Rencana dan Kecurigaan

2284 Kata

Inne kembali muncul dari arah dapur sambil membawa dua cangkir kopi. Ia meletakkan satu di meja kecil depan Dewa, satunya lagi ia pegang sendiri. “Minum,” ucapnya singkat, tapi nada bicaranya masih terdengar lembut. Inne memang terdengar selalu lemah lembut, sangat cocok dengan penampilannya yang anggun. Dewa menatap cangkir itu sejenak, lalu mengangguk. “Makasih, Tante,” ucapnya sedikit ragu, tapi kali ini sudah tidak terlalu kaku. Inne duduk di sofa seberangnya, menyilangkan kaki dengan santai. Dress tipis yang dikenakannya sedikit tersingkap, membuat paha mulusnya terekspos. Dewa menyadari itu, akan tetapi ia berusaha menetralkan perasaan dengan cara mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sikap wanita itu tenang, tidak terburu-buru, seolah waktu di rumah itu berjalan lebih l

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN