SOG | Awal Bertemu

827 Kata
Sherina menatap lembar ujian di depannya dengan lekat. Wajahnya yang tadi tegang berangsur tenang begitu melihat nilai yang tertera di kertas yang dia pegang. Disusul dengan tarikan napas lega yang dia hembuskan dengan senyum tipis. "Untung aja ujian matematika hari ini aku dapat nilai sempurna." gumam gadis itu dengan wajah senang. Sherina lantas memasukkan lembar ujian yang telah dinilai itu ke dalam tasnya. Senyum cerah tampak menghiasi wajah cantiknya. Sherina begitu lega karena semua usahanya di ujian matematika kali ini mendapat hasil yang memuaskan. "Papa pasti seneng lihat nilai ujianku nanti." bisik Sherina dalam hati. Sherina Kalila Sugiono merupakan salah satu primadona di sekolahnya. Parasnya yang cantik dengan lekuk tubuh yang proporsional, membuat para siswa bahkan guru terpikat dengan pesonanya. Sherina dikenal sebagai gadis yang ramah dan tidak pilih-pilih teman. Banyak siswa yang mengidolakannya karena pribadinya yang santun dan tentunya kecerdasannya. Tapi di balik semua itu, Sherina nyatanya tidak cukup bahagia. Semua yang dia dapatkan selama ini, butuh perjuangan yang berat. Sepulang sekolah, Sherina harus mengikuti les private sampai petang. Dilanjut dengan belajar mandiri setelah makan malam sampai menjelang tidur. Semua itu Sherina lakukan karena sang papa selalu menuntutnya untuk menjadi sempurna. Ardhio Sugiono selalu menekan putrinya agar menjadi yang paling unggul di kelasnya. Tanpa mempedulikan dampak besar yang terjadi pada kehidupan Sherina. Kring.. Bel sekolah berdering nyaring memecah keheningan di dalam kelas. Para siswa yang sebelumnya tengah berada di dalam kegiatan belajar mengajar mulai mengemasi barang-barang mereka. Bersiap untuk pulang ke rumah setelah seharian bersekolah, tidak terkecuali Sherina. "Kamu langsung pulang, Sher?" tanya Yasmine yang duduk di sebelah bangku Sherina. Sherina mengangguk kecil sembari menarik resleting tas sekolahnya. "Habis ini jadwalku les biologi, Yas. Aku harus cepet sampai rumah sebelum Mrs. Barbara datang duluan dan ngadu sama Papa karena aku telat." jawab Sherina tersenyum kecut. Yasmine menghela napas berat ikut prihatin. Dia sudah mengenal Sherina sejak SMP. Sehingga dia tahu bagaimana kehidupan gadis itu serta tuntutan papanya yang tidak masuk akal baginya. "Sebenarnya aku mau ngajak kamu main sebentar di cafe depan yang baru dibuka, Sher. Tapi ya udah deh, lain kali aja kalau kamu punya waktu." Yasmine mencoba menyembunyikan raut kecewanya. Dari dulu memang susah sekali mengajak Sherina keluar untuk sekedar hang out. Pundak Sherina menurun dengan raut wajah terlihat murung."Mau gimana lagi, Yas. Kamu tau sendiri kan gimana Papa aku? Kalau aku sampai bolos les sehari.. aja, dia pasti bakal ngamuk." Yasmine mengangguk samar sembari menepuk pundak Sherina. Keduanya lantas berjalan beriringan keluar dari kelas. Koridor sekolah yang ramai, membuat langkah mereka sedikit pelan. Belum lagi beberapa siswa yang menyapa Sherina untuk menarik perhatian gadis itu. "Dari dulu kamu selalu jadi pusat perhatian ya, Sher." celetuk Yasmine setelah lepas dari kerumunan siswa yang berebut perhatian dari sahabatnya itu. Sherina hanya mengedikkan bahunya pelan sembari tersenyum tipis. Terus melangkahkan kakinya menuju parkiran sekolah. Dan keduanya berpisah di pintu masuk karena letak mobil Yasmine yang terparkir cukup jauh dari mobil Sherina. Mobil putih milik Sherina tampak melaju meninggalkan pelataran sekolah dengan kecepatan pelan. Setelah berada di jalan raya, barulah gadis itu menambah laju mobilnya. Sherina tampak begitu fokus mengendarai mobilnya membelah jalanan kota sore ini. Jarak tempuh sekolah dengan rumah Sherina biasanya menghabiskan waktu lima belas menit saja. Awalnya semua berjalan dengan lancar. Sherina melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Gadis itu juga tampak santai mengikuti irama lagu yang berputar. Namun kejanggalan mulai terjadi ketika Sherina berada di belokan. Mobil yang dia kendarai tiba-tiba berhenti mendadak di tengah jalan. Wajah Sherina tampak kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi. Gadis itu kemudian buru-buru keluar untuk mengecek kondisi mobilnya. "Ah, sial. Kenapa tiba-tiba bisa bocor sih?" umpat Sherina begitu melihat salah satu ban mobilnya bermasalah. Gadis itu mondar-mandir di pinggir jalan dengan raut bingung sekaligus cemas. Masalahnya dia tidak bisa menghubungi siapapun untuk meminta bantuan karena ponselnya kehabisan daya. Di tengah kekalutan tersebut, tiba-tiba saja sebuah mobil mewah berhenti tak jauh dari mobil milik Sherina. Disusul kemudian turunlah seorang pria matang berperawakan tinggi tegap dari pintu kemudi. "Mobil kamu kenapa?" tanya pria itu yang membuat Sherina seketika menoleh. Sepersekian detik, Sherina dibuat terpana dengan pria yang ada di depannya. Wajahnya sangat tampan dengan kedua alis tebal. Tatapannya tampak tegas dan penuh wibawa. "E-Eh, ban mobil saya bocor, Om." jawab Sherina kikuk. Alis tebal pria itu tampak naik mendengar jawaban Sherina. Pria matang yang dia taksir berusia hampir sama dengan usia papanya itu berjalan mengelilingi mobilnya. Dan berhenti setelah mendapati salah satu dari ban mobil tersebut dalam keadaan bocor. "Kamu punya ban serep?" tanya pria itu menoleh ke arah Sherina. "A-Ada, Om. Ada di bagasi." jawab Sherina cepat sembari membuka bagasi mobilnya. Diikuti oleh pria itu yang mengekor di belakangnya. Sebenarnya Sherina masih dilanda kebingungan karena kedatangan pria itu yang tiba-tiba saja menolongnya. Ada rasa curiga di hatinya karena takut jika orang itu berniat buruk padanya. Namun untuk saat ini dia berusaha menghilangkan pikiran tersebut. Lagipula penampilan pria itu tidak seperti seorang penjahat. "Semoga aja om-om itu benaran orang baik." gumam Sherina sembari memperhatikan pria itu dengan seksama. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN