Aku memejamkan mata menikmati sensasi rasa yang tercipta. Aku tidak tau apa ini namanya, dan seperti apa aku menguraikannya. Rasa yang pernah ada dalam d**a, dulu. Apakah memang sebenarnya rasa itu tidak pernah pergi.
"Kamu sudah baikan?" tanyanya kemudian. Aku masih belum bisa bicara hanya mengangguk pelan. Tapi, aku yakin dia bisa mengartikannya.
"Mbak Rania …."
Dari luar ruangan aku mendengar ada seseorang yang memanggil namaku. Itu suara Ahmad security yang berjaga malam ini. Pijar cahaya juga nampak dari arah pintu, bergerak mendekat. Bersamaan dengan itu aku merasakan tubuh Mas Satria yang menjauh.
"Mbak … oh, Pak." Ahmad terlihat berhenti di dekat pintu saat melihat Mas Satria bersamaku.
"Kenapa gensetnya tidak dinyalakan?" tanya Mas Satria sambil berjalan ke arah depan mejaku.
"Iya, Pak Satria. Rudi sedang menyalakannya, mesinnya agak ngadat lama tidak digunakan," jelas Ahmad kemudian.
"Tapi, bisa kan?" tanya Mas Satria lagi.
"Biasanya bisa, Pak. Saya permisi tadi saya kepikiran Mbak Rania, saya kira sendiri." Setelah berpamitan Ahmad berbalik badan dan berjalan keluar ruangan.
'Alhamdulilah'
Tidak sampai semenit setelah Ahmad keluar lampu menyala. Melihat ruangan yang mulai terang, dadaku juga seketika terasa begitu lapang. Untuk sesaat aku masih mengatur napas dan juga perasaan.
"Terima kasih," ucapku kemudian pada Mas Satria. Paling tidak dengan keberadaanya tadi, aku merasa sedikit lebih baik.
"Tidak perlu, bukan buat kamu tapi, buat rasa kemanusiaan saja. Jangan mikir aneh-aneh." Baru saja terdengar enak di hati dan telinga, sekarang sudah ketus lagi.
"Iya," jawabku singkat.
"Sudah selesai?" tanyanya kemudian masih dengan nada ketus.
"Iya, Pak." Aku menjawab dengan mengangguk.
Mas Satria kemudian beranjak meninggalkan mejaku. Hanya saja aku merasa ada sesuatu. Tapi, apa aku sedang berpikir apa yang tidak pas.
"Tapi, Pak." Aku seketika teringat akan sesuatu. Pria itu menghentikan langkahnya saat mendengar panggilanku. Aku berdiri dari kursi dan berjalan menyusulnya.
"Apa lagi? Aku bilang itu kepedulian sesama manusia saja. Nggak usah di dramatisir atau berpikir aneh-aneh." Tanpa berbalik badan pria itu terus saja berbicara.
"Bukan, tapi, hp saya masih Bapak pegang," jawabku sesampainya di samping pria dengan kemeja biru langit itu.
"Apa lihat-lihat," bentaknya saat aku memajukan kepalaku demi melihat ekspresi wajahnya. "Nih."
Sekilas aku bisa melihat pipinya memerah seketika tadi. Pria itu buru-buru berjalan keluar setelah memberikan ponsel tanpa melihat ke arahku. Terlihat lucu meski sebenarnya sangat menyebalkan.
Aku kembali ke meja untuk merapikan berkas-berkas. Mengecek kembali laporan-laporan dan mematikan komputer setelahnya. Ruanganku sudah sepi, berbeda dengan divisi penagihan yang berada di lantai atas. Biasanya masih ada beberapa karyawan yang masih belum pulang.
Setelah memasukkan barang-barang ke dalam tas, aku segera beranjak keluar ruangan. Divisi operation dan Finance bahkan sudah kosong tidak ada seorangpun terlihat saat aku melewati ruangannya. Langkahku terhenti di dekat tangga, melihat ke arah ruangan Mas Satria. Pintu ruangannya terlihat terbuka.
"Ssttt."
"Astaghfirullah …." Dadaku berdegup kencang, karena kaget. Reflek aku menepuk lengan Roni yang sepertinya sengaja membuatku kaget. Pria berkulit putih itu justru tertawa dengan puasnya.
"Maaf, kamu sih. Malam-malam ngelamun, sendirian, dekat tangga pula," ucap Roni masih dengan sisa tawanya.
"Ga lucu," ucapku kesal lalu beranjak menuruni tangga.
"Maaf," ucap Roni lagi sambil membuntutiku.
"Nggak," jawabku sambil menuruni anak tangga.
"Aku traktir," bujuknya kemudian.
"Nggak."
"Maafin." Roni mendahului langkahku, yang akhirnya memaksa aku untuk berhenti.
"Iya iya," jawabku masih dengan manyun.
"Nggak ikhlas gitu." Roni menatapku dengan wajah melas.
"Iya, Pak Roni ... Iya." jawabku dengan memaksakan senyum.
"Aku anter?" tanya pria itu lagi.
"Nggak, dah … mau absen dulu." Aku kembali berjalan menuju ruangan absen, Roni mengikutiku.
"Sama Arya lagi?" tanya Roni saat kami masuk ke ruang absen.
"Nggak," jawabku sambil memasukkan jari ke mesin absen.
"Ish, nggak … nggak terus jawabnya dari tadi." Roni terlihat menggaruk kepalanya.
"Nggak, kan bawa motor sendiri," jawabku sambil berjalan ke luar ruangan.
"Loh, Pak Roni belum pulang." Aku dan Roni menoleh bersamaan ke arah suara. Cindy karyawan bagian customer service yang menyapa Roni. Gadis dengan rambut coklat itu berjalan mendekat ke tempat aku dan Roni.
"Ngapain malem-malem ke kantor?" tanyaku kemudian.
"Hp ketinggalan," jawab Cindy padaku. "Pak, anterin ke dalam, dong." Cindy mendekat ke arah Roni.
"Kan ada Ahmad, minta Ahmad temenin," tolak Roni kemudian.
"Bentar aja, Ahmad kan lagi jaga." Suara Cindy terdengar manja. Aku beranjak dan membiarkan keduanya.
"Ran …." Terdengar Roni memanggilku.
"Dah, anterin dulu. Aku pulang ya, d**a …." Aku melambaikan tangan sambil berjalan menuju ke arah parkir. Melihat Roni di tarik-tarik Cindy aku tertawa. Setauku Cindy memang menaruh rasa pada pria berkulit putih itu.
"Astaghfirullah."
"Jalan pake mata." Karena aku masih fokus pada Cindy dan Roni, tanpa sengaja aku menabrak Mas Satria.
Dia lagi, dia lagi, entahlah ada apa dengan hari ini. Mungkin juga akan tidak jauh beda dengan hari-hari berikutnya. Pria itu menatapku dingin.
"Maaf, saya jalan pakai kaki. Kan sakit kalau mata buat jalan," jawabku sekenanya.
"Kamu, ya."
"Mas jangan marah-marah terus kenapa." Aku sedikit mencembik sambil membalas tatapannya. Aku sudah cukup berdamai hari ini, tapi, dia seakan sengaja menguji kesabaranku.
"Mas? Aku atasan kamu." Pria itu terlihat melotot.
"Bodo, dah … ah. Capek tauk." Aku beranjak berjalan melewati Mas Satria. Kesabaranku sudah limit sepertinya. Bukan hanya capek badan, tapi, hati juga.
"Apa lagi, ish?" Aku menghentak kaki kesal saat tasku ditahannya. Aku berusaha menariknya tapi dia sepertinya lebih kuat memegangnya.
"Apaan sih, Mas!" Aku berbalik dengan perasaan yang kesal.
Lah …
Aku melihat dia melihatku tanpa ekspresi dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana. Tunggu … kalau tangannya di situ, berarti tasku?. Astaga, wajahku memerah seketika. Bukan dia yang menahan tasku. Tapi, sebuah motor yang terparkir di dekatku.
Buru-buru aku melepaskan tali tasku yang kecantol stang motor. Jangan tanya bagaimana perasaanku sekarang. Campur aduk seperti bubur ayam yang suka kusantap pagi-pagi.
"Eh … nyangkut, dasar motor nakal, nggak ada akhlak," celetukku sambil meringis dan memukul pelan ke badan motor. Wajahku terasa panas karena malu. Dasar motor tidak ada akhlak, bisa-bisanya ngerjain dan membuat aku malu seperti ini.
Terlihat Mas Satria hanya menghela napas dan bergeleng samar. Buru-buru aku kembali berbalik dan kemudian berjalan cepat ke arah motorku. Daripada semakin panjang urusannya nanti.
Baru saja aku naik ke atas motor, saat terasa ponselku bergetar. Terdengar suara panggilan ponsel dari dalam tas selempang yang aku kenakan. Paling mama yang menelepon, menanyakan keberadaanku.
Ternyata dugaanku salah, Kak Regina yang menelepon.
"Assalamualaikum," salamku setelah menggeser ke atas tombol hijau di layar.
"Waalaikumsalam, kamu dimana?" tanya kak Regina di ujung telepon.
"Masih di parkiran kantor, ini dah mau pulang. Titip apa?" tanyaku tanpa basa-basi karena sudah tau kebiasaan kakak perempuanku itu. Mendengarku Kak Regina langsung tertawa.
"Rey mau terang bulan coklat sama red velvet. Di tempat biasa ya, sekalian beliin buat mama sama Sisil," suruh Kak Regina kemudian.
"Rey apa emaknya?" sindirku kemudian, Kak Regina kembali tertawa.
"Kayak nggak tau aja, dah sana jangan lama-lama. Duitnya dah kakak transfer."
"Iya … kakak sayang, iya. Ya udah, Assalamualaikum." Aku memasukkan kembali ponsel ke dalam tas selepas mengakhiri panggilan dari Kak Regina.
.