BAB 2 : Risoles untuk Ibu

1057 Kata
Setelah sampai rumah, aku langsung mandi. Dan setelah mandi, aku langsung bergegas ke masjid. Aku masih bisa salat magrib berjamaah tanpa masbuk. Setelah salat sunnah bakdiyah magrib, pengajian pun dimulai. Yang mengisi pengajian kali ini adalah Ustaz Amiruddin. Karena badanku cukup lelah, begitu Ustaz Amiruddin menyampaikan mukadimahnya, aku tertidur sambil menyandar ke tembok masjid. Sampai ada temanku, Pak Rudi, yang membangunkanku. “Hei, pengajian udah mau selesai. Bangun!” gertak Pak Rudi sambil menyenggol lututku. “Astaghfirullah, saya tidur dari awal sampai akhir dong, Pak?” Aku terbangun, merenggangkan badanku sambil mengusap mata. “Ah dasar. Hahaha...” Pak Rudi hanya tertawa. Pak Rudi dan Pak Eko, teman DKM-ku, sedang asyik memakan cemilan dari snack box. Aku lihat di box mereka ada air mineral, dadar gulung, agar, kue bolu potong dan risoles. Di depanku ada box makanan ringan yang belum kusentuh. Tapi begitu kubuka, risolesku sudah tidak ada. Hanya tinggal plastiknya saja. “Pak Rudi makan risoles punya saya ya?” tanyaku curiga. “Bukan saya... itu tuh Pak Eko.” Pak Rudi duduk di samping kiriku, sedangkan Pak Eko duduk di samping kananku. Kami sama-sama pasukan bersandar. “Hehehe abis tidurnya pules banget, Pak. Saya tukar dengan dadar gulung ya, Pak?!” Jelas Pak Eko. “Gak usah, Pak. Gapapa... Rencananya saya mau kasih risoles itu ke ibu saya, karena ibu saya sangat suka makanan ringan box begini, yang paling dia suka ya risoles. Tapi gapapa, bukan rezeki ibu saya berarti.” Kami bertiga tertawa bersama, rasanya kami kembali seperti anak SD yang memperbutkan makanan favorit. Azan Isya telah berkumandang. Aku ambil air wudu, lalu salat berjamaah. Ku simpan box makanan ringan itu di lemari mukena di area salat wanita. Karena tempat itu aman dan tidak ada wanita yang salat di masjid malam ini. Setelah salat isya, aku langsung bergegas pulang. “Mari, Pak. Saya duluan.” Saya pamit kepada bapak-bapak pengurus DKM. “Pak Zein, boxnya mana?! Udah abis? Hahaha...” oh iya, aku lupa mengambil snack box-ku. Untung ada yang mengingatkan. Ku ambil snack box itu, lalu aku pun kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, mata ibuku langsung tertuju pada box yang sedang kutenteng. “Risolesnya jangan dimakan ya Zein!” ujar ibuku dengan antusias. “Maaf bu.... Risolnya dimakan Pak Eko. Zein ketiduran pas pengajian, pas kebangun cek box makanan ternyata risolesnya sudah tidak ada, yang ada hanya plastiknya saja. Besok Zein belikan risoles sepulang ngajar ya bu.” “Oalah,, yasudah tidak apa-apa Zein. Ga usah beli....” Ibuku berhenti sejenak, lalu melanjutkan pembicarannya. “Kamu sepertinya kelelahan Zein, matamu merah. Makan dulu makananmu itu.” “Iya bu...” Aku pun memakan makanan yang ada di box itu. Sambil aku makan, ibuku bertanya. “Bagaimana Zein?” tanya ibuku. “.... Bagaimana apanya bu?” aku bingung dengan pertanyaan ibuku. “Ituloh... kamu sudah punya calon belum?” Aku kaget. Tidak biasanya ibu bertanya masalah jodoh sejak aku cerai dengan istri pertama. Apakah ibu tau kalau aku sedang berusaha mendekati Ibu Rina? Ah tidak mungkin. Tidak ada temanku yang kenal dengan ibuku, begitupun sebaliknya. Hanya firasat seorang ibu saja. “Tiba-tiba ibu bertanya begitu..” ucapku sambil memakan makanan dalam snack box. “Ibu hanya bertanya saja... sudah cukup lama kamu menduda, Nak. Apa tidak sebaiknya secepatnya kamu menikah lagi?” tanya ibuku dengan lembut. “Emmm... Zein sebenarnya suka dengan teman kantor bu, namanya Ibu Rina Handayani. Guru bahasa Indonesia.” “Terus,, terus?” ibuku penasaran. “Iya... Zein sedang berusaha bu. Sebenarnya Zein sudah lama suka ke Rina, tapi baru sekarang rasa ingin menikahinya muncul.” Jelasku. “Zein... asal Zein tau. Ibu setiap salat tahajjud mendoakan semoga kamu cepat dapat jodoh. Semoga kejadian di masa lalu dengan mantan istrimu mejadikan kamu lebih hati-hati memilih wanita. Jangan sampai kamu menyukai seorang wanita karena cantik fisiknya saja, tapi lihat juga hatinya...” ku lihat mata ibu berkaca-kaca. Aku tau aku dulu salah langkah. Mantan istriku, Dea dan aku menikah bukan karena ketertarikan satu sama lain. Tapi karena dijodohkan. Baru beberapa minggu kenal, aku memutuskan untuk menikahinya. Akhirnya rumah tangga kami tidak bertahan lama. Kali ini aku tidak mau terburu-buru. Aku harus berhati-hati, jangan sampai salah langkah. Aku suka Rina sejak lama, aku rasa hatinya baik. Baru sekarang ini keyakinan itu muncul. Sejak lama aku perhatikan Rina. Dia bukan wanita yang macam-macam, tidak neko-neko dan tidak kaku. Berbeda jauh dengan Dea mantan istriku. Aku berkata kepada ibu, “Bu... kalau boleh jangan bahas mantan istri Zein lagi. Zein sudah lupakan semuanya. Zein ingin memulai hidup baru bersama Rina. Kalau Rina jodoh Zein, Zein pasti akan memperlakukan Rina dengan baik. Doakan saja ya bu. Zein juga selalu mendoakan ibu dan bapak setiap Zein selesai salat.” Kami berdua berbincang serius malam ini sampai menangis. Sedangkan bapak hanya duduk di beranda rumah sambil menghisap rokok. “Pak, masuk ... sudah malam,, dingin.” Ucap ibuku. “Iya bu tanggung 10 cm lagi.” Balas bapakku. “Zein, kamu kelihatan lelah. Setelah selesai makan, langsung pergi ke kamarmu. Tidurlah.. ibu juga mau tidur.” “Iya bu.” Balasku singkat. Aku pun masuk kamar. Makanan dari masjid cukup mengenyangkan. Aku tidak boleh langsung tidur. Aku ambil hp, scroll i********: sebentar. Tiba-tiba aku teringat dengan Rina. Apakah flunya sudah reda? Apakah dia sudah makan & minum obat? Aku khawatir. Tapi aku bingung, apakah perlu aku WA dia malam ini? Sekarang sudah pukul 22.00. Mungkin dia sudah tidur. Rasa khawatirku semakin lama semakin terasa. Akhirnya aku memutuskan untuk mengirim pesan kepadanya. “Assalamu’alaikum. Ibu Rina, bagaimana flunya, apakah sudah membaik?” sambil sesekali ku hapus, lalu ku ketik lagi. Jari tangan mondar-mandir antara tombol kirim dan tombol hapus. Akhirnya pesan singkat itu ku kirim. Sudah ceklis dua, tapi tidak berwarna biru. Aku lanjut scroll i********: lagi sambil menunggu, barangkali Rina akan menjawab. Setelah 10 menit,,, ting... notifikasi WA berbunyi. Segera aku membuka WA. Ternyata Rina membalas. “Waalaikumussalam Pak Zein, Alhamdulillah sudah lumayan membaik, Pak.” Senang rasaya hatiku. Aku biasa bertukar pesan dengan Rina. Kebanyakannya masalah pekerjaan. Tapi malam ini rasanya berbeda, karena aku dan Rina tidak membahas pekerjaan sama sekali. Beberapa detik setelah pesan Rina sampai, aku langsung balas, “Oh Alhamdulillah kalau begitu. Segera istirahat, Bu.” Aku menunggu balasan Rina. Setelah 2 menit, dia baru membalas dengan singkat, “Iya Pak.” Setidaknya Ibu Rina memberikan kabar baik tentang kesehatannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN