Bagaimana ini? Haruskah sedekat itu dengan Sila?
Faris sangat gugup, untuk pertama kalinya dia harus menggendong seorang wanita yang sialnya itu bukan Tania, melainkan Sila. Wanita yang dia nikahi secara paksa dalam kondisi hamil anak laki-laki lain. Mau secantik apa pun Sila, tetap saja nilai bekas itu bagi Faris sangatlah rendah, buktinya dengan mudah Sila memberikan kehormatannya pada seorang pria yang belum menikahinya. Akan tetapi, di sana hanya ada Faris, tidak mungkin juga kalau perawat laki-laki yang menggendong Sila sampai ke toilet.
“Cepetan! Awas lo lama-lama!” bisik Faris setengah mengancam, ia pun menatap tajam wanita yang ada di gendongannya itu.
Perlahan Sila diturunkan, itu pun masih diawasi oleh perawat yang tadi berlari menemui Faris supaya tidak terjadi kesalahan yang fatal.
“Pak Faris jangan ditinggal, Bapak berdiri saja di situ dulu!” ucap perawat cerewet itu.
Lagi-lagi Faris menganga heran. “Berdiri di sini, liatin dia kencing?”
“Memangnya kenapa, Pak? Kan, Bu Sila itu istri anda,” balas perawat itu dengan nada menyebalkan. “Tolong perhatian sama istrinya, toh buat anaknya juga berdua!”
Sialan, Faris ingin sekali memaki dan merobek mulut perawat itu kalau tidak mempedulikan hukum. Mau tidak mau, Faris berdiri di dekat pintu dengan menutupnya sedikit, tubuhnya memang menghadap ke arah Sila, tetapi wajahnya berpaling. Samar-samar Faris mendengar rintihan dari dalam, matanya pun tertarik untuk melirik. Kening sempit Sila sontak dipenuhi buliran keringat dan kedua tangan wanita itu mencengkram lutut begitu kuat.
“Lo-lo kenapa?” tanya Faris takut, seumur hidup tidak pernah berada di situasi aneh itu.
Sila mendongak seraya menjawab. “Sa-sakit, Kak.”
“Sakit?” ulangnya lantas berjongkok, itu pun lututnya bergerak sendiri tanpa diperintah. Tampak jelas di depan mata Faris, yang mengalir bukan hanya air, melainkan ada tetesan darah. “Sus─”
“Kenapa, Pak?”
“Berdarah!” jawab Faris dengan nada tingginya, wajah laki-laki itu berubah pucat. Kalau sampai Sila keguguran, nyawanya akan menjadi taruhan. “Gimana?”
Perawat itu pun mendorong Faris menjauh dari sisi pintu, lalu memeriksanya. Setelah membantu Sila membasuh air, ia pun meminta Faris kembali menggendong Sila ke brankar.
“Jadi, Bu Sila bener-bener nggak bisa turun dulu, harus semua dilakukan dengan tidur karena mungkin efek benturannya cukup keras,” jelas perawat itu, seketika Faris bungkam karena ada kemungkinan kalau dibiarkan maka calon keponakannya itu akan tiada. “Pak Faris,” panggilnya.
“Iya?” Faris menegakkan punggungnya tanpa sadar melotot pada perawat itu.
“Saya akan mengambilkan pasien pampers sementara waktu, setelah itu saya ajarkan Pak Faris caranya ya supaya kalau pasien darurat butuh, Pak Faris bisa siaga membantu,” jelas perawat itu, Faris hanya bisa diam dengan wajah bingungnya, bukan hanya satu kesialan, tetapi banyak dan datang bergantian.
Disaat perawat itu memberikan contoh, Faris berulang kali memejamkan matanya atau mengalihkan pandangan ke luar. Bagaimana tidak, Sila itu wanita pertama yang dia gendong dan harus melihat sedetail itu pada bagian-bagian yang sensitif. Kalau Tania mengetahui hal itu, tentu amarah Tania akan semakin memuncak dan kemungkinan besar mereka benar-benar putus. Setelah perawat itu ke luar, Sila tampak canggung. Faris memang suaminya, tetapi hanya karena sebuah paksaan, tidak adil rasanya kalau laki-laki itu harus membantu sampai sejauh tadi.
“Aku masih bisa lakuin itu kok, Kak. Lagian, aku cuman dilarang turun aja, bukan bergerak di sini,” ucap Sila juga merasa tak nyaman, tubuhnya dilihat Rendi saja dalam kondisi tidak sadar, kalau dirinya sadar tentu tidak akan diizinkan.
“Ck! Lo selain sok polos, sok suci juga rupanya ... gue juga nggak mau sebenernya, tapi gimana lagi daripada bahaya. Anggep aja lo kayak kemarin-kemarin waktu b******u bareng Rendi, buka-bukaan nggak ada malu!” balas Faris sengit.
“Kak, aku sama mas Rendi itu─”
“Ya,ya,ya ... kalian ngelakuin itu karena saling cinta, kan? Apa pun alasannya, tetep aja munafik!” potong Faris enggan mendengarkan penjelasan Sila yang sebenarnya, cerita Rendi yang dia dengarkan dari Mia sudah lebih dari cukup untuk menilai wanita di depannya itu. “Udahlah, gue cuman bertugas, nggak usah baper!”
Sila merapatkan bibirnya, ia sudah menjelaskan semua pada keluarga Rendi, bahkan menunjukkan niat buruk Rendi yang didapatkannya dari bukti pesan laki-laki itu. Tetapi, mengubah sudut pandang orang lain ternyata tidak semudah itu, Faris tetap menganggapnya berkilah dan mengelak dari kabar yang ada, lalu pesan dari Rendi dianggap sebagai pembelaan agar Sila tidak disalahkan. Keluarga akan membela keluarganya, sedangkan di sana Sila hanyalah orang asing. Air matanya kembali menetes, tidak ada yang percaya padanya sekarang, termasuk orang tua angkatnya sendiri. Malam semakin merangkak naik, sedangkan Sila masih setia dengan matanya yang basah. Ia sedang terpuruk, tetapi tak satu pun orang mau mengerti atau setidaknya mendengar dia sebentar saja.
Tengah malam, saat seorang perawat datang memeriksa infusnya dan memberikan suntikan obat. Sila menahan tangan wanita berseragam biru itu seraya memohon.
“Tapi, ada suami anda, Bu,” ucap perawat itu.
Sila menggeleng pelan, lalu meletakkan jari telunjuknya ke depan mulut. “Tolong saya, Sus! Di-dia pasti capek sekali, kalau bangun bisa-bisa kepalanya sakit, saya khawatir dia justru jatuh sakit. Tolong ya, Sus, saya mohon!” pinta Sila lirih.
“Bagaimana kalau suami anda dan keluarga marah karena saya bantu?” Tampaknya, memang Mia meminta semua perawat di sana menyerahkan Sila pada Faris.
“Saya jamin mereka nggak akan marah ke Suster, sungguh!” jawab Sila benar-benar memohon, melihat itu membuat perawat muda tadi tidak tega, lalu membantu Sila mengganti pampers saat wanita itu buang air kecil. “Apa masih ada darahnya?”
“Tidak ada kok, Bu.”
“Syukurlah, Suster ... kalau boleh tau, sampe kapan ya saya pake ini?”
Perawat itu berpikir sejenak. “Kalau perut Bu Sila sudah tidak kram lagi, itu artinya luka di dalam sudah membaik. Sebenarnya, boleh turun, tapi sangat pelan dan hati-hati,” jelasnya.
Sila mengangguk paham, lalu mengizinkan perawat itu pergi. Wanita itu melirik ke arah Faris, lega rasanya karena laki-laki itu sudah terlelap sehingga tidak akan pernah tahu kalau tadi dirinya sempat berbicara dan meminta bantuan perawat muda itu. Sayangnya, beberapa detik dari itu, Faris membuka matanya perlahan, lalu menoleh pada Sila yang tidur membelakanginya. Faris tidak tidur, dia mendengar semua yang Sila katakan pada perawat itu meskipun berbisik, tiba-tiba saja hatinya merasa tidak tega. Ucapannya tadi pasti membuat Sila memutuskan untuk meminta tolong pada orang lain dan memastikan kapan dirinya sembuh.
“Lah, ngapain juga gue kasihan sama dia? Orang dia yang bikin gue ribet!” batin Faris memprotes dirinya sendiri, seakan tidak sejalan.
Untuk apa dia peduli? Bukankah, lebih baik kalau Sila bisa segera mandiri dan dibantu orang lain? Untuk apa juga dia harus merasa bersalah tidak jelas? Biar saja!
“Tapi, gimana kalau tuh cewek nekat karena takut sama lo?” batinnya kembali berbisik, Faris membuka matanya lebar-lebar, lalu bangkit dan menghampiri Sila, berdiri di hadapan wanita berwajah pucat itu.
“Ak-aku nggak manggil Kakak,” ucap Sila menggeleng ketakutan.