahayakan dirinya. Bisa saja ia melenyapkan saat itu juga, tetapi entah kenapa jauh disudut hatinya merasa berat. Ciuman dalam bilik itu sudah membuat pikirannya kacau. Raka tersentak ketika Aluna tiba-tiba menghentikan mobilnya. Ia sudah terlanjur melewati gadis itu. Dari kaca spion ia melihat seseorang tengah berdiri menghadang, tepat di depan mobil Aluna, sembari mengarahkan pistol, sementara dua orang lainnya berdiri siaga, di depan mobil yang menghadang Aluna. "Sial!" desis Raka. "Dia milikku!" Sementara itu, Aluna terlihat keluar dari mobil sembari mengangkat kedua tangannya, dengan wajah yang pucat pasi. "Ikut kami!" "Kalian siapa?" tanya Aluna, memberanikan diri. Tanpa bicara, pria itu memberi kode pada kedua temannya untuk segera meringkus Aluna dan membawanya masuk ke dalam mobil. "Cepat! Polisi sudah dekat." Aluna tersentak. "Kalian teman Raka?" tanyanya. "Aku ti–" Aluna tidak sanggup melanjutkan ucapannya, karena mereka berhasil membungkam dan memaksanya masuk ke dalam mobil. Namun suara erangan membuat kedua pria yang meringkus Aluna seketika menghentikan aksinya. "Bro!" teriak kedua pria itu, yang lalu berlari mendekat, saat rekannya terjatuh dengan luka tembak pada bagian perutnya. "Ayo ikut aku!" titah Raka, sembari menarik lengan Aluna dari dalam mobil para pria itu. "Cepat!" bentaknya. Keduanya berlari dan cepat, pergi dengan mengendarai motor Raka, di iringi teriakan marah dari para pria itu. "Mobilku gimana?" tanya Aluna, kebingungan. Raka hanya berdehem pelan. Ia tetap fokus menatap jalanan, sementara di belakang mereka terlihat dua mobil polisi yang sedang mengejar. "Raka, kita dikejar polisi!" teriak Aluna, panik. "Bisakah kau lebih cepat lagi? Aku tidak mau ditangkap karena mu!" Raka tetap diam, namun ia menambah kecepatan motor sembari meliuk-meliuk, melewati beberapa kendaraan lain, yang menyahut dengan suara klakson, juga teriakan dan makian. "Raka, aku takut!" teriak Aluna. "Pegangan!" sahut Raka. Dan ia tercekat ketika merasakan kehangatan tubuh Aluna yang menempel erat padanya, dengan kedua tangan yang melingkari pinggang. Gadis itu memeluknya tanpa canggung, membuat konsentrasi Raka seketika terpecah dan nyaris menabrak kendaraan lain. Beruntung Raka mampu menguasai diri dan kini mereka pun berhasil menghilang dan lolos dari kejaran polisi. *** "Bangun!" bentak Raka, saat menyadari Aluna masih memeluknya, meskipun motor telah berhenti. Aluna tersentak kaget. Cepat ia melepas pelukan lalu turun dari motor Raka. "Dimana ini?" tanya Aluna, sembari menatap kagum bangunan rumah besar dengan taman yang luas dan cukup asri. "Kita sudah di tempat yang aman," jawab Raka. "Masuk lah!" Masih kebingungan karena kesadaran yang belum pulih, Aluna melangkah masuk, mengikuti Raka. "Bu, tolong buatkan minum," ucap Raka, pada seorang wanita paruh baya, yang menyambut kedatangannya. "Baik, Den." Wanita itu segera pergi untuk menjalankan tugasnya. "Tunggu dan tetap diam disini!" titah Raka, yang kini masuk ke salah satu ruangan dan menutup pintunya. Aluna duduk termenung, memikirkan nasibnya. Sedari pagi sampai sore hidupnya masih tenang dan nyaman, namun malam ini terasa mencekam. Dan detik ini ia tengah bersama dengan seorang pembunuh, yang menjadi buronan polisi. Disaat kesadarannya telah kembali, Aluna mengirim pesan pada Nadya dan membatalkan jadwal podcast. Beruntung ia menyimpan ponsel dan sedikit uang di dalam sakunya, tetapi dompet dan surat-surat penting lainnya di dalam tas, tertinggal di mobil. Ia mengumpat dalam hati, karena kini ia terlibat dengan Raka. "Berikan padaku!" Aluna tersentak ketika tiba-tiba Raka merampas ponselnya. "Itu ponsel ku!" ucap Aluna, geram. "Kau cuma boleh tinggal, tapi bukan untuk bermain ponsel di rumah ini!" ucap Raka, dingin. "Aku tidak pernah menginginkan untuk tinggal disini, Tuan Jahat! Kau yang memaksaku untuk ikut!" Raka mencebik. "Ikut aku!" titahnya, yang lalu melangkah masuk ke ruang makan. Aluna hanya diam memerhatikannya. "Kau dengar, tidak? Cepat kesini!" bentak Raka, namun Aluna justru membuang muka ke arah luar sembari menyandarkan tubuhnya dengan tenang. Merasa di acuhkan, Raka melangkah mendekati Aluna lalu menarik lengan gadis itu dengan gerakan cepat dan kasar. "Lepas! Kau menyakitiku!" Aluna berusaha keras untuk melepas cekalan tangan Raka, namun gagal. Tenaganya kalah jauh dengan sang buron yang berwajah sangat tampan itu. Raka memaksa Aluna untuk duduk di sampingnya, sementara dua orang maid terlihat sedang sibuk menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka berdua, setelah itu pergi dalam diam. "Makan!" "Apa gunanya kalau aku sebentar lagi lenyap di tanganmu?" sahut Aluna, sembari menatap Raka dengan pandangan yang sulit di artikan. "Apa alasanku untuk melenyapkanmu?" "Karena aku saksi," jawab Aluna. "Aku melihat semuanya di bilik itu." Raka terkekeh pelan. "Semuanya?" tanyanya, sinis sembari mengetatkan rahang. Itu berarti gadis itu adalah ancaman terbesar baginya. "Tentu saja, aku melihat semuanya!" tegas Aluna, berdusta. Entah kenapa ia tiba-tiba ingin memastikan dugaannya, karena sebenarnya ia tidak melihat kejadian yang sebenarnya. Raka menggeram pelan. Ia beranjak bangkit dari duduknya lalu menarik Aluna dengan kasar, mengajaknya untuk berdiri. "Aduh!" pekik Aluna. "Kau ini kenapa sih? Demen banget nyakitin." Tanpa bicara Raka menarik tubuh Aluna, membawanya masuk ke ruang kosong di bawah tangga. Ruang selebar kamar dengan pencahayaan yang remang-remang dan tanpa jendela atau ventilasi. Lantai ruang itu beralas karpet merah. Tidak ada furniture atau pun tempat tidur. Hanya ada satu bangku kayu, dengan tali yang tergeletak di bawahnya. Perasaan Aluna seketika tidak nyaman. Apakah hidupnya akan berakhir hari ini? "Bersiaplah!" desis Raka, yang serta merta mengeluarkan senjata api dari balik jaketnya. Tubuh Aluna seketika lemas. Wajah dan tubuhnya tiba-tiba basah karena keringat dingin. "K–kau akan melakukannya sekarang?" tanya Aluna. Raka berdiri diam, menatap tajam pada Aluna, tanpa berniat untuk menjawab. Tangannya yang memegang senjata api terangkat perlahan dan mengarahkannya tepat di depan wajah gadis yang mulai terlihat ketakutan itu. "Tiga ...!" Raka mulai menghitung mundur. "Tunggu!" pekik Aluna sembari mengangkat satu tangannya. "A–apakah kau tidak ingin menutup mata dan mulutku terlebih dahulu? Rasanya terlalu ngeri jika mataku terbuka begini." "Dua ...!" Raka tetap melanjutkan hitungannya. "Ah, t–tunggu dulu, aku belum sempat menulis pesan terakhir untuk keluarga, teman dan siapapun yang mengenalku!" Aluna masih berusaha untuk mengulur waktu. Sejujurnya ia masih belum siap untuk mati saat ini. "Cerewet!" bentak Raka. "Tutup matamu! Semuanya akan segera berakhir. Ini hanya sakit di awal, selebihnya kau tidak akan merasa apa pun!" "Tentu saja! Orang mati mana bisa merasakan sakit?" sahut Aluna, dengan suara bergetar. Ia menatap ngeri saat melihat jari Raka bergerak perlahan, bersiap untuk menarik pelatuk. "Sa ...." "Stop!" teriak Aluna. "A–aku haus, boleh minum dulu? Sejak ciuman itu sampai sekarang bibirku terasa pahit dan kering," ucapnya. Raka memutar bola matanya malas. Sejenak ia berpikir, sembari terus menatap Aluna, terlebih pada wajah cantik dan bibir ranum gadis itu. Ia cukup terpengaruh dengan ucapan Aluna, dan bayangan tentang ciuman panas itu kini melintas begitu saja, membuat jantungnya berdebar kencang. "See?" ucap Aluna. "Kau juga merasakan itu, bukan?" tanyanya, sembari mendekat pada Raka, berniat untuk merampas pistol dari tangan pemuda itu. "Jangan lancang!" bentak Raka, ia menepis tangan Aluna, namun tanpa sengaja ia menarik pelatuk. Suara letusan terdengar. Semuanya gelap. Tubuh Aluna luruh dan terbaring lemah di lantai. "Tidak!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN