Juna meninggalkan kantor polisi beserta Dewa yang sedang terpuruk, Juna masih ingat jelas, adiknya meneteskan air mata saat kakinya pertama kali melangkah untuk keluar dari tempat itu. Meski berat, Juna tetap melanjutkan langkahnya, sekarang yang menjadi tanggung jawabnya bukan hanya dewa, tapi juga ada Lili yang sedang menunggunya di rumah. Juna harus pandai membagi waktu, jangan sampai karena ia terlalu fokus pada Dewa, Lili sampai merasa terabaikan. Anggap saja ini adalah hukuman untuk Dewa agar pemuda itu merasakan efek jera, karena selama ini Dewa terlalu dimanja dengan kebebasan. Juna kembali ke rumah dengan wajah lelah, akan tetapi Lili menyambutnya dengan senyuman hangat. Setidaknya itu bisa sedikit menjadi obat untuk mereka berdua. "Tadi kamu kemana aja?" tanya Juna se

