Usia Sengkala kini memasuki rentang 26 hingga 30 tahun, sebuah periode yang penuh dinamika dalam kehidupannya sehingga ia telah menjelma menjadi seorang mantri pangalasan yang handal. Kedua tangannya telah terlibat dalam menempa ratusan bilah s*****a demi mengharumkan nama besar Majapahit. Tubuhnya kini kekar dan berotot, penuh dengan bekas luka kecil hasil dari percikan api dan besi panas yang ia hadapi setiap hari. Sementara itu, wajahnya terlihat semakin tegas dengan garis-garis pengalaman yang menorehkan kisahnya selama bertahun-tahun. Di pinggangnya selalu tergantung sebuah keris bersejarah bernama *Giris Pawaka*—keris pertamanya yang saat ini sudah penuh dengan kenangan dan cerita. Namun, di balik keahlian luar biasanya dalam seni pandai besi dan tempa, dunia Majapahit tidak lagi sama seperti dulu; banyak tantangan besar yang mengintai di balik kemegahan kerajaan. Wabah sampar atau pandemi yang menakutkan perlahan menggerogoti rakyat jelata, sementara perang saudara sering meletus secara sporadis di berbagai penjuru wilayah. Dua pangeran bersaudara, yakni Wikramawardhana dan Bhre Hyang Purwawisesa, telah memulai perebutan takhta secara terang-terangan setelah kematian dua figur besar yakni Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Istana Trowulan masih berdiri megah dan anggun, namun aura retak dan perpecahan mulai tercium di udara, membawa firasat tidak menyenangkan yang sukar diabaikan.
Pada suatu pagi yang seperti biasanya, bengkel Sengkala yang kini dijalankannya sendiri setelah Mpu Wira memutuskan untuk semi-pensiun, dipenuhi hiruk-pikuk oleh aktivitas enam muridnya. Api di dalam tungku tampak berwarna merah menyala, sementara suara denting palu yang bergema mengisi ruangan seakan menjadi irama genderang perang yang begitu keras dan intens. Sengkala mengawasi seorang murid bernama Lurah, yang kini sudah dewasa, sedang menempa tombak untuk pasukan Bhre Hyang Purwawisesa—pihak pemberontak yang mengklaim memiliki legitimasi dari garis keturunan melalui ibu. “Lurah, pamormu kurang merata! Itu tombak untuk medan perang, bukan hiasan upacara!” tegur Sengkala dengan suara tegas namun tetap terkendali. Tanpa ragu, ia mengambil alih palu dari tangan Lurah, memukul bilah sekali saja—*TANG!*—dan seketika itu pula permukaan bilah menjadi rata sempurna.
Lurah mengusap keningnya yang dibasahi keringat. “Maaf, Mas. Pesanan dari pihak Purwawisesa datang mendadak. Mereka mengatakan bahwa laskar mereka membutuhkan 50 bilah tombak besok,” ungkap Lurah dengan nada penuh penyesalan. Sengkala kemudian menghela napas panjang, lalu dengan tenang meletakkan palunya. “Aku mengerti situasinya. Namun, tetaplah diingat bahwa setiap bilah yang keluar dari bengkel ini membawa nama besar kita. Jika ada yang patah di tangan seorang prajurit yang berjuang demi keluarga kita, apa yang akan kau jawab nanti?”
Di sudut lain, seorang murid muda bernama Ki Jaka—adik dari sahabatnya Jaka—ikut merasa perlu berkomentar. “Mas Sengkala, mengapa kita menerima pesanan dari pihak pemberontak? Pihak Wikramawardhana juga datang memesan kemarin.” Mendengar pertanyaan ini, Sengkala menatap para muridnya yang terlihat bersemangat namun juga penuh tanda tanya, dengan api dari tungku yang tampak memantul di matanya. “Karena, jika kita menolak satu pihak, pihak lainnya akan mencurigai bahwa kita memihak musuh. Ingatlah, kita ini empu, bukan prajurit. Tapi...” Sengkala menambahkan dengan suara yang lebih pelan, “Aku sudah mengirimkan utusan rahasia kepada kedua kubu. Meminta mereka untuk berjanji bahwa s*****a-s*****a kita tidak akan digunakan untuk melawan saudara sendiri.”
Lurah terbengong mendengar jawaban tersebut. “Berani sekali, Mas. Lalu bagaimana jika sampai ketahuan?” tanyanya penuh rasa ingin tahu. “Maka kita akan menutup bengkel ini dan melarikan diri ke pedalaman,” jawab Sengkala setengah bercanda namun dengan mata yang tetap serius.
Tidak lama setelah pembicaraan itu, Dewi Laras datang membawa periuk yang berisi sayur genjong dan ikan asin, sementara Mpu Wira menyusul di belakangnya dengan menggunakan tongkat kayu karena lututnya mulai sakit karena faktor usia. “Sudahlah, bicarakan pekerjaan nanti saja. Sekarang waktunya makan. Sudah ada 20 nyawa yang diambil oleh wabah sampar di desa tetangga,” ucap Dewi Laras, mengajak semua orang untuk berkumpul untuk makan di tikar. Sambil menyantap makanan, Mpu Wira tiba-tiba bertanya, “Bagaimana dengan undangan dari istana yang datang kemarin, Le?”
Dengan santai, Sengkala menelan nasi yang baru saja disuapkan. “Pangeran Wikramawardhana menawarkan untuk menjadikan bengkel ini sebagai bengkel resmi dalam lingkungan istana. Gaji besar katanya, dan muridnya dari kalangan bangsawan. Namun begini, dia juga bilang 'bantu aku menang, dan kau akan aman selamanya',” jawab Sengkala menceritakan isi undangan yang diterimanya.
Mendengar itu, Dewi Laras langsung pucat pasi. “Jangan diterima, Le. Itu jebakan. Mereka berlomba merebut takhta seperti anjing kelaparan yang merebut tulang,” ujar Dewi Laras dengan nada khawatir. “Aku sudah menolaknya dengan sopan,” jawab Sengkala. “Mengatakan bahwa bengkel ini terlalu sibuk. Namun, pihak Purwawisesa tidak kalah licik, kemarin malam mereka mengirimkan ancaman halus: 'Kalau s*****a tidak datang tepat waktu, keluargamu dalam bahaya.'”
Mpu Wira tampak menggenggam tongkatnya lebih erat. “Ini sudah bukan tawaran pesanan biasa lagi. Mereka memaksa kita untuk memilih kubu mana yang akan kita dukung,” gumamnya penuh kecemasan.
Sengkala kemudian bangkit berdiri, memandangi murid-muridnya satu per satu. “Makanya malam ini aku berniat bertemu Jaka di pasar malam. Dia punya jalur yang menuju ke pesisir—mungkin ada potensi untuk jalan keluar dari masalah ini.”
Saat malam mulai menjelang, pasar malam Trowulan tetap ramai meski suasana di sekitarnya terasa tegang. Lentera tergantung di atas, para pedagang berteriak menjajakan ketupat lepet dan wedang ronde, namun para prajurit yang berpatroli tampak lebih banyak dari biasanya dengan mata mereka yang penuh kewaspadaan. Di suatu sudut yang gelap dekat warung pinang sirih, Sengkala akhirnya bertemu Jaka. “La! Berani sekali kau datang sendirian,” sapa Jaka, wajahnya terlihat kusut dan tubuhnya kurus akibat wabah yang melanda. “Aku sudah dengar bahwa bengkelmu kini diawasi oleh dua kubu, benar begitu?”
“Itu memang kenyataannya,” jawab Sengkala dengan suara pelan. “Mereka mengancam keluargaku. Apa kau mendengar kabar terbaru mengenai pesisir?”
Jaka mencondongkan tubuhnya mendekat. “Demak dan Tuban semakin kuat. Sultan baru di sana menolak upeti dan mengklaim bahwa Majapahit sudah lemah karena perang saudara yang berkepanjangan. Mereka menawarkan perlindungan kepada para adipati yang tetap netral—termasuk seorang empu seperti kau, La.”
Dahi Sengkala mengerut mendengar penjelasan ini. “Pergi ke pesisir dan meninggalkan tanah ini?” tanyanya ragu.
“Bukan meninggalkan, tetapi bertahan, La. Di sana terdapat pelabuhan yang aman, dan perdagangan rempah-rempah masih tetap berjalan. Tapi kau harus membuat pilihan: mengirimkan s*****a ke salah satu kubu, atau kabur diam-diam,” jelas Jaka.
Seorang prajurit tiba-tiba melintas di dekat mereka, dan obrolan pun terhenti sejenak. Setelah situasi aman kembali, Sengkala bertanya, “Aku tak ingin memihak kubu manapun. Adakah cara lain untuk tetap netral?”
Jaka hanya menggelengkan kepala pasrah. “Tak ada kata netral, La. Wikramawardhana menguasai pusat istana, sementara Purwawisesa menguasai laskar di timur. Mereka saling bunuh. Kau dengar tentang pertempuran sengit di Paregreg kemarin? Ratusan prajurit tewas, dan tombak dari bengkelmu telah digunakan oleh kedua pihak.”
Sengkala mengepal tangannya kuat-kuat. “Besok aku akan sabotase secara halus. Akan aku buat bilah yang kuat namun mudah tumpul jika digunakan. Setidaknya bisa membeli waktu keluargaku untuk melarikan diri jika diperlukan,” ucapnya dengan tekad yang bulat.
Jaka kemudian memeluk Sengkala. “Hati-hati, saudaraku. Jika rencana ini sampai terbongkar, kau bisa mati duluan,” ucap Jaka dengan nada penuh kekhawatiran.
Keesokan harinya, ketika Sengkala memoles pamor tombak pesanan dari Purwawisesa, seorang pengawal misterius datang. Pria bertopeng kain dan dengan suara serak itu berkata, “Mpu Sengkala, pangeranmu menunggu di hutan pinggir kota malam ini. Kau harus datang sendirian.”
Sengkala merasa curiga. Malam harinya, ia datang dengan membawa *Giris Pawaka* yang sudah siap siaga. Di bawah sebuah pohon beringin raksasa, dua sosok menunggu: mereka adalah perwakilan Wikramawardhana dan Purwawisesa. “Kau dipanggil karena bersikap netral,” kata perwakilan kakak. “Bantu kami, dan kau akan mendapatkan emas dan tanah.”
“Bantu adikku, dan kau akan mendapatkan gelar adipati,” sahut yang lain.
Sengkala tertawa mendengar tawaran itu. “Kalian rela saling membunuh dengan saudara sendiri, lalu meminta seorang empu untuk membantu? Aku menolak tawaran kalian. Senjataku hanya untuk membela tanah air, bukan tahta,” jawabnya dengan keras.
Mereka kemudian mengancam. “Pilih salah satu atau kau musnah selamanya.”
Sengkala menarik kerisnya, siap beradu nyawa. “Coba ambil sekarang jika kalian berani,” ucapnya menghadapi ancaman.
Sebuah pertarungan singkat pun terjadi: Sengkala berhasil melukai salah satu pengawal menyebabkan dia lari ke hutan. Ketika kembali ke bengkel saat fajar, seluruh keluarganya sudah siap untuk melarikan diri. “Kita ke pedalaman dulu, Bu. Sampai badai ini reda,” kata Sengkala pada keluarganya.
Di usia 30 tahunnya, Sengkala akhirnya membawa keluarganya kabur, menyimpan rahasia dan rencana kudeta yang akan mengguncang hidupnya selamanya. Walaupun bengkel harus ditinggalkan, namun *Giris Pawaka* tetap tergantung di pinggangnya, s*****a setia yang siap menghadapi tarian pengkhianat yang baru akan dimulai.