1. Putri Pejabat BUMN

3117 Kata
Aku menghela nafas pelan. Kapan sih suasana rumahku ramai?, rasanya terakhir ramai waktu aku masuk sekolah TK. Setelah itu selalu hening. Semua bukan karena aku anak yatim piatu, tapi karena aku putri seorang Direktur utama perusahaan minyak milik negara, yang kesibukannya setaraf President. Kenalkan namaku Karina Dwi Mahardhika. Aku si bungsu dari dua saudara. Kakakku lelaki namanya Wingki Pratama Mahardika. Aku dan abangku terpuat umur 5 tahun, jadi dia sudah kuliah di jurusan pertambangan minyak seusai permintaan papiku karena berharap abangku mengikuti jejaknya. Abangku kuliah di universitas swasta elit di daerah Grogol, mana mau dia bersusah payah masuk universitas negeri. “Duit papi banyak, ngapain gue repot mikir, mikirnya nanti aja kalo gue udah kerja, sekarang senang senang dulu deh Kar. Lagian udah bagus gue mau kuliah jurusan yang papi mau. Jadi papi mesti biayainlah” jawabnya waktu aku protes. Punya abang semata golek, nyebelin nya ampun ampunan. Sudah ngertinya cuma minta duit, masih perlu juga b******k. Cewek abangku tuh banyak banget, sampai aku pusing, dan celakanya sering di bawa ke rumah karena rumah selalu sepi. Alasan itu jugalah, yang membuatku memilih tidur di kamar bawah untuk meredam suara suara misterius dari kamar abangku kalo dia sedang berduaan dengan pacarnya yang selalu berganti. Wait!, tidak usah menebak kalo keluargaku broken. Papi dan mamiku harmonis, sampai mami memilih menemani papi di rumah dinas di banding di rumah pribadi yang besar banget. Papiku juga tetap memenuhi kebutuhanku dan bang Wingky. Berlebihan malah. Di rumahku itu ada setengah lusin pembantu dan satu supir untuk antar jemput aku kemana pun, satu tukang kebun yang jadi suami salah satu PRT di rumahku, dan 4 orang satpam yang secara bergantian menjaga rumah kami selama 24 jam. Kurang apa coba?. Aku tinggal di rumah besar, dengan fasilitas komplit. Setidaknya ada 3 mobil mewah di garasi rumahku, Mercy terbaru, Velfire putih punya mamiku, dan mobil porche milik bang Wingky, juga mobil Avanza untuk di pakai belanja kebutuhan rumah. Aku di beri uang saku besar, dan kalo habis tinggal aku minta lagi. Apa pun yang aku mau tinggal bilang. Harusnya aku tidak mengeluh. Tapi nyatanya aku mengeluh. Aku kesepian. Padahal lingkaran pergaulan keluargaku bukan orang sembarang. Rata rata orang orang VVIP yang punya jabatan penting, crazy rich  atau orang terkenal. Nyatanya tidak membantu untuk mengobati rasa sepiku atau rasa rinduku pada mami, panggilan untuk ibuku. Dulu aku sering protes, tapi seiring berjalannya waktu, aku bisa berdamai juga pada kenyataan, kalo kedua orang tuaku lebih mementingkan pekerjaan di banding keluarga. “Kalo papi gak kerja, terus papi mau apa?” jawab papiku malah bertanya saat aku bertanya. “Ya cari kerjaan lain, yang gak buat papi sama mami mesti tinggal pisah rumah sama aku”jawabku. Papi tertawa. “Kar, setiap manusia itu gak cuma di kasih akal dan pikiran, tapi di beri juga hasrat, atau passion” jawab mamiku. Aku cemberut. Itu lagi yang jadi alasan. “Juga rezeki masing masing” potongku sebelum papi menambahkan. Papi tertawa. “Bosen dengar alasan itu trus” kataku. “Loh memang benarkan?, kalo gak semua jadi tukang tempe, atau bos besar. Ada alasan Kar kenapa Tuhan buat begitu, supaya beragam dan saling melengkapi. Nah khusus papi di kasihlah rezeki dan passion papi di bidang perminyakan. Kalo di kasih rezeki dan passion papi jadi tukang jahit, ya papi pasti jadi pengusaha garmen atau tailor” jawab Papi. Aku berdecak, buktinya papi suruh bang Wingky ambil kuliah perminyakan juga, tanpa berusaha cari tau passion bang Wingky di bidang apa. “Kenapa gak bilang karena papi suka dengan kekuasaan sih?, semua juga tau, kalo papi yang mengatur semua yang berhubungan sama minyak, papi yang punya kuasa atur harga BBM, papi yang atur ekspor impor minyak buat kebutuhan dalam negri, kalo gak ada papi, satu negara bakal gelap gulita apa malah miskin” kataku. Papiku terbahak. Aku gak salah ngomong kok, sekarang kalo gak ada BBM mau gimana?. Papi yang bilang sendiri kalo kita cuma punya banyak kilang minyak dan gas mentah, harus di ekspor dulu keluar untuk di ubah jadi BBM yang bisa kita pakai. Itu alasan utama kenapa siapa pun presidentnya gak akan bisa buat harga BBM murah. Tinggal gimana kebijakan presiden aja dalam kasih subsidi. Semakin besar subsidi semakin murahlah harga BBM. Tapi pengeluran negara gak cuma buat motor atau mobil jalan di kemacetan. Ada kebutuhan pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur sampai pembangunan SDM. Itu yang kadang gak di mengerti orang awam, taunya cuma bisa demo minta harga BBM turun. Setidaknya itu yang papiku jelaskan. Papiku lah punya pekerjaan mengatur semua. Papiku harus juga memikirkan perusaahan BUMN negara yang dia pimpin dapat keuntungan, selain harus memastikan ketersediaan BBM dalam negeri tercukupi. Asal kalian tau, bukan cuma isi ulang pom bensin, tapi kebutuhan untuk industri dan juga pembangkit listrik. Papi bilang,negara kita tidak punya nuklir sebagai sumber energi pembangkit listrik jadi masih butuh BBM. Berharap pada pembangkit listrik tenaga air, biothermal, atau sel Surya tentu tidak akan memenuhi kebutuhan listrik di negara kita. Gak usah listrik mati, spaneng aja udah berteriak. Itu kenapa tadi aku bilang satu negara bisa gelap gulita atau kelaparan karena semua tidak bisa bergerak kalo tidak ada BBM. Udah bisa terbuka belum pikiran kalian dengar penjelasanku tentang pentingnya BBM?, kalo kurang jelas, aku bisa minta papiku jelasin. Itu kenapa jangan pernah tanya apa yang negara berikan padamu, tapi tanya apa yang kamu sudah berikan pada negara. Coba aja lakukan hal remeh. Misal, matikan TV kalo tidak di tonton, matikan lampu kalo tidur, atau matikan AC kalo tidak dipakai, itu udah upaya penghematan energi kok. Kalo ada iklan layanan masyarakat harusnya di cerna jangan di skip ke channel lain. Jadi gak ngerti tujuan iklan layanan masyarakat yang pemerintah buat. Kembali ke papiku yang terbahak mendengar protesku. “Kar, kalo papi mau, bisa aja papi terima pinangan sebuah partai politik, tapi buat apa?. Buat jadi menteri?, jabatan papi sudah setingkat mentri, malah presticenya lebih unggul. Berharap papi bisa jadi President?, papi cuma akan jadi tumbal untuk setiap kekacauan yang terjadi di negeri ini” jawab papiku. Aku memutar mataku malas. “Terjun ke dunia politik itu, orang benar pun bisa jadi gak benar Kar. Dunia politik itu taktis, kita harus selalu waspada, karena semua bertumpu pada apa yang terjadi di masyarakat. Hari ini seseorang bisa jadi lawan bisa jadi kawan kita. Karena politik itu soal untung rugi dan perebutan kekuasaan oleh sekelompok orang demi kekuasaan besar yang bertujuan mengatur keseluruhan orang, baik yang pro atau kontra. Papi gak mau, papi lebih suka mengatur untuk kesejahteraan semua orang” katanya. Aku diam. “Papi lebih suka membangun karier untuk memperoleh kuasa itu tapi bukan untuk benar benar menguasai. Papi kerja keras untuk karier jadi profesional aja masih perlu lobi lobi kok. Kamu pikir gak ada mafia jabatan untuk jadi pejabat negara?. Papi lawan semua saingan papi,  dengan prestasi papi dan cacatan bersih papi sebagai pejabat negara. Dan itu butuh perjuangan. Uang Karina, semua orang mendewakan uang” lanjutnya. Aku berdecak. “Ya karena uang juga yang buat papi sama mami lebih milih ninggalin aku kesepian dan busuk sendiri di rumah” cetusku sebelum beranjak bangun meninggalkan papi dan mamiku ke kamarku. Itu aksi protesku waktu aku baru masuk SMP. Setelah itu, aku tidak pernah perduli lagi kalo pun papi dan mamiku hanya pulang ke rumah sebulan sekali dan cuma dua hari lamanya. Bisa apa jadi anak?, aku meniru abangku yang semakin enjoy menikmati apa yang papi dan mami ku beri sebagai ganti ketidakhadiran mereka dalam keseharian kami. Beruntungnya aku punya teman dari semenjak aku TK, namanya Queensha Salma Khalasnikov. Gadis bule Rusia Sunda yang cantik. Aku ingat sekali waktu pertama kali bertemu dengannya. Dia itu cantik sekali tapi sangat pemalu. Waktu TK dia duduk sendiri di bangku belakang karena malu selalu di perhatikan teman teman sekelas kami karena penampakannya yang beda. Rambutnya coklat pirang, juga sepasang matanya yang biru. Belum kulitnya yang putih kemerahan khas bule. Dia senang sendirian dengan buku bacaan bergambar sambil duduk makan roti bekal dan terlihat tidak perduli pada sekelilingnya yang tampak berlarian kesana kesini. Aku yang tidak tertarik lari larian jadi mendekat padanya. “Mau rotiku?” tanyanya ramah. Aku berbinar melihat roti isi keju dan daging berlumur mayones. Kami makan roti bekalnya sambil membaca buku bergambar itu berdua. “Gak mau main?” tanyaku. Dia menggeleng. “Kalo kecapean aku sakit, jadi mama larang aku lari larian, nanti aku gak boleh sekolah” katanya lesu. Aku jadi kasihan sih. Dulu aku gak ngerti kenapa Queen begitu. Jadi yang aku lakukan menemaninya menonton anak anak main lompat tali atau menyuruhnya jadi pemegang tali untuk kami main. Begitu aja dia senang. Atau aku ajak dia main bernyanyi karena suaranya bagus sekali. Itu yang membuat kami akhirnya akrab. Aku jadi seperti bodyguardnya di sekolah.Queen itu cengeng. Kalo di ganggu bisanya nangis, atau sembunyi di balik punggungku. Atau lari ke kelas lalu nangis.Ampun deh. Dan karena kelakuanku yang membantunya waktu dia pingsan di kelas setelah pelajaran olah raga, aku akhirnya berkenalan dengan papa dan mamanya. Ternyata papanya yang bule dan mamanya yang orang Bandung. Aku sampai iri waktu melihat gimana paniknya kedua orang Queen di ruang UKS sekolah. Dengan tergesa papanya menggendongnya pulang padahal kaki Queen sudah panjang sekali,jadi gak pantes di gendong. Belum mamanya yang ribet dengan tergopoh membawa tas, tas bekal dan termos minum, mengekor dengan tergesa juga. Seminggu Queen tidak sekolah, dan aku kesepian lagi, sampai aku menjenguknya ke rumahnya. “Jadi ini Karina yang kemarin jagain kamu?”tanya papanya ramah, om Dave aku memanggilnya. Aku mengangguk. Mamanya tersenyum lembut. Queen justru bercerita gimana kalo kami di sekolah, dan kedua orang tuanya menyimak sampai mereka mengerti kenapa aku datang menjenguk sendiri dan hanya di temani baby sitter, kan waktu itu aku masih TK. “Aku takut pas Queen pingsan, kalo aku tau dia sakit karena dia gak mau makan bekalnya, aku gak akan makan bekal Queen tante, maafin aku” kataku. Aku dulu mikir Queen sakit karena dia tidak makan bekalnya lalu ikut olahraga, jadi aku minta maaf karena aku yang menghabiskan bekal mie goreng yang dia bawa. Om Dave dan Tante Sophie tertawa. “Queen sakit karena hari Minggu habis renang, jadi kecapean bukan karena gak makan bekalnya, gak apa nak” kata om Dave. “Queen sakit apa om?” tanyaku takut. Mereka tersenyum. “Bukan sakit berat, hanya memang fisiknya lemah, gak bisa cape jadi gampang drop” jelas om Dave. Aku hanya mengangguk waktu itu. “Kamu gak bawa bekal?, mamamu gak buatin?, apa gak jajan di kantin?” tanya Tante Sophie lembut. Aku gelagapan. “Aku punya uang jajan, tapi malas antri. Mami aku....” dan mengalirkan soal mamiku dan papiku yang sibuk juga keluhanku yang lain. Mami memang sudah mulai sibuk mengikuti kegiatan ibu ibu pejabat jadi sering pergi pagi pagi. Gak ngerti juga sih ngapain, mami bilang dulu, supaya papi naik jabatan jadi mami mesti sering keluar dengan ibu ibu pejabat istri teman teman papiku. Waktu aku semakin besar aku baru tau, kalo istri para pejabat itu mesti saling bergaul supaya jabatan suaminya naik. Heran yang kerja suaminya, mesti juga istrinya repot. Ini yang di sebut lobi lobi. Setelah curhatku, sewaktu Queen masuk sekolah lagi, bekal makannya jadi bertambah untuk jatahku. Itu yang membuatku tidak hanya akrab dengan Queen tapi juga orang tuanya. Om Dave dan Tante Sophie juga yang menghiburku waktu mami dan papiku tidak datang waktu pertemuan orang tua murid dan guru. Kedua orang tuaku baru datang saat aku wisuda TK. Dan di situlah mami dan papiku berkenalan dengan kedua orang tua Queen yang ternyata pengusaha perkebunan teh di Bandung. “Papi kasih izin kamu bergaul akrab dengan Queensha” waktu itu papi bilang gitu sepulang kami dari acara. Mulailah kemana pun aku dengan Queen, mau liburan aja, aku di kasih izin ikut mereka. Parah orang tuaku mah, malah semakin anteng setelah bisa menitipkanku pada orangtua Queen. Bukan contoh gimana om Dave dan Tante Sophie perlakukan Queen, malah aku seperti sengaja di adopsi keluarga lain. “Tenang, aku gak iri kok kalo mama sama papa aku sayang kamu, aku jadi punya saudara” begitu Queen bilang. Dan bukan bohongan, dia santai aja mama dan papanya sayang dan perhatian sama aku.  Dari situlah kami semakin akrab dan selalu bersama, sudah seperti pasaangan lesbi. Aku kan gak suka kalo ada orang yang ganggu Queen. Dan Queen juga suka kesepian karena mama dan papanya mesti kerja, ya tidak sesibuk papi mamiku sih. Lagian papa dan mama Queen tipe orang tua yang perhatian, kalo weekend pasti quality time, dan aku selalu ikutan. Kami bisa ke mall, ke tempat wisata atau sekedar nonton film di rumah Queen. Kalo bisa pindah rumah, mungkin aku memilih pindah ke rumah mereka. Sampai rencanaku masuk SMA yang bukan khusus putri lagi, aku mengajak Queen ikutan juga. Jangan heran, om Dave itu memang memasukan Queen dari SD sampai SMP itu di sekolah khusus putri, karena khawatir putri kesayangannya di ganggu lelaki. Aku jadi ikutan masuk sekolah yang isinya cewek semua. Perjuangan juga untuk meyakinkan mama dan papa Queen untuk kasih izin sekolah SMA yang aku mau. Untung berhasil karena Tante Sophie tidak mau Queen sendiri tanpa aku, karena takut tidak ada yang menemani Queen. Akhirnya seperti aku bilang di awal, aku sudah bersiap sekolah, sarapan sendiri sambil menunggu Om Dave jemput untuk mengantar aku dan Queen ke sekolah SMA baru kami. Mami papiku?, tentu aja tidak perduli, selain tranfer uang saku dan uang untuk aku beli perlengkapan sekolah. Abangku?, masih tidur di kamar,entah sendiri atau dengan pacarnya. Pening kalo di pikirkan. “Morning Karina?” sapa om Dave waktu aku masuk mobilnya. “Morning om, morning sista” sapaku pada Queen yang duduk berdua papanya di bangku depan. “Morning cantik” balas Queen riang lalu kami berpelukan. Om Dave tertawa, emang papa idaman, masih pakai celana piama loh, tapi niat sekali antar anaknya sekolah pertama kali. Masih jam 6 pagi lewat sedikit jadi penampilan om Dave belum rapi untuk ke kantor. “Ready Girls?” tanya Om Dave. “Ready!!” jawabku riang berdua Queen. Sepanjang jalan aku dan Queen bernyanyi lagu dari radio dan om Dave hanya tergelak. “Nanti siang pak supir yang jemput, papa takut gak keburu ya” pesan om Dave. Aku dan Queen mengangguk lalu berebut mencium tangannya. Queen plus ciuman di pipi om Dave. Kami lalu keluar mobil. Emang perawan benaran Queen sih, baru di pintu masuk sekolah, dia langsung mengkeret melihat segerombolan cowok calon kakak kelas kami yang bercanda dan menggodanya. “WIH BULE!!” ledek mereka. Queen semakin mepet memeluk lenganku. “Kar...takut..” rengeknya berbisik. Aku berdecak. “Di ledek doang, masa grogi?, biasain sama laki” kataku. “Harusnya rambut gue jadi di cat hitam Kar, elo sih gak setuju” omelnya mulai santai menyusuri koridor pinggir lapangan karena banyak siswa baru juga. “Walaupun elo semir rambut elo pakai hena, trus mata elo pakai softlens item, mau tahan berapa lama?. Tetap aja elo bule” jawabku. Dia cemberut dan menurut aku ajak duduk di bangku beton bergabung dengan yang lain. Memang kami tidak punya teman lain dari SMP asal, jadi tidak mengenal yang lain. “Elo bukannya sekolah di tempat kemarin sih Kar, kan jadi gak ribet” keluhnya lagi. Aku tertawa. “Eh congki, 9 tahun kita sekolah di sana, 9 tahun juga yang kita lihat cuma cewek lagi, cewek lagi. Gue mau lihat batangan” jawabku asal. “Batangan apa sih Kar?” tanyanya oon. Hadeh bikin frustasi kalo ngomong gesrek sama dia mah. Untung bel masuk langsung terdengar dan mengharuskan kami baris di lapangan untuk upacara penerimaan murid baru. Masalah lagi, karena kami harus beda kelas. Queen di kelas X-3 sedangkan aku kelas X-5. Harus aku bujuk lagi supaya mau masuk kelas. “Kar...”rengeknya. Aku meggeram. “Elo kaya anak SD aja yang mesti di temenin emaknya masuk kelas, masuk sana, tar gak dapat bangku strategis” omelku berusaha melepaskan rangkulannya di lenganku. “Kar, tar gimana kalo elo gak ada” rengeknya setelah aku berhasil melepaskan diri. “Ngapain kek, kenalan sama cowok sana biar elo berani” jawabku. Dia cemberut. “Masuk gak, mau lo di hukum senior?” ancamku. Baru dia nurut masuk kelasnya, jadi aku berlalu mencari kelasku. Aku menghela nafas berat karena hampir semua bangku sudah penuh. Gara gara Queen nih, jadi cuma tersisa bangku di depan meja guru dan bangku di pojok belakang. Aku bimbang, kalo di depan meja guru, kalo aku lagi malas belajar, kelihatan banget. Belakang aja deh, walaupun bangkunya cowok cowok. Gak bakal di cabulin jugakan. “Bangkunya kosong gak?” tanyaku pada tiga cowok yang sedang bercanda. Mereka serentak menatapku. “Tunggu deh kok wangi apa nih?” cetus cowok bertampang jenaka yang duduk di bangku belakang bangku kosong tujuanku. “Wangi apa dah?” tanya cowok berabut kriwil yang berpotensi jadi cowok teman sebangku. Si cowok bertampang jenaka itu malah mengendus ngendus, dan membuatku mengerutkan dahiku. “Wangi apaan sih?” tanya cowok teman sebangkunya yang berbody krempeng dan memakai kaca mata. “Emang rezeki gue, yang bisa nyium gue doang” jawab si cowok bertampang jenaka. Aku jadi menatapnya. “Wangi apaan?” kejar cowok di sebelahnya. “Wangi calon masa depan gue, kan gue doang yang bisa nyium, iya gak neng?” jawabnya konyol. Dua yang lain ngakak, aku memutar mataku, dan dia sendiri sudah cengar cengir menatapku. “Sory, gue ga kena di gombalin. Gimana?, bisa gak gue duduk sini?” kejarku. Mereka saling menatap. “Duduk aja kalo betah duduk di sarang penyamun” jawab cowok yang berambut kriwil. “Pas dong, kan guenya perawan” jawabku lalu duduk di bangku kosong itu. Mereka bertiga terbahak, bakal seru nih kayanya, jadi aku ikutan tertawa. “Gue Karina!” kataku mengulurkan tanganku. “Robert!” cetus teman sebangkuku. “Gunawan!” cetus si cowok kerempeng. Aku mengangguk. “Elo?” tanyaku pada cowok gombal tadi. “Obi!” jawabnya menjabat tanganku plus senyuman. “Lah nama elo Toby!” protes Robert. “Ga lagi, kan huruf T nya udah gue kasih Karina” jawabnya masih menjabat tanganku. “Maksud?” tanyaku gagal faham. “Gue gak mau manggil elo Karina” jawabnya. Aku tertawa di ikuti dua cowok teman baruku. “Nama gue Karina!, emang mau panggil apa?” tanyaku berusaha melepas genggaman tangannya pada tanganku tapi dia menahannya. “Gue mau manggil elo ayang, tar elo grogi, jadi gue sumbangin huruf T nama gue, biar elo gak grogi kalo gue panggil elo tayang, kan elo calon masa depan gue” jawabnya. Aku terbelalak dan langsung menarik paksa tanganku di iringi tawa terbahak dua cowok teman baruku. Aku bergidik ngeri, ada sih cowok lenjeh model si Toby ini?, eh apa Oby ya??. Gak jadi deh aku bilang seru, sepertinya aku bakal ribet urus nih laki gombal macam si Toby ini?, eh apa Oby ya??.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN