Sepanjang perjalanan, tidak ada lagi percakapan di antara mereka berdua. Baik Sherina maupun Sagara, sama-sama diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Sagara yang sejak tadi berusaha mengenyahkan pikiran buruknya, nyatanya masih bergelud dengan hal tersebut. Dia masih terbayang-bayang akan kejadian tadi yang mungkin tidak disadari oleh Sherina.
Di sisi lain, Sherina kembali merasa canggung dengan kedekatan mereka. Apalagi beberapa kali dirinya menabrak punggung Sagara ketika pria itu mengerem mendadak.
"Sudah hampir sampai." celetuk Sagara memecah keheningan di antara mereka.
Sherina mengerjap dan menatap sekitar. Benar, mereka hampir sampai di sekolahnya. Tapi bagaimana Sagara bisa tahu kalau dirinya bersekolah di Abirama High School?
"Om Sagara kok tau sekolah Sherina?" tanya gadis itu polos.
Sagara melirik sebentar ke arah Sherina dari kaca spion, lantas menjawab pertanyaan gadis itu dengan tenang.
"Sekolah itu milik Kakek Buyut saya." jawabnya yang membuat Sherina nyaris terbatuk.
"Gilakkk. Jadi sekarang aku lagi dibonceng sama cicit pemilik sekolah?" pekiknya yang hanya bisa dia suarakan dalam hatinya.
"E-Eh, kamu jangan banyak gerak. Bisa-bisa kita terjatuh karena ulah kamu." tegur Sagara terkejut karena motornya tiba-tiba oleng akibat gerakan spontan dari Sherina.
Sherina menutup wajahnya dengan perasaan malu. Saking terkejutnya sampai dia bertingkah memalukan seperti itu.
"Kyaaaa.. malu banget sumvahhh.." jerit hati Sherina meronta-ronta.
Tanpa disadari Sherina, Sagara tertawa kecil melihat tingkah absurd dirinya. Dia terlalu larut dengan rasa malunya sampai-sampai tidak sadar jika laju motor yang ditumpanginya perlahan semakin pelan.
"Kamu tidak ingin turun?" tanya Sagara menginterupsi Sherina yang tak kunjung sadar jika mereka telah sampai di depan gerbang sekolah.
"Hah?" beo Sherina masih belum sadar.
Lagi-lagi tingkah gadis itu membuat Sagara ingin tertawa. Tapi tentu saja dia tahan karena tidak ingin membuat image-nya buruk di depan Sherina.
Sagara dikenal sebagai pria dingin yang kejam dan otoriter. Irit bicara namun gesit seperti belut dalam menjalankan bisnisnya. Terbukti selama kurun waktu dua tahun saja dia mengambil alih tugas sang papa, perusahaannya menjadi semakin sukses dan menempati urutan kedua sebagai perusahaan terkaya di negerinya.
Sagara menunjuk gerbang sekolah dengan gerakan kepala sebagai respon. Yang mana langsung membuat Sherina mengikuti ke arah mana yang Sagara tunjuk.
"L-Lohh, udah nyampek sekolah ternyata." gumam Sherina meringis.
Sagara hanya mengedikkan bahunya kecil sembari memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana. Gaya cool yang dia tampilkan nyatanya sukses membuat beberapa siswi yang kebetulan lewat di depannya merasa tersepona, eh terpesona maksudnya.
Sherina akhirnya turun dari atas motornya. Netranya menatap sosok tampan yang tengah berdiri menjulang di depannya dengan tatapan canggung.
"Makasih ya, Om udah nganter Sherina sampai sekolah." ujar gadis itu tulus.
"Justru saya yang harusnya berterimakasih karena kamu mau meminjamkan motor kamu untuk saya bawa ke kantor." balas Sagara panjang kali lebar yang dibalas senyuman kecil oleh Sherina.
Sagara lantas menatap arloji yang melingkar di tangannya dengan tatapan serius,"Saya harus pergi sekarang, Sherina. Waktu saya hanya tersisa 10 menit dari sekarang."
"Kalau gitu Om Saga cepetan berangkat. Bisa-bisa Om telat sampai kantornya." Sherina berubah panik.
Sagara tersenyum sangat tipis sampai Sherina tidak menyadarinya. Pria itu mengangguk dan kembali menaiki motor milik gadis itu.
"Om.." panggil Sherina menginterupsi Sagara.
Sagara menaikkan sebelah alisnya tanpa bersuara. Pria itu menunggu apa yang akan Sherina lakukan padanya.
Sherina melepas helm miliknya dan dengan cepat memasangnya pada kepala Sagara. Bahkan gadis itu juga memasangkan chin strap-nya sekaligus.
Apa yang Sherina lakukan sukses membuat Sagara menegang. Pria itu seketika membeku dengan jantung yang kembali berdegup dengan abnormal. Apalagi dia dapat merasakan terpaan napas hangat Sherina yang mengenai wajahnya.
"Kalau kaya gini kan aman." gumam Sherina tersenyum puas sembari memundurkan tubuhnya. Tengkuknya sedikit pegal karena terlalu lama mendongak. Perbedaan tinggi keduanya begitu mencolok.
"Kamu.." Sagara tak tahu harus berkata apa. Kalimatnya mengambang tanpa dia lanjutkan.
Sherina tersenyum kecil melihat penampilan Sagara yang terlihat lucu. Wajahnya yang tampan dan tegas dengan baju formal yang melekat di tubuhnya, agaknya sangat jomplang dengan penutup kepala berwarna pink yang dia kenakan saat ini. Tapi sudahlah, setidaknya pria itu akan tetap aman karena sudah memakai helm.
"Tunggu apa lagi, Om?" celetuk Sherina ketika tidak ada tanda-tanda Sagara akan segera pergi.
Ingin sekali Sagara protes pada gadis di depannya ini. Tapi karena dia tidak ingin membuang waktunya lebih lama lagi, Sagara akhirnya mengalah dan memilih untuk segera pergi.
Selepas kepergian Sagara, Sherina lantas bergegas masuk ke dalam sekolah sebelum pintu gerbang ditutup. Gadis itu bernapas lega karena tidak sampai terlambat. Bisa-bisa dia diskors dan lebih parahnya lagi mendapat amukan dari sang papa, Ardhio.
Terburu-buru untuk segera sampai ke dalam kelasnya, Sherina sampai tidak menyadari jika ada seseorang yang berjalan cepat ke arahnya. Hingga..
"Sherina!!" panggil orang itu sembari memegang kedua pundak Sherina.
"HUWAAA.." pekik Sherina terkejut saat seseorang tiba-tiba saja mengejutkannya.
Gadis itu melebarkan matanya dan refleks mengusap dadanya. Wajahnya terlihat kesal setelah tahu siapa yang telah mengejutkannya.
"Yasmine.." kesal Sherina.
Yasmine yang menjadi pelaku utama tampak tidak merasa bersalah. Gadis itu justru cengengesan dan membiarkan saja ketika Sherina mencubiti lengannya.
"Cubitan kamu nggak kerasa sama sekali, Sher. Nyubit apaan kaya nggak ada tenaga gitu." ledek Yasmine yang membuat Sherina semakin geram.
Entah karena benar-benar kesal atau bagaimana, Sherina menekan cubitannya cukup kuat hingga akhirnya membuat Yasmine mengaduh kesakitan.
"Awsh.. udah-udah, lepasin. Sakit banget tau nggak." Yasmine cepat-cepat mengibaskan lengannya hingga cubitan Sherina terlepas. Gadis itu memberengut sembari mengusap bekas lengannya yang dicubit oleh sahabatnya itu.
Sherina hanya diam mencibir dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas. Yang disusul oleh Yasmine dengan menggerutu. Namun sedetik kemudian gadis berkuncir kuda itu menatap Sherina dengan tatapan penasaran.
"Tadi aku liat kamu dibonceng sama Om-Om berjas rapi." celetuk Yasmine memancing.
Sherina menghentikan langkahnya sejenak, menatap sahabatnya dengan alis terangkat. Lalu kembali berjalan seolah tidak terjadi sesuatu.
Yasmine jadi gemas sendiri mendapati sikap cuek Sherina. Sahabatnya itu memang sedikit dingin dan tidak banyak bicara. Tapi Sherina gadis yang baik dan bertutur kata lembut jika sudah peduli.
"Kamu nggak ada hubungan apa-apa sama Om itu kan, Sher?" Yasmine kali ini memberanikan diri untuk menanyakan kemelut yang ada di dalam pikirannya sejak melihat Sherina datang dibonceng oleh seorang pria.
Sherina tergelak mendengar pertanyaan dari Yasmine.
"Kamu mikir aku punya hubungan sama om tadi?" Sherina balik bertanya dengan tawa sumbang.
Yasmine menatap lamat-lamat raut wajah Sherina, yang membuat gadis yang sedang ditatapnya itu risih sendiri.
"Nggak mungkin sih." gumam Yasmine pada akhirnya.
Sherina melipat kedua tangannya di depan d**a. Tak habis pikir dengan pikiran nyeleneh sahabatnya. Lagipula untuk apa dirinya memiliki hubungan lebih dengan Om Sagara? Mereka hanya kebetulan bertemu dan saling membantu.
"Wajah kamu nunjukin kalo kamu belum yakin, Yas." cibir Sherina.
Yasmine tampak meringis dan mencoba untuk bersikap santai. Mungkin saja apa yang dia khawatirkan ini berlebihan karena dirinya yang gemar membaca novel berbau dewasa. Yang menceritakan seorang pria dengan peliharaannya yang masih belia seusia dirinya.
"Mending kamu ceritain gimana ceritanya kamu bisa berangkat bareng Om-Om itu." kata Yasmine yang masih penasaran.
Sherina memutar bola matanya malas. Namun tak urung juga mulai menjelaskan bagaimana dirinya bisa dibonceng oleh Om Sagara. Sherina juga menceritakan pertemuan pertama mereka pada Yasmine. Yang akhirnya membuat gadis berkuncir kuda itu tak lagi penasaran.
***