Siang itu aku memilih mengurung diri di kamar untuk menyusun daftar pertanyaan nanti malam. Dari jendela aku melihat Albert dan Ron memacu kuda keluar dengan cepat. Begitu kembali ke lingkup kastil, udara dingin kembali menyergap. Aku ingin merasakan kehangatan matahari seperti pagi tadi.
"Penta!" Panggilan seiring ketukan pintu terdengar. Suara Ruben. Aku selalu menyukai Ruben karena ia tidak pernah tersingung dengan segala keketusanku.
"Masuk!" seruku masih sibuk menulis. Ruben masuk membawa nampan makan siang dan buku.
"Dua santapan tubuh. Untuk otak dan perutmu. Sebaiknya baca ini sebelum makan malam dimulai," saran Ruben dengan sabar.
"Pernahkah dirimu rindu peradaban?" tanyaku. Ruben terdiam sesaat. Ia akhirnya memilih duduk dan memainkan rantai kompasnya yang menggantung dari saku ke saku satunya.
"Untuk mengurangi beban nanti malam, aku akan mengungkapkan cerita ini," ucap Ruben dengan raut berubah lembut.
"Penta, aku dan ibumu bertunangan dan hampir menikah." Baru kali ini aku merasakan bulu kuduk merinding kembali setelah bertahun-tahun tidak pernah terjadi.
"Esther dan diriku akan menikah di bulan Oktober. Sayang, Esther mengalami sesuatu di luar dugaan. Kelahiranmu membawa Esther pergi untuk selamanya," Ruben menceritakan tanpa raut sedih ataupun duka. Hanya mata penuh kerinduan yang kulihat.
"Esther menitipkan dirimu padaku. Ibumu percaya bahwa tidak ada satupun kekuatanmu yang diciptakan untuk tujuan buruk. Aku mulai percaya itu dan akan terus percaya."
Ruben mengakhiri cerita dan bangun berdiri. Entah kenapa, aku merasakan dorongan hebat untuk memeluknya. Ruben dan aku memiliki ikatan yang sama, Esther!
***
Makan malam kali ini terhidang berbagai menu lezat dibandingkan malam sebelumnya. Dari salmon panggang hingga daging gulung asap. Semua terlihat menggoda.
Kali pertama aku memiliki teman makan malam sebanyak ini. Wolf terlihat bersemangat dan mempersilahkan semua untuk bersantap segera.
"Bennet! Kehilangan selera makan kamu?" tanya Albert sembari memindahkan potongan daging gulung ke piringnya.
"Tidak, Al. Aku baik-baik aja," tukasku. Guru matematika berambut coklat gelap itu mengangguk lega.
"Kamu membaca buku?" tanya Hugo melihat buku catatanku di samping piring.
"Buku diariku. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan," jawabku. Hugo tersenyum.
"Pasti banyak pertanyaan yang ingin kamu ajukan selama kejadian siang tadi," timpal Wolf yang jarang sekali bicara. Aku mengangguk.
"Mungkin kamu bisa mengajukan sekarang. Sementara menikmati hidangan penutup," cetus Ruben sembari menyendok caramel flan yang menjadi kesukaanku.
Aku menebar pandangan ke sekeliling dan meminta persetujuan. Kelimanya tampak tidak keberatan.
"Pertama, aku ingin mengucapkan terima kasih atas kesetiaan dan ketulusan membesarkan diriku hingga detik ini."
Masing-masing mengurai senyum hangat. Aku membuka buku dan mengurutkan tangan mencari daftar pertama.
"Ada tiga pertanyaan dari keseluruhan. Aku mencoba tidak terlalu cerewet dan menahan diri untuk tidak mengulik lebih jauh," ucapku dengan hati-hati.
"Pertama, kenapa kalian kunci kekuatanku. Kedua, bisakah kalian mengajariku untuk bisa mengontrol kekuatan? Terakhir, siapakah kalian sebenarnya? Kenapa ada beberapa kalimat yang terlontar dari Ron dan Ruben yang mengandung mantra?"
Dari sekian pertanyaan, mereka cukup tersentak dengan pertanyaan terakhir.
"Hugo, bisakah kamu menjawab untuk bagian yang pertama?" tanya Ruben.
"Well, alasan kenapa kami mengunci untuk menjaga supaya dirimu tidak menyakiti yang lain. Kedua, Osirus akan lebih mudah melacak dirimu. Aku yakin mereka memiliki pelacak hebat untuk mengenali kekuatan yang tanpa sengaja terlepas dari tubuhmu. Jadi, Ron dan Ruben memutuskan meredam seluruh kekuatan intimu. Bahkan dirumah ini tidak ada yang bisa menggunakan kekuatan sedikitpun." Hugo mengakhiri penjelasannya. Aku menunggu hingga mereka mengijinkan untuk bertanya.
"Kau sepertinya tidak sabar melemparkan pertanyaan, Bennet!" seru Ron.
"Hanya ingin tau, apa saja kekuatan yang kumiliki? Kenapa terdengar begitu menakutkan ...," ucapku dengan tidak yakin. Ruben mengangguk dan merapatkan tangannya di meja.
"Pentagram, kekuatan yag kamu miliki sesuai dengan nama yang kamu miliki. Lima kekuatan dengan empat elemen esensial bumi dan satu elemen spirit atau roh. Kamu ingat empat elemen bumi?"
"Ya, tanah, air, udara dan api." Aku menjawab dengan sigap.
"Ya, dan salah satu empat elemen esensial memenuhi persyaratan untuk membuka gerbang Osiris, sedangkan satu elemenmu bisa menghubungkan dengan dewa kematian tersebut," lanjut Ruben. Aku mengernyitkan kening dengan heran.
"Aku keuntungannya membangkitkan dewa kematian? Kebodohan apa yang menguasai pagan Osirus itu? Sungguh tidak masuk akal sama sekali!" timpalku dengan wajah tidak percaya. Ron tergelak.
"Sudah kukatakan, Bennet akan setuju dengan pendapatku mengenai kebodohan para manusia pandir itu!" seru Ron penuh semangat.
"Untuk kita yang memahami tidak ada hal menguntungkan dengan menyembah iblis j*****m, ya itu terlihat bodoh. Tapi para dewa yang Magna Patris ciptakan untuk menjadi penghukum manusia, mungkin memiliki cara yang jauh lebih menjanjikan daripada menuju kemulian Sang Agung, Pencipta kita," imbuh Wolf dengan suara tenang. Aku hanya menggelengkan kepala dengan kegeraman terpendam.
"Seiring dengan lima kekuatan tersebut, dirimu juga memiliki panca indera yang tajam. Itulah kenapa tidak ada yang berani tinggal bersamamu di dalam kastil karena suatu waktu akan tiba masanya kamu mengetahui dan mungkin tidak sebaik ini penerimaannya." Hugo menjelaskan dengan jelas semua pertanyaan yang berkelana di benakku selama bertahun-tahun.
"Tidak ada kekecewaan, kesedihan dan juga kerinduan. Hanya rasa terkejut karena ternyata aku bukan manusia biasa." Mataku mungkin terlihat hampa dan tidak memiliki ekspresi.
"Kekuatan yang kami kunci dalam dirimu juga mematikan rasa empati dan simpati. Kurasa ini saatnya engkau mendapatkan kekuatan sepenuhnya. Ruben dan Ron akan membantu melepas, melatih juga mengendalikan semua elemen yang ada dalam dirimu. Empat belas tahun sudah usiamu. Ini saat yang tepat," ujar Hugo dengan wajah serius.
"Apakah ini menjelaskan juga jika Ruben dan Ron bukan manusia biasa?" tanyaku pada Hugo. Dokter yang selalu menjagaku berkedip pertanda iya.
"Ruben seorang Sorcerer. Sejenis penyihir yang bisa menguasai berbagai ilmu sihir atau multidisiplin. Sorcerer bisa dibilang penyihir yang menguasai cabang keilmuan sihir yang berbeda-beda. Tidak hanya itu, sorcerer juga bisa menggunakan sihirnya tanpa merapalkan mantra atau dengan kata lain menggunakan tenaga dalam."
Aku tercenggang menatap guru sejarah yang selama ini terlihat tenang dan penuh kharisma.
"Ron adalah seorang Alchemist. Ia memiliki kekuatan supernatural untuk memanipulasi objek di sekitarnya, umumnya benda mati. Tidak hanya itu, Ron juga mempunyai kemampuan untuk membuat ramuan atau benda-benda ajaib. Itulah sebabnya, Kimia dan Fisika menjadi favoritnya," terang Albert dengan lantang dan terlihat kagum akan Ron. Aku mencoba mengatur napas dengan baik.
"Bagaimana kalian bertiga?" Aku berpaling dan menatap satu persatu guru juga dokter yang masih belum aku ketahui kejelasannya.
"Albert, Hugo dan aku adalah manusia biasa. Kami tidak memiliki kelebihan kecuali otak yang sedikit lebih cerdas dibandingkan mereka," sahut Wolf kali ini sangat diluar kebiasaannya untuk membuat kelakar.
"Bersiaplah untuk menerima semua mulai besok," seru Ruben dan menunjuk ke dinding waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Istirahat dan segarkan tubuhmu. Besok akan menjadi hari yang berat dan sibuk!"
Dengan patuh aku mengangguk. Sebelum menaiki tangga menuju atas, aku berpaling.
"Terima kasih. Makan malam yang menyenangkan," ucapku pada semuanya. Ruben kembali mengangguk dan tersenyum hangat. Kakiku menaiki tangga dan tiba-tiba timbul rasa khawatir.
"Apakah kalian akan tidur disini? Selamanya? Denganku?" Aku tahu itu terdengar kekanakan dan konyol. Tapi aku butuh mendengarnya. Serentak mereka menjawab.
"Yes, Bennet. We're your protector!" seru Ron.
Senyumku terkembang dan kakiku kembali menaiki anak tangga dengan semangat.