Part 14 - Pertemuan Kembali

1503 Kata
Sebelum lanjut membaca, pastikan kalian sudah tap tanda love dan follow akun aku ya :)   ***   Dirga menghentikan motornya di depan sebuah gedung dengan pintu masuk yang terbuat dari kaca sehingga Dirga juga bisa melihat ke dalamnya. Dia pun membuka helmnya dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dilihatnya kembali alamat yang diberikan oleh sang adik melalui pesan w******p. “Benar ini kan alamatnya?” Dirga menolehkan kepalanya ke gedung tersebut untuk sesaat lalu mengembalikan pandangannya ke layar ponselnya. “Dira nggak share location sih, cuma kasih alamat saja. Kan lebih enak kalau dia share  lokasinya. Jadi nggak ngira-ngira sampai tanya-tanya orang di jalan kayak tadi,” gerutu Dirga. “Mas Dirga!” seru Dira sambil berlari keluar melewati pintu kaca. “Dira! Untung Mas Dirga benar berhenti di sini,” celetuk Dirga seraya memberikan helm lainnya pada Dira. “Mas Dirga emang hebat! Sudah hafal jalanan Jakarta ya,” puji Dira seraya mengenakan helm yang diberikan oleh Dirga di kepalanya. Namun, Dirga menampik hal tersebut. “Hafal apanya sih, Ra. Hampir nyasar tadi karena salah belok. Untung Mas tanya-tanya sama orang di jalan.” “Hehehe … tapi seenggaknya udah nyampe kan ya, Mas,” kekeh Dira. “Ya sudah cepat naik, kita pulang sekarang!” perintah Dirga. Menuruti perintah sang kakak, Dira langsung menginjak pijakan di motor lalu naik dan duduk di jok belakang motor Dirga. Tanpa mereka berdua ketahui, sepasang mata dari seorang pemuda yang mengagumi Dira memperhatikan mereka dari dalam gedung. Pintu masuk yang terbuat dari kaca membuat pemuda itu bisa dengan mudah melihat motor Dirga yang dilajukan pergi dari sana. “Ternyata dia sudah punya pacar ya,” gumam Revan, pemilik sepasang mata barusan. Awalnya tadi Dirga memang mengatakan jika mereka akan langsung pulang ke rumah. Namun, di tengah perjalanan Dirga membelokkan motornya ke jalan yang tidak Dira kenal. “Mas, mau kemana kita?” tanya Dira. “Mampir dulu sebentar ya, Ra. Ada urusan sebentar di kedai kopi yang lagi tahap renovasi,” jawab Dirga. Jantung Dira berdenyut nyeri secara tiba-tiba. Jika Dirga akan ke kedai kopi, itu artinya ada kemungkinan Satya juga berada di sana. Dira tidak ingin bertatap muka dengan pemuda itu, atau nanti rasa bersalah kembali menyelimuti seluruh hatinya. “Mas, bisa antar Dira pulang dulu nggak? Nanti Mas Dirga balik lagi sendiri,” pinta gadis imut itu. “Bolak-balik dong kalau gitu, Ra. Sebentar saja deh, kamu nggak usah masuk ke dalam kalau takut bertemu dengan Satya.” Meski bibir Dirga berkata demikian tetapi hatinya berharap jika Dira dan Satya akan bertemu di kedai kopi nanti. “Beneran Mas Dirga nggak mau pulangin aku dulu ke rumah?” tanya gadis itu lagi. Hatinya benar-benar tidak siap jika harus bertemu dengan mantan kekasihnya itu. “Maaf ya, Ra. Sebentar saja ya,” bujuk Dirga. Pada akhirnya Dira pun mengalah dan menuruti kemauan sang kakak. Dengan segera dia menyiapkan hatinya agar tidak merasa sakit atau merasa bersalah jika nanti dia dan Satya akan tetap bertemu meski sudah berusaha menghindar. Sepanjang perjalanan Dirga seringkali melirik ke kaca spion, melihat sang adik yang memasang raut wajah tegang dan tidak lagi mengeluarkan sepatah kata pun. Bukan dia ingin membuat sang adik merasa tertekan, tidak juga ingin memaksa adiknya membuka kembali hatinya untuk Satya, Dirga hanya mau adiknya itu melupakan segala yang sudah terjadi sebelumnya, memulai segala kehidupan barunya tanpa mengingat-ingat lagi segala sesuatu yang selalu membuatnya merasa bersalah di masa lalu. Dira harus bisa menapakkan kakinya dan melewati segala kerikil trauma dan masa lalu agar dia bisa mendapatkan kebahagiaan di masa depannya. Sampailah mereka ke sebuah ruko dua lantai yang saat ini sedang ada beberapa orang tukang yang melakukan renovasi di tempat tersebut. Dirga menurunkan standar motornya, lalu dia dan juga Dira bergegas turun dari motor tersebut. “Kamu mau tunggu di sini atau ikut Mas masuk ke dalam?” Dirga menawarkan pilihan pada adiknya itu. Dira melemparkan pandangannya ke sekitar, tidak ada tanda-tanda keberadaan motor Satya terparkir di teras ruko. Lalu diubah arah pandangnya ke bangunan ruko yang ada di hadapannya. Pandangan matanya kemudian berusaha menembus dinding menerka-nerka apakah Satya berada di dalam sana atau tidak. “Gimana, Ra?” suara Dirga memecah konsentrasi Dira. “Dira tunggu di sini saja deh, Mas. Jangan lama-lama ya,” jawab Dira. “Ya sudah kalau begitu,” balas Satya yang tidak mungkin memaksa sang adik. Disangkutkan helm yang tadi digunakan oleh Dirga di kaca spion motornya. Dilangkahkan kakinya masuk ke dalam ruko membiarkan Dira berdiri di samping motor menunggunya. Sambil menunggu sang kakak, Dira memainkan ponsel pintarnya sambil sedikit menyandarkan bo-kongnya di motor. Keinginan dalam hatinya untuk bisa mendengarkan lagi lagu yang dinyanyikan oleh Satya membuatnya membuka channel dari Furizu Band. Dira menyambungkan wireless earphone ke ponselnya lalu memasangnya ke kedua telinga. Dengan begitu dia bisa lebih jelas mendengar alunan musik langsung ke telinganya tanpa harus terganggu oleh suara gaduh dari para pekerja dan juga bising dari kendaraan bermotor. Alunan musik yang terdengar di telinga Dira membuat gadis itu memejamkan kedua matanya. Dia pun bisa lebih menghayati lagi lirik dan makna yang tersirat dalam lagu tersebut. Bulir air mata kembali terjatuh dari sudut mata Dira. Tentu dengan sigap Dira menyekanya dan tidak membiarkan ada orang yang melihatnya. Matanya masih terpejam, chorus dalam lagu tersebut seolah meneriakkan isi hati yang lama terpendam dan sangat pedih. Saat lagu tersebut selesai, Dira membuka kedua matanya yang terpejam secara perlahan. “Satya …,” lirih Dira dengan kedua mata yang terbelalak mendapati pemuda yang dia panggil namanya itu kini berdiri di hadapannya dengan tatapan matanya yang sendu. Jemari Satya menyeka air mata yang masih tersisa di wajah Dira. “Kamu kenapa nangis, Ra?” tanyanya kemudian. Dira memalingkan wajahnya lalu menjawab, “Nggak apa-apa.” Tersadar jika dia tidak bisa lagi menyentuh wajah gadis di hadapannya ini, Satya mengepalkan tangannya dan menariknya kembali ke samping tubuhnya. “Jangan nangis, Ra. Aku nggak bisa lihat kamu sedih kayak gitu,” pinta Satya dengan lirih. Segala perasaan cinta yang masih tersimpan rapi dalam hatinya sudah siap membludak. Dira memilih bungkam. Dia juga masih tidak mau melihat ke wajah Satya. Dia sudah mengubur dalam-dalam segala perasaan yang mungkin membuatnya mencintai pemuda itu. Dira juga sudah mengubur perasaan yang dulu tersisa untuk orang yang sudah lama tiada. Saat ini dia benar-benar ingin terbebas dari trauma dan juga segala rasa bersalah. “Dira! Maaf, Mas Dirga lama ya!” seruan dari Dirga membuat Dira bisa bernafas dengan lega. Langkah Dirga melambat saat melihat kehadiran Satya di dekat Dira. Namun, Dirga tetap menyapa pemuda yang kini juga menjadi rekan bisnisnya. “Sat, kamu baru datang?” Satya menjawab, “Iya, Mas. Baru banget datang terus lihat Dira di sini.” “Tadi Mas sudah lihat-lihat ke dalam. Sekarang Mas Dirga pamit pulang dulu ya,” ucap Dirga. “Mas, aku boleh ngobrol sama Dira sebentar ya,” pinta Satya. Tatapan matanya juga penuh harap pada Dira agar gadis itu bersedia meluangkan sedikit waktu untuknya. Namun, dengan tegas Dira melayangkan penolakannya. “Nggak ada yang harus dibicarain lagi antara kita, Sat. Anggap saja pertemuan ini juga tidak pernah terjadi. Sudah yuk, Mas. Kita segera pulang!” Bahkan kalimat penolakan Dira benar-benar menusuk ke hati Satya. “Ra, tunggu dulu!” Satya menahan pergelangan tangan Dira agar gadis itu tidak menjauh darinya. “Sebentar saja, Ra. Lima menit saja. Aku kangen sama kamu, Ra,” ungkap pemuda itu. Bahkan bisa terlihat dari raut wajahnya jika pemuda itu sudah memendam kerinduan pada Dira sampai tampak ingin menangis. “Maaf, Sat. Aku sudah tidak mau terlibat apapun denganmu.” Dira terpaksa menyingkirkan tangan Satya. “Mas, ayo kita pulang!” Dira kemudian mengajak sang kakak untuk segera pergi dari sana. “Ra, tapi ….” Satya berusaha meraih tangan Dira lagi. Namun, kemudian Dirga menghentikannya. “Sat, biar Dira nanti Mas Dirga yang urus ya,” ucap Dirga seraya menahan tangan Satya. Pada akhirnya Satya tidak lagi bisa berkutik. Dia hanya bisa menuruti perintah dari Dirga dan mempercayakan Dira pada pemuda itu. Kini Satya hanya bisa melihat sepasang kakak dan adik itu berlalu dari pandangannya dengan motor yang mereka naiki. Hati Satya masih cukup terguncang dengan penolakan langsung yang disampaikan oleh Dira barusan. Dipegang dadanya yang sebelah kiri, jantungnya berdegup cepat dan terasa nyeri jika mengingat lagi penolakan Dira. “Bagaimana caranya aku harus meyakinkan kamu kalau aku sangat merindukanmu, Ra. Gimana caranya agar kamu mau memaafkan segala kesalahan yang aku tidak tahu sebenarnya apa. Aku masih sangat mencintaimu, Ra,” lirih Satya pada Dira yang sudah tak terlihat lagi sosoknya. Betapa Satya ingin sekali bercengkerama dengan gadis yang masih memenuhi hatinya itu. Satya pun akan sangat bersedia jika harus mengulang kisah cintanya meski harus menyakitkan. Sayangnya Dira sudah benar-benar ingin melupakan Satya dan tidak mau mengingat sedikit pun masa lalu mereka yang menurut Dira sangatlah membuatnya menjalani hubungan dalam rasa bersalah.   ____________________   Guys, jangan lupa sertakan #cintaSatyaDira di komentar kalian ya, karena aku akan memilih pembaca beruntung dengan komentar terbanyak dan juga yang paling menarik setiap minggunya hehehe …. Pastikan juga kalian follow akun media sosialku; FB : Aya Warsita IG : aya_ayawars
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN