Andreas mengetuk-ngetukkan jari tangannya di atas meja, matanya terpejam, diingatnya kembali percakapannya dengan Wiranto kemarin. “Tu-an Andreas,” ucap Wiranto penuh penekanan, “Saya akan memberitahumu di mana Arini berada, tapi dengan satu sarat.” “Apa itu?” “Pertama lunasi semua administrasi biaya pengobatannya, kedua, biarkan Allea bekerja di perusahaan saya.” Sungguh, Andreas ingin memaki Wiranto, namun Andreas pikir, tak ada salahnya jika Allea bekerja di perusahaan ayah kandungnya sendiri. Sedangkan ia sendiri hanya menginginkan Arini, tetapi ia pun sekarang menyesal membiarkan Allea berada dalam genggaman pria tak bertanggung jawab. “Keputusan yang tepat, Andreas. Datanglah ke rumah sakit A dan Anda akan menemukan pasien bernama Arini di sana. Ingat, rahasiakan kesepakatan ini

