Betrayal

1233 Kata
Karena Leane gegabah mengambil langkah, maka kami terpaksa melakukan lompatan jarak. Entah apakah berhasil atau tidak, namun yang nampak di hadapan kami saat ini sesuai dengan visual Leane yang dia berikan padaku. "Kita sudah sampai!" seru Leane. Pria yang terluka itu tampak mulai pulih. Herbal yang Leane berikan tampaknya memberi dampak baik. "Lukamu sudah sembuh ...," desis Ed takjub karena dia yang mengendong pria tersebut. "Ya, terima kasih," jawab pria itu dengan logat inggris kaku. "Siapa namamu?" tanya Reese sambil mengulurkan tangan. "Aku Reese," sambungnya sambil menyebutkan nama. Pria itu menyambut dengan kikuk. "Xiang Chen Li. Panggil aku Chen," sahut pria itu dengan badan dibungkukkan sedikit dan tangan bertaut terkepal. Suatu cara perkenalan yang aneh namun aku menyukainya. Ada nilai sopan dan kesantunannya nampak jelas. Kami memperkenalkan diri masing-masing. Chen yang berkepala botak itu menyambut dengan hangat perkenalan kami. "Kalian pasti sudah berilmu tinggi sampai bisa menyeberangi lautan," puji Chen yang tampak tidak heran. Flint menepuk pundak Chen dengan hangat. "Di antara kami ada penyihir handal. Sebetulnya, kami ada kepentingan untuk segera tiba di sini. Jadi menempuh jarak dengan cara sihir adalah satu-satunya cara," balas Flint. Chen tersenyum dan berpaling pada Leane. "Terima kasih juga telah menyelamatkan nyawaku. Jika aku tetap menjadi tawanan dan tiba di istana, habislah aku," ucap Chen dengan haru. Aku terperanjat. "Kenapa kamu justru takut kembali ke istana? Bukankah dirimu adalah tentara Tibet?" selidikku. Leane terlihat jauh lebih penasaran. "Benar, tapi tentara yang dimaksud adalah karena aku salah satu biarawan senior, bukan tentara pejuang yang memegang s*****a," tukas Chen dengan cepat. "Kamu tentara biara?!" seru Ed. Chen mengangguk dengan cepat. "Lalu apa yang membuat kamu menjadi utusan perwakilan ke Inggris?" tanya Flint. "Aku hanya mendampingi. Utusan sesungguhnya sudah bunuh diri. Kami tidak ingin menjadi kaki tangan Dalai Lama busuk itu lagi!" sanggah Chen terlihat geram. Semua terhenyak, termasuk aku. Kami melirik pada Leane yang mematung. "Kira cari tempat aman dulu, di sini sangat dingin dan tidak ada tempat berteduh," ajak Reese dengan cepat, sebelum Chen melanjutkan cerita yang lebih mengejutkan. Kami menuju ke lereng gunung yang ditumbuhi rumput dan juga batu-batu yang lebih besar. Akhirnya, kami menemukan gua yang tidak begitu dalam dan segera berteduh dari salju. Ed memberikan jaket hangat yang lebih tebal pada masing-masing. Aku sudah merasakan tanganku kebas dan tidak ada rasa. Seharusnya aku menggunakan kekuatanku, tapi hingga detik ini masih belum juga percaya diri. Ada keraguan apakah itu penting atau tidak. Reese datang bersama Chen dengan kumpulan ranting. Aku mengayunkan tanganku memutar dan membuat tumpukan ranting berkali lipat. Chen tampak terkesima. Kemudian Reese menjentikkan jari dan mulai membakar tumpukan ranting. Chen memekik kecil dengan bahasa daerahnya. Leane tersenyum dan menimpali dengan bahasa yang sama. Mendadak wajah Chen pias. "Kamu pentagram?" tanya Chen. Aku mengangguk. "Salah besar kalian datang! Jangan sampai Dalai Lama mencium keberadaan kalian! Dia akan membunuh dan mengambil kekuatanmu!" seru Chen menatapku tajam. Aku terperanjat. "Jangan memberi keterangan konyol, Chen!" bentak Leane. "Aku tidak berbohong! Alasanku menolak mendukungnya adalah karena ambisi dia sangat k**i. Semua pastor dan pendeta juga umat kristen dibunuh. Demi kokohnya kekuasaan, dia mempengaruhi semua biarawan tapi aku tidak mempercayai begitu saja!" bantah Chen. Leane tampak terpukul. Chen kemudian menceritakan kesaksiannya yang mendengar langsung dari mulut gurunya yang dibantai karena menentang Dalai Lama. Pada saat sebelum menjemput ajal, gurunya mengatakan untuk berhati-hati karena Dalai Lama bermaksud mengambil semua kekuatan pentagram untuk dirinya sendiri. "Itulah sebabnya dia menyelamatkan Thema lalu mengurung gadis malang tersebut. Termasuk mengirim beberapa utusan untuk mencari pentagram yang ada di Inggris!" Chen mengakhiri ceritanya dengan mata penuh duka. "Itukah alasan Thema mengutus keluargaku? Karena ia didesak oleh Dalai Lama?" tanya Leane dengan wajah kecewa. Aku bisa melihat dengan jelas matanya berkaca-kaca. "Sepertinya itu benar Leane, maaf, tapi kamu dan keluargamu diperalat demi tujuan tidak baik," timpal Ed tampak prihatin.  Leane menutup wajahnya dan menangis. Flint menunduk dan merasa bersalah karena telah menuduh Leane sebelumnya. Reese lebih tenang dan merengkuh pundak Leane. "Kini kita sudah mengetahui cerita sesungguhnya. Permintaan Ms. Anna untuk menyelamatkan Thema dan membunuh Dalai Lama adalah informasi yang benar. Kita tidak pernah menduga ini sebelumnya," ungkap Reese dengan sendu. "Aku hanya tidak pernah menyangka akan dibohongi oleh seseorang yang kami junjung sebagai pemimpin. Dalai Lama menampilkan citra diri yang bijak, tidak terbersit jika dia adalah manusia k**i yang ssesungguhnya," isak Leane penuh sesal. "Bagaimana nasib kedua orang tuaku? Apakah mereka akan aman? Jika sekarang aku berada pada pihak Bennet, ada kemungkinan pasukan Dalai Lama akan mencoba membunuh mereka," sambung Leane terlihat ketakutan. "Bennet, bisakah kamu mengirim telepati pada Ruben?" tanya Ed tiba-tiba. "Entahlah, aku belum pernah mencoba. Menurut kalian Ruben selamat atas serangan Osirus malam itu?" tanyaku. Kini mendadak bayangan horor malam tersebut menyeruak. Ed dan Flint saling berpandangan dengan wajah cemas. "Kita bahkan tidak pernah membahas tentang mereka selama perjalanan. Semua kita tinggalkan tanpa beban." Reese mengucapkan kalimatnya dengan wajah tertekan. "Cobalah," pinta Ed. "Sebaiknya salah satu dari kalian menciptakan anti deteksi sihir. Jika Dalai Lama mengetahui sihir yang dikeluarkan oleh seorang pentagram berada dekat dalam jangkauannya, maka akan sangat berbahaya," saran Chen dengan bijak. "Terima kasih atas sarannya, Chen," ucap Leane dengan penuh syukur. "Ya, aku rasa itu ide yang bagus," sambut Ed. Aku mengangguk dan mulai bersiap mengirimkan telepati. Pikiranku tertuju penuh pada Ruben. Mataku terpejam dan mencoba meraih bayangan wajah Ruben hingga terbentuk sempurna dalam kepalaku. Selang beberapa menit, aku berhasil dan mulai mengirimkan pesan. Menit pertama aku tidak mendapatkan reaksi apa pun. Aku bisa merasakan, ya merasakan, perlindungan Ed yang mencoba mengantisipasi sihir yang kami lakukan terdeteksi oleh Dalai Lama. 'Bennet, kau yang memanggilku?' Suara Ruben bergema dalam kepalaku. 'Ruben! Kau selamat!' 'Ya, Puji Tuhan kami semua selamat malam itu. Tidak ada korban, hanya beberapa murid dan guru terluka!' 'Astaga! Maafkan kami harus pergi. Wester menahan kami di menara doa dan ....' 'Tidak apa-apa, itu tujuan yang memang Wester rencanakan! Dia menyelamatkan kalian dan syukurlah berhasil' 'Sungguh? Aku tidak menyangka Wester sebaik itu! Bagaimana kabar Les Chester?' 'Aman,  jangan khawatir. Lakukan perjalananmu sebaik-baiknya, dan kembalilah dengan selamat!' 'Ya Ruben,  kami berjanji akan menjaga diri dengan baik' 'Aku harus pergi' "Lindungi orangtua Leane, tolong' 'Baik. Aku akan mengirim Ron' 'Selamat berjuang Ruben' Tidak ada lagi jawaban darinya. Aku tiba-tiba merasa lelah dan rapuh. Aku merindukan Ruben dan keempat guruku. Tiba-tiba aku menangis seperti perempuan! "Bennet ...," panggil Reese dengan pelan. Ed membuka mata dan menatapku dengan penuh duka. "Semua selamat," cetusku sambil mengusap air mata. Flint dan Leane menghela napas lega. "Orang tuamu akan Ron jemput dan mungkin bergabung dengan kelima guruku," sambungku menyusut ingus tangis. "Terima kasih. Maafkan aku menyusahkan kalian dengan tidak berterus terang," sesal Leane. "Tentang apa?" tanya Ed dengan cepat. "Dalai Lama memerintahkan untuk secepatnya mengirim dirimu ke istananya. Aku tidak sadar jika itu berkaitan dengan tujuan jahatnya," jawab Leane. "Belum terlambat untuk mengetahui. Jadi kita aman," hibur Flint akhirnya mengerti sikap Leane selama ini. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyaku. Semua berpaling pada Chen yang mengambil sikap meditasi. "Istirahatlah. Besok mungkin kita harus bergerak cepat menyelamatkan Thema dari kungkungan Dalai Lama," jawab Chen dengan tenang. Pria yang kutaksir berusia empat puluhan tersebut terlihat lebih baik dari sebelumnya. Kami mengikuti saran Chen dan Ed mulai melakukan sihir dan menyediakan beberapa keperluan untuk tidur kami malam ini. Kasur dan selimut hangat. Malam mulai merangkak semakin larut. Udara semakin dingin dan membuat kami saling merapatkan diri satu sama lain. Kami beristirahat dan mencoba mengusir rasa gelisah dan resah yang menekan hati kami masing-masing. Semoga besok lebih baik, harapku. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN