“Gak ada, Bang. Mikirin ujian aja.”
“Oh, ujian ya. Semangat, Dek. Jangan lupa belajar.”
“Iya, Bang.”
Tapi yang Yusri pikirkan bukan hanya ujian. Juga tentang lima hari ke depan. Tentang Devi yang akan duduk di sampingnya setiap pagi. Tentang jantungnya yang harus bertahan berdebar-debar selama itu.
Lima hari, pikirnya. Lima hari lagi.
Dia memejamkan mata, merasakan angin sore yang semakin kencang. Di balik kelopak matanya, senyum Devi muncul lagi.
“Ya Allah, kasih gue kekuatan,” bisiknya pelan, setengah berdoa, setengah mengeluh.
Tukang ojek di depan hanya tersenyum, tidak mendengar.
Motor melaju memasuki gang sempit menuju rumah Yusri, meninggalkan jalan raya yang mulai sepi. Sore itu, langit Sungai Geringging berwarna jingga, dan seorang anak laki-laki dengan hati berdebar-debar pulang membawa rahasia yang tidak berani dia ungkapkan.
Hari terakhir ujian akhir tiba juga.
Yusri meletakkan pensilnya untuk terakhir kalinya, menarik napas panjang, lalu menghela dengan lega yang terasa sampai ke ujung kaki. Soal terakhir sudah dijawab. Lembar jawaban sudah diperiksa ulang. Tidak ada yang tertinggal.
Bel berbunyi.Cring..Cring..
Guru pengawas mengumumkan waktu habis dengan suara datar, tapi bagi Yusri, suara itu seperti simfoni kemenangan. Dia berdiri, memasukkan alat tulis ke dalam tas, dan berjalan keluar ruangan dengan langkah yang terasa ringan seperti melayang.
Begitu kakinya menyentuh halaman sekolah, Yusri tidak bisa menahan lagi. Dia berlari. Berlari melewati kerumunan siswa yang juga baru keluar dari ruang ujian, berlari melewati pohon rindang di depan kantin, berlari hingga gerbang sekolah. Angin menerpa wajahnya, rambutnya berantakan, tapi dia tertawa.
Tertawa lepas.
“SELESAI!” teriaknya keras-keras, tidak peduli beberapa orang menoleh heran.
Di kejauhan, Devi dan Intan berdiri di depan pintu ruang 7, masih merapikan tas mereka. Devi mendengar teriakan itu, menoleh ke arah gerbang, dan melihat Yusri yang berlari sambil tertawa seperti orang kesurupan.
Intan juga melihat. Kedua gadis itu saling pandang.
“Lihat tuh,” kata Devi sambil tersenyum tipis. “Batu es itu udah mencair.”
Intan tertawa terbahak-bahak, sampai beberapa siswa lain menoleh. “Lu kenapa sih kepoin dia terus?”
Devi memasang ekspresi masa bodoh, tapi matanya masih mengikuti gerakan Yusri yang kini sudah menghilang di balik gerbang. “Gak apa-apa. Aku rasa orang itu aneh aja.”
“Emang aneh tuh orang,” sahut Intan sambil menarik lengan Devi. “Ayo, kita ke kantin dulu. Aku haus.”
Yusri berjalan kaki pulang dengan langkah gembira. Tas selempangnya diayun-ayunkan, sesekali dia bersiul kecil, sesekali melompat-lompat seperti anak kecil. Hari ini terasa sempurna. Ujian selesai. Tinggal menunggu kelulusan. Dan setelah itu, dunia baru akan terbuka.
Karena terlalu asyik dengan kegembiraannya, Yusri tidak memperhatikan jalan di depannya.
Brak!
Dia menabrak seseorang dari samping. Orang itu terhuyung beberapa langkah, hampir jatuh. Yusri sendiri kaget hingga tasnya terlepas dari bahu.
“Aduh! Maaf, maaf!” Yusri buru-buru membungkuk, mengambil tasnya, lalu menatap orang yang ditabraknya.
Seorang pemuda seusianya berdiri di hadapannya, memegangi bahu kirinya yang tertabrak. Rambutnya pendek sebahu, wajahnya tegas dengan alis tebal yang sekarang sedang bertaut erat. Matanya menyala, seperti api kecil yang siap membesar kapan saja.
Geni. Tetangga Yusri. Mereka seumuran, tapi bersekolah di SMP 3 Suger. Yusri tahu sedikit tentang Geni cuma tahu kalau dia terkenal pemarah. Sangat pemarah.
“Maaf, Geni,” kata Yusri lagi, berusaha ramah. “Gak sengaja. Kitan kan sama-sama selesai ujian juga, kan? Aku senang banget akhirnya selesai juga.”
Geni tidak menjawab. Dia masih memegangi bahunya, tapi matanya sekarang menatap Yusri dengan tajam.
“Gak usah sok akrab, lu,” kata Geni, suaranya dingin. “Lu nabrak gue, terus sok akrab? Dasar bangsat.”
Yusri mengernyit. “Heh? Kenapa lu segitu marahnya? Orang gak sengaja, udah minta maaf.”
Geni mendesis. Dia memang sedang kesulitan ujian tadi. Beberapa soal tidak bisa dijawab, pikirannya kacau, dan sekarang ditambah lagi ditabrak oleh tetangga yang sok ramah. Emosinya meluap.
“Gak gitu minta maafnya,” kata Geni sambil maju selangkah. “Harus balas juga, dong.”
Yusri menghela napas. Dia pikir Geni hanya sedang kesal dan butuh sedikit peringatan. Dengan santai, Yusri mendorong bahu Geni pelan sekadar balasan simbolis, tidak lebih dari sentuhan.
“Baiklah, kalau begitu,” kata Yusri. “Gue balas. Selesai.”
Tapi Geni tidak puas. Wajahnya berubah. “Lu ngenai bahu gue? Nih, balas!”
Yusri masih dalam posisi santai ketika tiba-tiba sebuah tinju menghantam punggungnya. Keras. Sangat keras. Yusri tersentak, tubuhnya bergerak maju beberapa langkah. Rasa sakit yang tajam menyebar dari punggung hingga ke tulang belikat.
Geni tertawa. “Gimana? Sakit, kan? Segitu juga yang gue rasakan!”
Dia membelakangi Yusri, siap berjalan pergi. Tapi Yusri berdiri di tempat, tangannya meraba punggung yang terasa panas. Wajahnya yang tadinya ceria kini berubah.
Anjir, pikirnya. Gue tadi cuma dorong pelan. Gak sengaja. Ini malah ditonjok kuat-kuat.
“Geni!” panggil Yusri, suaranya lebih keras.
Geni berhenti, menoleh. “Apa?”
“Lu mau berantam?”
Geni tersenyum sinis. Dia balik menghadap Yusri, mengepalkan kedua tangannya. “Lu yang ngajak. Ayo.”
Dia merasa kuat. Tubuhnya lebih berisi dari Yusri, dan dia sudah sering terlibat pertengkaran di sekolahnya. Anak laki-laki sekelasnya saja kadang takut padanya.
Tapi Geni tidak tahu siapa Yusri sekarang.
Yusri menggelengkan kepala, setengah kesal setengah kasihan. Tanpa banyak berpikir, dia melangkah maju. Gerakannya cepat terlalu cepat untuk ditangkap Geni.
Dug! Dug!
Dua pukulan berturut-turut menghantam bahu kanan dan kiri Geni. Bukan pukulan keras, tapi cukup untuk membuat Geni kehilangan keseimbangan. Sebelum Geni sempat membalas, Yusri sudah melengkapi dengan tendangan ke perut,tendangan yang tidak terlalu keras, hanya sekedar membuatnya mundur.
Geni tidak sempat refleks. Tubuhnya oleng, kakinya gemetar, lalu dia jatuh terduduk di aspal.
Dan kemudian dia menangis.
Bukan tangis pelan, bukan tangis tertahan. Geni menangis sejadi-jadinya, suaranya keras, isaknya menyentak-nyentak. Air mata mengalir deras di pipinya yang merah menahan sakit.
Yusri berdiri di hadapannya, bingung. “Lah... kok nangis? Bukannya lu yang ngajak?”
Geni tidak menjawab. Dia memegangi bahunya yang terasa sangat sakit lebih sakit dari yang dia kira. Tangannya gemetar.
Yusri memperhatikan dengan jelas. Bahu Geni terlihat sedikit bengkak. Sepertinya bahunya sakit banget, pikir Yusri. Perasaan bersalah mulai merayap.
“Lu gak papa, Geni?” Yusri mendekat, mengulurkan tangan untuk membantu berdiri.
Tapi Geni menepis tangan itu. “Jangan sentuh gue!” jeritnya, lalu bangkit sendiri dengan susah payah. Dia menatap Yusri dengan mata merah, penuh amarah dan air mata, lalu berlari meninggalkan Yusri di tengah jalan.
Yusri berdiri di tempat, tangannya masih terulang. “Maaf,” katanya pelan, meski Geni sudah tidak mendengar.
Dia tidak tahu kalau kejadian ini baru akan menjadi awal dari masalah yang lebih besar.
Sore itu, Yusri duduk di ruang tamu sambil menonton televisi. Farrel belum pulang katanya ada urusan di sekolah sampai sore. Ibu Riana sedang di dapur, menyiapkan lauk untuk makan malam. Suasana rumah terasa tenang.
Tiba-tiba, suara teriakan dari luar memecah ketenangan.
“BU RIANA! BU RIANA!”
Ibu Riana keluar dari dapur, mengelap tangan dengan kain. Yusri ikut menoleh ke arah pintu, mendengar suara yang dikenalnya suara Bu Lilis, ibu Geni.
“Ada apa, Bu?” Ibu Riana membuka pintu.
Bu Lilis berdiri di teras dengan wajah merah padam. Matanya melotot, tangannya memegangi pagar rumah. “Anak Ibu! Anak Ibu memukul anak saya! Lihat sekarang dia di rumah, bahunya tidak bisa digerakkan! Masih menangis dari tadi! Gak berhenti!”
Ibu Riana terkejut. “Apa? Siapa yang memukul?”
“Yusri! Anak Ibu!”
Yusri yang mendengar namanya disebut langsung berdiri dari sofa. Wajahnya berubah.
Di saat yang sama, suara motor tua memasuki gang. Rayendra pulang kerja lebih awal dari biasanya. Dia memarkir motor Vega R-nya, melepas helm, dan melihat keributan di depan rumah. Bu Lilis berteriak-teriak, istrinya tampak panik, dan Yusri berdiri di pintu dengan wajah tegang.
“Ada apa ini?” tanya Rayendra, mendekat dengan langkah berat.
Bu Lilis langsung membalikkan badan menghadap Rayendra. “Akhirnya, Bapak pulang! Lihat anak Bapak! Dia memukul anak saya! Sekarang Geni di rumah, kedua bahunya tidak bisa digerakkan! Dia masih menangis sampai sekarang! Saya suruh makan tidak mau, suruh minum tidak mau! Dia hanya menangis terus!”