“Ibu ini sudah tua. Pingin sekali melihat kamu naik haji. Sana jual saja sawah, buat naik haji. Tidak usah ajak istri mu, kamu pergi saja sendiri. Semua kakak-kakak mu sudah umrah dan haji, hanya kamu dan istri mu yang belum mau. Ibu ini mumpung masih hidup pingin lihat kamu haji.” Percakapan antara anak dan ibunya masih terus berlangsung. Arga memilih untuk mendengarkan segala keluhan yang disampaikan ibunya. Apa yang dilakukan ibunya mungkin sudah dibatas tidak tahan menyimpan uneg-uneg di dalam batinnya. Ia berharap ibunya bisa lega setelah mengeluarkan ganjalan di hatinya. Selama ini Arga tahu jika ibunya orang yang diam dan tak akan pernah menegur anak menantunya. Jika sudah keterlaluan ia lebih memilih berbicara dengan putranya. Biar sang putra menasehati istrinya. “Nanti, kalau

