Bab 16 : Pelarian di Balik Bayang Gunung

2520 Kata
Di dalam gua yang terletak di sisi selatan lembah, di setiap sudutnya basah oleh tetesan air yang terus menerus menetes dari langit-langit bebatuan. Udara di dalam gua terasa pengap, dengan bau yang menyengat dari keringat bercampur dengan darah serta ketakutan yang mencekam, seakan menambah rasa tertekan bagi 350 jiwa pengungsi desa yang kini bersembunyi di sana. Beberapa di antara mereka meringkuk di sudut-sudut gelap yang hanya sedikit menyisakan ruang, anak-anak menangis pelan dengan ketakutan yang sulit mereka pahami sepenuhnya, sementara para perempuan berdoa dengan lirih, berharap adanya mukjizat atau keselamatan yang akan datang dari tempat penantian ini. Sementara itu, prajurit yang tersisa berjaga di pintu masuk gua dengan tombak yang sudah patah, menandakan perlawanan yang tak pernah berakhir. Di tengah-tengah gua yang gelap dan suram ini, sebuah api unggun kecil menyala dengan redup seakan berjuang untuk tidak padam, menerangi wajah Sengkala yang pucat pasi. Demamnya sangat tinggi dan luka di bahunya sudah bernanah dengan warna hijau yang mengerikan, namun tangannya tetap menggenggam erat 'Giris Pawaka' seolah itu adalah jangkar terakhir yang menjadi satu-satunya harapan bagi mereka. Desa mereka kini hanya tersisa puing-puing—lumbung di desa bahkan dibakar oleh mereka sendiri agar tidak dapat dirampas oleh tangan musuh yang kejam—sementara dua kubu Purwawisesa dan Wikramawardhana saat ini tidak henti-hentinya memburu para penyintas. “Srintil, bagaimana laporan dari mata-mata?” tanya Sengkala dengan suara serak dan lemah, hampir menghilang di antara gemuruh hujan yang tak pernah berhenti menghempas di luar gua. Srintil yang berlutut di dekat api unggun, mengusap lumpur yang menutupi wajahnya dengan penuh perjuangan. “Purwawisesa sangat marah, Mas. Setelah kita membakar puing-puing desa, mereka tidak menemukan apa-apa seperti yang diharapkan. Adipati Kertabhumi mengatakan kau melarikan diri ke selatan dengan 'keris wahyu'. Sekarang mereka sudah membagi laskar: 300 orang menuju gunung di selatan, dan 200 orang lainnya bergerak ke timur untuk memblokir jalur Wikramawardhana.” Lurah yang sedang meringis kesakitan karena luka di kakinya yang dibalut dengan rumput sebagai obat, mendesak. “Berapa stok makanan yang kita punya, Ki Jaka?” Ki Jaka segera menghitung kantong-kantong yang telah basah. “Tiga hari, Mas. Ubi basah hanya separuh yang tersisa, dan beras sudah menjadi lembek. Kami bisa mendapatkan air dari tetesan gua yang ada di sini, tapi jika kita bertahan selama dua minggu… wabah sampar bisa menyebar.” Suradipa, prajurit paling tua dan terkenal paling tangguh, mengangkat tombak dengan teguh. “Wikramawardhana juga sudah bergerak. Utusan mereka tadi pagi bilang 'damai'—namun mata-mata kami melihat ada sekitar 400 prajurit bersembunyi di hutan bagian barat. Mereka berencana mengambil alih gua ini sebagai benteng di selatan.” Sengkala tarbatuk lalu mengeluarkan darah, namun tatapannya tetap tajam penuh tekad. “Dua kubu mengejar kita seperti serigala yang berebut bangkai. Kita tak mempunyai pilihan lain: lari lebih dalam ke selatan malam ini. Gunung memang curam, tapi ada jalur lama dan kecil menuju desa di pedalaman—melewati air terjun yang agak tersembunyi.” Dewi Laras, yang sedang merawat luka putranya, protes dengan getir. “Le, kau tidak bisa berjalan dengan kondisi seperti ini! Biarkan Suradipa memimpin evakuasi, dan kau seharusnya beristirahat.” “Bu, kalau saya tinggal di sini, mereka akan membakar gua ini untuk mencari 'wahyu'," jawab Sengkala dengan suara lemah namun tegas. “Saya harus memimpin… setidaknya sampai kita mencapai tempat yang lebih aman.” Mpu Wira, yang rebah di atas tikar jerami dengan tubuh yang lemah berkata dengan suara berbisik. “Le… bakar lontar catatanmu kalau kondisi terjepit. Jangan pernah biarkan rahasianya jatuh ke tangan yang salah.” Sengkala mengangguk pelan, menatap tumpukan lontar basah di pangkuannya—sebuah kisah kronik amuk Majapahit dari sudut pandang seorang empu kecil yang berani. Siang perlahan beranjak menjadi sore. Diadakan rapat darurat di dalam gua: Sengkala membagi tugas dengan penuh strategi. “Perempuan dan anak-anak harus bergerak duluan—50 orang akan dipimpin oleh Mbok Sari. Prioritaskan untuk membawa makanan. Para prajurit harus dibagi menjadi dua: 20 orang berjaga di belakang untuk menghapus jejak, dan 20 orang menjadi penjaga di flank untuk melindungi rombongan. Srintil memimpin sebagai mata-mata di depan. Kami akan bergerak pada jam 10 malam, semoga hujan akan menutupi bunyi langkah kaki kita.” Seorang ibu pengungsi yang memegang bayi yang sedang demam mengeluarkan suara jeritan melebihi gemuruh hujan. “Kita pasti mati di gunung! Anakku sudah sakit sampar!” Sengkala berlutut di depannya dengan penuh simpati. “Ibu, di sini juga kita terancam. Gua ini adalah jebakan. Di selatan ada desa yang aman—dengan air bersih dan ramuan herbal. Kita harus bertahan demi keselamatan anak ibu.” Tanpa banyak bicara lagi, sang ibu itu mengangguk pelan, memeluk bayinya dengan lebih erat, seolah kekuatan kasih sayang mampu memberinya semangat untuk terus bertahan. Malam tiba, hujan kembali turun dengan deras dan membasahi segala sudut yang ada. Evakuasi dimulai: barisan panjang menyusuri hutan yang gelap, hanya diterangi oleh obor-obor yang redup dan ditutup dengan kain basah agar tidak terlihat musuh. Sengkala dipapah oleh Suradipa di bagian tengah barisan, dengan 'Giris Pawaka' yang tetap terpaut di dadanya, seolah menjadi simbol harapan terakhir. Tiga jam perjalanan berlalu, tiba-tiba Srintil berlari kembali dengan wajah panik. “Mas! Mata-mata melihat cahaya obor di belakang—dipimpin oleh 50 prajurit Wikramawardhana! Mereka tahu rute kita!” Kekacauan dan kepanikan merebak dengan cepat. Lurah mendesak dan tidak ada pilihan. “Kita akan perang sekarang?!” Namun Sengkala dengan cepat memutuskan dengan tegas. “Tidak, belah barisan menjadi dua: separuh lanjut ke selatan, separuh sembunyi di celah batu. Kita tarik mereka masuk ke jebakan yang kita siapkan di pohon tumbang.” Barisan segera bergerak terpisah. Sengkala memilih untuk bersembunyi dalam kelompok kecil dengan 30 prajurit di celah batu yang sempit. Hujan menutupi suara langkah, namun derap kuda mulai terdengar mendekat. Para prajurit Wikramawardhana—dipimpin oleh Raden Wijaya—mendekat dengan pelan sambil mencari jejak. “Ikuti jejak lumpur ke selatan!” teriak salah satu prajurit yang berhasil melihat jejak mereka. Raden Wijaya menghentikan kuda. “Tunggu sebentar... saya mendengar ada suara di celah itu.” Sengkala berbisik singkat: “Sekarang waktunya!” Di pojok batu yang runtuh—jebakan Sengkala yang dinanti! Batu dan duri runtuh menghantam kuda-kuda, membuat 10 prajurit terjatuh dengan keras. Sengkala melompat keluar, dengan 'Giris Pawaka' berhasil menjatuhkan dua musuh dalam sekali serang. Duel sengit dengan Raden Wijaya menghadirkan pertarungan antara pedang melawan keris. “Kenapa kau menolak tawaran damai kami!” bentak Raden dengan penuh amarah. “Sekarang saatnya kau mati!” 'Clang!' Sengkala menghindari serangan, lalu menusuk lengan Raden. “Damai yang buruk! Pergi sekarang atau kau mati di sini!” Raden lalu terhuyung jatuh dari kuda, prajuritnya panik dan lari ke tengah hujan yang semakin mencekam. Sengkala mengejar mereka sebentar, namun demam yang tinggi membuatnya terjatuh berlutut dengan tubuh yang lemah. Kelompok yang tersisa akhirnya bisa bergabung kembali. Dewi Laras merawat Sengkala dengan penuh kasih sayang. “Le, kau sudah hampir mati tiga kali hari ini!” “Bu… kita berhasil menyelamatkan 300 nyawa,” bisiknya dengan lembut dan penuh kehormatan. Srintil segera datang untuk melapor: “Selatan aman, Mas. Tapi Purwawisesa mengirim pemburu khusus—20 pemburu elit mencari 'keris wahyu’. Mereka tahu kau sedang lemah.” Ki Jaka menggeleng dengan penuh kecemasan. “Ke mana kita akan pergi sekarang?” Sengkala menatap gunung yang gelap dan tak terduga. “Ke air terjun tersembunyi. Di sana... akhir dari cerita panjang ini akan dimulai.” Pelarian terus berlanjut, pemburu elit mengintai di setiap langkah, rahasia lontar makin terancam. Ketegangan semakin mencekam dan cerita ini belum menemukan titik akhir yang aman. *** Hutan pedalaman di wilayah selatan Majapahit malam itu terasa begitu gelap gulita, membuat siapapun yang melintas di sana harus berhadapan dengan suasana yang sangat menakutkan dan menyeramkan. Pohon-pohon beringin raksasa dan pohon-pohon jati yang tinggi menjulang seolah-olah berdiri seperti penjaga kuno yang tidak menunjukkan keramahan sedikit pun terhadap siapapun yang berani mendekat. Akar-akarnya yang tebal dan kuat melingkar di permukaan tanah yang berlumpur menyerupai ular besar yang siap menerkam musuh yang lengah. Barisan pengungsi dari desa yang jumlahnya kini tinggal 280 jiwa—setelah kehilangan 20 orang di gua dan di medan pertempuran—bergerak perlahan-lahan di bawah hujan deras yang tidak ada henti-hentinya, membuat setiap jejak langkah kaki mereka nyaris tak terdengar, terserap dalam gemuruh suara air terjun yang berada jauh di depan mereka. Udara terasa pengap dan sesak dengan bau lumut basah bercampur dengan aroma keringat dari para pengungsi yang dipenuhi dengan kecemasan, sementara kabut menelisik di sekeliling mereka seperti kain kafan yang hidup, membangkitkan suasana penuh dengan ketidakpastian dan misteri. Di tengah-tengah barisan, terlihat Sengkala yang kondisi tubuhnya dibopong oleh Suradipa karena demam tinggi yang membuat tubuhnya panas dan lemas, luka pada bahu Sengkala terlihat membusuk dan mengeluarkan cairan hijau yang berbau busuk, tetapi tidak membuat semangatnya melemah, sementara 'Giris Pawaka', keris pusaka yang dianggap sebagai jimat terakhir mereka, tergenggam erat di d**a Sengkala. "Berapa lama lagi hingga kita bisa mencapai air terjun?" tanya Sengkala dengan suara yang serak pada Srintil, yang memimpin barisan di depan. Srintil, yang sinjang hitamnya basah kuyup dan robek di beberapa bagian, menatap kompas terbuat dari lontar di tangannya dan berkata, "Sekitar satu jam lagi, Mas. Jalurnya memang licin, namun di balik air terjun ini ada gua tersembunyi yang aman—di sana ada air bersih dan gua itu begitu dalam sehingga tidak bisa terlihat dari luar." Kemudian, datang Lurah yang berjalan pincang sambil membawa tombak yang patah, datang dari belakang. "Mas, saya mendengar ada suara anjing pemburu lagi! Mereka datang dengan membawa 20 prajurit elit Purwawisesa—mereka tangguh, berbadan besar, membawa anjing k*****t dan obor yang tahan terhadap hujan!" Ki Jaka, yang sibuk mengurus anaknya yang sedang demam di tengah barisan, berteriak pelan dengan perasaan cemas. "Anakku kembali demam, Mas! Samparnya kambuh lagi!" Dewi Laras, yang membantu Mbok Sari mengangkat periuk berisi obat, segera menenangkan. “Tenang saja Jaka! Tempelkan daun sirih basah di dadanya, dan rebus jahe ketika kita tiba di air terjun. Bertahan dulu, kita sedikit lagi sampai!” Meskipun lemah, Sengkala dengan tegas memberi perintah. “Pisahkan barisan ini! 50 orang yang bergerak lambat—perempuan, anak-anak, dan mereka yang terluka—pergi ke jalur cabang kiri dan bersembunyi di semak-semak. Sisanya harus mempercepat langkah. Suradipa, ajak sepuluh prajurit untuk menutup barisan belakang—kita akan menjebak para pemburu di tanjakan yang curam!” Suradipa mengangguk, matanya menunjukkan tekad yang berapi-api. “Siap, Mas. Mereka tidak akan melewati kami!” Barisan segera terbelah dalam kesunyian, sementara hujan terus menerpa wajah-wajah mereka seperti cambuk. Sengkala yang dibopong Suradipa bergerak lebih cepat, meskipun napasnya terdengar tersengal. Tiba-tiba, gonggongan anjing menggema menggelegar dari arah belakang—pemburu elit Purwawisesa semakin mendekat! “Gosong! Mereka bergerak cepat!” Lurah berteriak dengan panik. Suara para prajurit elit menggema: “Cari empu! Keris wahyu ada di sana!” Suradipa memimpin sepuluh prajurit untuk mundur ke tanjakan yang curam, menjebak mereka dengan menggunakan akar pohon yang longgar dan tanah lumpur yang licin. “Hadang! Jangan biarkan mereka lewat!” Pertempuran kecil pun pecah: elit Purwawisesa, yang terdiri dari dua puluh pria dengan fisik atletis, mengenakan armor yang terbuat dari kulit yang ringan, dilengkapi dengan keris pendek dan cambuk berusaha menyerang dari belakang. Anjing k*****t mereka menggigit kaki-kaki prajurit desa dengan ganas. Suradipa berhasil menusuk salah satu elit dan berteriak dengan lantang: “Untuk desa!” Namun, jumlah prajurit desa kalah: lima prajurit desa gugur dengan cepat, dan Suradipa pun menderita luka d**a yang cukup dalam. Pimpinan elit, seorang lelaki dengan tato ular di lengannya yang dikenal sebagai Ki Ular, mengejek dengan nada sinis: “Mana empu kalian? Keris wahyu tidak akan menyelamatkan kalian kali ini!” Sengkala yang mendengar suara jeritan dari depan, segera memberikan perintah: “Semua, lari! Jangan ada yang kembali!” Barisan utama akhirnya mencapai kawasan air terjun yang gemuruhnya memekakkan telinga—di baliknya terdapat gua tersembunyi, dan pintu masuk gua itu ditutupi oleh lumut yang tebal. Mereka bergerak masuk, sedangkan Srintil menutup pintu dari batu yang didorong dari dalam gua. Hujan deras dari luar menutupi semua suara mereka. Di dalam gua, mereka dapat bernapas lega meskipun sejenak. Sebuah api unggun dinyalakan, dan anak-anak kecil yang rewel dirawat dengan baik. Dewi Laras merawat Sengkala yang sempat kehilangan kesadaran sebentar. “Le! Bangun! Ada kabar dari Suradipa.” Lurah masuk dengan terengah-engah, membawa Suradipa dalam kondisi luka parah. “Ada lima yang selamat, Mas! Suradipa... dia sempat berkata ‘lindungi empu’ sebelum dia pingsan.” Sengkala memaksakan diri untuk bangkit, menatap semua orang. “Untuk sementara kita masih aman. Gua ini cukup tersembunyi untuk seminggu. Bagikan makanan dengan bijaksana dan obati semua luka. Srintil, keluar dan lakukan pengintaian di luar—cek posisi Wikramawardhana.” Srintil mengangguk dan segera pergi. Malam itu di dalam gua, ketegangan terasa meningkat: terdengar jeritan samar dari luar—elit Purwawisesa masih mencari mereka. Ki Ular kembali berteriak dari luar: “Keluar, empu! Wahyu itu milik Purwawisesa!” Seorang anak menjerit ketakutan. Mbok Sari memeluk erat. “Tenang, Nak. Mereka tidak bisa masuk ke sini.” Keesokan paginya, Srintil kembali dengan wajah pucat pasi. “Mas, Wikramawardhana telah mengirim 200 prajurit untuk memblokir bagian selatan. Sementara Purwawisesa datang dengan 400 prajurit dari timur. Mereka tidak berniat merampok lagi—mereka mengincar kita semua. Mereka mengatakan lontar yang Anda bawa berisi ‘peta rahasia menuju takhta’.” Sengkala menatap lontar yang basah di tangannya—itu hanyalah cerita tentang amuk, bukan peta seperti yang mereka kira. “Saat fajar besok, kita akan membagi diri menjadi tiga kelompok: satu pergi ke barat menuju pantai, satu lagi ke timur seolah-olah membawa rampasan, dan aku beserta 20 prajurit lainnya akan menarik agresi para pemburu ke utara.” Dewi Laras berteriak dengan penuh emosi. “Tidak! Kau pasti tewas!” “Ini satu-satunya jalan. Biarkan mereka mengejarku, biar yang lain selamat.” Sengkala menatap semua orang. “Siapa yang bersedia ikut menarik agresi bersama saya?” Suradipa, meski lukanya parah, bangkit dan berkata, “Saya, Mas.” Lurah, Srintil, dan delapan belas lainnya turut bergabung. Malam itu, mereka menyusun rencana matang: umpan palsu berupa keris, serta jebakan terakhir di tanjakan yang strategis. Saat fajar menyingsing, suara pemburu Ki Ular mendekati gua. Sengkala keluar, lalu mengangkat tinggi 'Giris Pawaka'. “Kemari kalau mau mengambil wahyu?!” Ki Ular tertawa sinis. “Kau lemah, empu! Serahkan saja!” Pertarungan terakhir terjadi: Sengkala menghadapi Ki Ular, sementara prajurit desa melakukan serangan dari sisi samping. 'Clang!' Suara nyaring terdengar ketika keris memotong cambuk, dan menusuk bahu Ki Ular. Namun, para elit mengerubungi mereka—Sengkala akhirnya tertangkap, dan 'Giris Pawaka' berhasil direbut. “Wahyu kini milik kami!” teriak Ki Ular dengan penuh kemenangan. Tapi jebakan dari pasukan Sengkala aktif: batu yang dipasang runtuh dan memblokir jalan, memberi kesempatan bagi prajurit desa untuk melarikan diri dengan selamat. Sengkala dibawa sebagai tahanan, namun lontar yang menjadi kunci utama tetap disembunyikan oleh Dewi Laras. Di kamp Purwawisesa, Adipati Kertabhumi menatap Sengkala yang masih terikat dengan erat. “Ceritakan rahasia keris itu, atau kau akan hadapi kematian yang perlahan dan menyakitkan.” Sengkala tersenyum dengan penuh arti. “Rahasia? Keruntuhan Majapahit disebabkan oleh kepicikan kalian sendiri—bukan oleh sebatang besi.” Ketegangan mencapai klimaksnya: Sengkala menjadi tahanan, sementara para pengungsi desa yang selamat terpecah belah, dan kelompok pemburu yang dipimpin oleh Wikramawardhana berlomba mengejar Purwawisesa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN