Sebuah Kenyataan

1212 Kata

"Aku sama Dewa ketemu Erika dulu." Juna melepaskan tangan Lili yang sedari tadi menggenggam lengannya. "Aku ikut, Mas," balas Lili sedikit merengek. Terkadang sikap manja wanita itu tiba-tiba muncul secara spontan. "Yakin? Ini sudah malam, sebaiknya kamu tunggu di rumah saja." Juna menatap wajah Lili. Sorot mata wanita itu sedikit sayu, wajahnya murung. Juna sudah dapat menebak apa yang ada di dalam pikiran istrinya. Jika tidak ada Dewa di sana, mungkin Lili sudah ngambek. "Kenapa aku gak boleh ikut? Aku cuma mau ikut, bukan mau ikut campur." Raut wajah Lili semakin terlihat kesal. "Ya udah diikutkan aja, Bang. Daripada ngambek, tar malam malah gak dikasih pintu." Dewa menimpali. Pemuda itu masih bisa memberikan sedikit gurauan meski perasaannya sedang tak karuan. "Ya sudah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN