Anggi dan Luka menoleh ke arah yang ditunjuk sang tetangga. Sabian datang sambil berusaha tersenyum. Sayang, Anggi justru menggengam tangan Luka dengan erat. Jari-jemari mereka saling bertaut dengan kuat. "Aku datang untuk menjengukmu, Nggi." Sabian mengembuskan napas panjang. "Aku berusaha datang ke rumah sakit, tapi ruang rawat inap kamu dijaga dengan sangat ketat. Tidak semua orang boleh masuk," lanjut Sabian lalu meletakkan makanan kesukaan Anggi. "Terima kasih." Anggi tidak mau berbasa-basi dengan mantan kekasihnya itu. "Nggi, bisa kita bicara?" Sabian menatap penuh harap pada Anggi. Luka memilih menunduk dan menjaga sikap juga ucapannya. Sebagai laki-laki, ia tidak mau berbagi apa pun dengan orang lain. Apalagi masalah Anggi, Luka tidak main-main. Berani bikin masalah, rebut Angg

