Chapter 18

1388 Kata
Perjalanan hidup adalah perjalanan akan pilihan-pilihan. Selalu ada persimpangan di setiap jalan dan akhirnya harus memilih. *** Tak ada yang selera melanjutkan sisa makanan di piring. Semua terdiam menanti dengan perasaan tak menentu. Kata 'kejar' saja sudah membuat siapa pun merasakan perasaan gamang. Ini seolah harus berlari menuju suatu atau berlari menjauh dari suatu. Apa pun itu pilihannya tetap menyusahkan. "Kita berkumpul di sini sudah hampir satu bulan, bahkan beberapa hari ke depan sudah genap satu bulan. Tidak bisa begini terus, apalagi selalu ada hal baru terkait Daniel. Jarak adalah yang paling mengkhawatirkan meski ini juga bisa bikin aman." Kita aman, karena jauh dari Daniel. Tapi menjadi tidak aman karena kita tahu pergerakan Daniel. Kita hanya mengira-ngira. Saya rasa Daniel pun begitu," jelas Mahesa panjang. "Pilihannya..., dikejar, mengejar?" tanya Elard memastikan. Mahesa mengangguk. "Keduanya memiliki resiko sama besar. Perbedaannya hanya pada waktu." "Di sini lama-lama, memang aman. Tapi akhirnya akan ketahuan dan kita akan kembali berlari," sahut Adia, yang dibalas anggukkan dari Mahesa. "Kalau mengejar, berarti kita...." "Kembali ke Jakarta dan dekat dengan Daniel," potong Mahesa. "Ini terlalu riskan. Lihat keadaan Sasi, dia bahkan belum bisa lepas gips-nya," ucap Elard yang keberatan. Ia masih trauma mendapati Sasi berdarah-darah saat awal di rumah sakit dan Elard tidak mau itu terulang lagi. "Tapi kita bisa memantau pergerakan Daniel dengan lebih cepat," jelas Mahesa. "Kita bisa bayar orang untuk memata-matai." "Dan akan ada jeda waktu bagi orang itu menginformasikannya ke kita. Saat informasi sampai, Daniel sudah bergerak maju, sedang kita kehilangan beberapa waktu karena harus mendengar informasi." "Saya tidak bisa membiarkan Sasi dekat dengan Daniel. Jauh saja sudah dibuat seperti itu, apalagi dekat," tolak Elard frustrasi. "Kak Mahesa sendiri ingin bagaimana?" tanya Adia. Mahesa mengembuskan napas panjang. "Saya ingin kita semua kembali ke Jakarta. Kita yang mengejar Daniel." "Meminta Sasi pulang ke rumah Daniel?" tanya Elard panik. "Tidak." "Lalu?" "Kita akan memikirkan tempat aman untuk Sasi. Dan saya berencana untuk memisahkan diri." "Kenapa?" Sasi mulai merasa tidak nyaman harus berpisah dari Mahesa. "Ini agar Daniel tidak merasa menangkap dua lalat dalam satu tepukan." "Kalau Kak Mahesa tertangkap, Sasi bisa lari dan kalau Sasi yang tertangkap, Kak Mahesa bisa lari, begitu?" tanya Adia. "Tepat tapi kurang tepat. Kalau Sasi tertangkap, maka saya akan bisa bergerak cepat untuk melakukan langkah penyelamatan dan lain sebagainya. Jika saya yang tertangkap, kalian bisa bergerak cepat untuk lari dan sembunyi sementara waktu." "Ini akan sangat berisiko, Mahes." Elard menarik rambutnya ke belakang dengan gemas. "Tadi saya sudah bilang. Sama saja resikonya, hanya perihal waktu." Tak ada yang bicara lagi. Masing-masing berkutat dengan sisa makanan yang harus dihabiskan meski enggan dan pikiran yang bertumpuk akan segala kemungkinan-kemungkinan. Elard masih terngiang ucapan ibunya kalau Daniel adalah orang yang sangat keji bahkan sejak ia masih muda. Mendekatkan Sasi akan bahaya, hanya membuat Elard semakin was-was. Sasi sendiri sebagai tokoh utama, berada pada persimpangan akan ingin. Sebelumnya ia punya keinginan yang sangat besar untuk kembali ke Jakarta. Bertemu Kamania, Raffael, dan semua yang ia sayangai dan menyayanginya juga. Belakangan, ia tidak mempermasalahkan tetap di sini, karena orang-orang yang ia rindukan sudah ada mengelilinginya. Namun, Sasi teringat akan nasib Susan. Benar kata Mahesa, jika kita di sini terlalu lama kita akan kesulitan tahu pergerakan Daniel. Selain itu akan kesulitan untuk saling melindungi karena jarak tempuh. Andai Elard di Jakarta, tentunya saat Susan ingin bertemu dengan Elard, tak perlu mengulur waktu. Elard bisa langsung datang dan melindungi ibunya. "Saya mau kembali ke Jakarta." Semua yang di meja makan terkejut. Sasi memandangi Mahesa, Elard, dan menoleh ke arah Adia, dengan tatapan serius. Ia sudah memantapkan hatinya. Sudah cukup baginya berlari. Ia juga ingin segera menguak kebenaran akan kematian kedua orang tuanya. "Tapi, Sas...." "Saya harus menghadapi Daniel," potong Sasi. "Ibu saya memilih kembali menghadapi Daniel adalah untuk melindungi saya. Ayah Kak Mahesa juga meminta Kak Mahesa dan saya untuk tinggal bersama Daniel adalah agar terlindungi. Dan nyatanya, Daniel tidak bisa berbuat lebih, bukan? Karen juga ada Kak Mahesa yang mudah untuk memantau." "Tapi kembali ke rumah Daniel setelah ini semua adalah konyol," ujar Elard. "Dia akan kita carikan tempat aman," sahut Mahesa. "Di mana?" "Itu yang akan kita pikirkan kalau kita semua sepakat." "Jika Sasi siap. Saya juga mendukung. Saya akan temani Sasi di Jakarta," sela Adia. Mahesa tersenyum lebar. Sasi dan Adia sudah membuat keputusan. Tersisa Elard yang memiliki keraguan besar. Mahesa mencoba memahami. Elard pasti masih trauma saat melihat Sasi terluka dan kemudian tahu jika Sasi terluka karena Daniel. Ditambah kematian ibunya yang tragis. "Jika di Jakarta...." Elard menggantung kalimatnya, menatap Sasi tajam. "Saya akan kesulitan menjaga Sasi. Pergerakan saya juga pastinya dipantau." Helaan napas Elard justru membuat geli Mahesa juga Adia. Jelas untuk alasan terakhir, lebih karena Elard tak ingin terpisah dengan Sasi. "Belum juga terpisah. Rindunya sudah datang duluan," goda Adia yang dibalas tawa oleh Mahesa. Sedangkan Sasi hanya termangu menatap Elard. Keduanya seolah tak memedulikan Mahesa juga Adia. Saling menatap. Saling menyelami seberapa serius masing-masingnya dengan keputusan dan ucapan. Elard ingin tahu apakah Sasi rela jika harus terpisah dari dirinya. Sedangkan Sasi ingin tahu apakah Elard sungguh peduli dengan dirinya, setelah selama tahunan Elard mengabaikan dirinya sedemikian rupa. "Kesulitan kan bukan berarti tidak bisa bertemu, 'kan, Elard. Akan ada banyak cara bagimu bisa bertemu Sasi." Mahesa menenangkan perasaan Elard. Elard melepaskan napas, memalingkan wajah kembali pada sisa nasi goreng di piring. Ia melihat kesungguhan di mata Sasi. Tak ada yang bisa dilakukannya selain mendukung. "Baiklah. Saya setuju." *** Elard gelisah. Sebentar ia bersandar di dinding. Sebentar mondar-mandir di depan kamar Adia. Dengan sengaja ia memang menunggu gadis bermata kucing itu. Dirinya membutuhkan gadis itu untuk suatu hal. Saat pintu kamar Adia terbuka, segera Elard berdiri menghadang, membuat gadis itu memekik perlahan. "Elard? Asataga! Kamu ngagetin." "Sorry." Elard celingak-celinguk kanan dan kiri. Memastikan tidak ada orang. Dengan suara setengah berbisik, ia bertanya, "Kamu tahu kalau Sasi ada janji makan siang dengan si Jabrik gila itu?" Seketika Adia tertawa geli, membuat Elard malu. Dengan gerakan tangan, Elard meminta Adia diam. Ia tak mau tawa geli Adia terdengar Mahesa yang kamarnya dekat dengan perpustakaan dan sama-sama di lantai bawah dengan kamar Adia. Adia tertawa bukan hanya menertawakan kecemburuan Elard, tapi juga kelinglungan pria itu. Jelas-jelas tadi Sasi sudah bilang akan bertemu Felix saat di meja makan, jadi buat apalagi Elard bertanya, kalau bukan karena Elard linglung. "Kamu kenapa? Kok, menanyakan hal yang sudah jelas. Cemburu?" "Enggak." Elard memalingkan wajah. Malu karena ditebak benar. "Halah. Terus ngapain di sini? Saya mo ke restoran duluan." "Nggg..., bantu saya." "Bantu apa?" Elard sangat malu menyampaikan. Ia justru mengambil pergelangan tangan Adia dan menariknya agar mengikutinya. Berulang Adia menanyakan ada apa, tapi Elard memilih diam atau hanya berkata, "Udah, ikut aja dulu." Kini Adia sudah di depan kamar Elard yang terbuka. Awalnya Adia tidak mau masuk, tetapi Elard memaksa. Tak lupa Elard meminta Adia tak bersuara, karena di depan kamarnya adalah kamar Sasi. "Kamu mau apa, sih?" tanya Adia kesal setelah berada di dalam kamar Elard. "Sttt..., duh, kamu. 'Dah, dibilangi jangan berisik. Nanti Sasi dengar." "Kamunya juga aneh." Elard menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Saya mau minta tolong." "Tolong apa? Memangnya gak bisa omong di bawah tadi?" Elard tersenyum malu, menyadari kebodohannya. Sesuatu yang mudah justru dibuat sulit. "Tolong apa? Kamu masih sakit? Perlu obat?" desak Adia yang mulai khawatir juga. Ia berpikir jangan-jangan Elard punya penyakit parah yang semua orang tidak tahu. "Bukan. Saya tidak apa-apa. Semalam mungkin karena kecapekan." "Trus, minta tolong apa?" "Nggg..., gimana, ya?" Elard menggigit bibir bawah. Keresahannya tak bisa disembunyikan yang menular pada Adia yang semakin khawatir. "Cepat apa? Atau saya bilang ke semua orang kalau kamu sedang kenapa-kenapa," ancam Adia. "Jangan! Ini..., anu..., sesuatu yang konyol saja. Tapi...." "Iya apa? Cepat!" bentak Adia. "Nggg..., kamu lihatin Sasi." Sontak Adia melongo, bibirnya membulat membentuk huruf 'O' sempurna. Ia benar-benar terkejut dengan permintaan sederhana Elard yang dilakukan dengan penuh drama. Tak lama, Adia pun tertawa. "Astaga, Elard! Begini saja kamu harus menyeret saya. Lagian apanya yang mau dilihat dari Sasi?" tanya Adia menyisakan tawa gelinya. "Gak jadi. Maaf." Elard benar-benar malu. Apalagi ditertawakan Adia sedemikian rupa. "Aduh, aduh, macam perawan saja pakai merajuk." Adia masih tertawa. "Cepat bilang, apa yang harus saya lihat dari Sasi?" "Sudah tidak usah. Lupakan saja. Itu tadi permintaan konyol." Elard merajuk. "Gitu saja ngambek. Ya sudah, saya tetap liat Sasi dan saya bilang kalau disuruh kamu." Adia berbalik. Cepat Elard menangkap lengan Adia, menahan gadis itu melanjutkan langkahnya. "Jangan, dong." "Makanya bilang," ancam Adia. "Nggg..., Saya ingin tahu apakah Sasi terlihat antusias untuk ketemu Felix." Kembali Adia ingin tertawa, tapi segera ditahan agar Elard tak tersinggung lagi. "Tunggu dulu." Adia kemudian keluar kamar Elard dan menuju kamar Sasi. Kembali Elard dirundung risau. Perasaan malunya memenuhi diri. Ia menggetok keningnya sendiri karena terlalu konyol meminta bantuan orang hanya untuk melihat reaksi orang yang sedang disayanginya. Ini memang memalukan. Namun dalam peperangan, apa saja harus dilakukan. Termasuk peperangan hati. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN