Berdebar Dadaku

1603 Kata

“Mas … mau lewat.” Aku berucap pelan karena menjaga suaraku agar Ayra tidak terbangun. Mas Satria bergeming, sama sekali dia tak bergerak mundur mapun menyamping. Pria itu masih saja tak melepas pandangannya dariku membuat aku menjadi salah tingkah sendiri. Dia juga tidak membalas perkataanku yang ingin melewatinya. Debaran di d**a kian terasa hanya saja rasanya tentu berbeda dengan debaran yang aku rasa saat menanti restu Ibu tadi. Tapi, tetap saja rasanya susah untuk digambarkan. Aku mengigit pelan bibir bawahku menahan desiran di d**a yang semakin terasa membuai. Aku menelan saliva saat wajah itu mendekat dan semakin dekat, aku bukanlah bocah kemarin sore yang tidak tau akan hal yang akan terjadi. Kami sepasang laki-laki dan perempuan dewasa yang punya sisi lain dari sebuah hasrat. M

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN