Sandra berada di ruang perawatan rumah sakit, tersenyum setelah panggilan dengan Attar berakhir. Ia merasa senang bisa berbicara dengannya, meskipun hanya lewat telepon. Namun, tiba-tiba pintu terbuka, dan Sandra kaget saat melihat siapa yang datang. Ternyata yang datang adalah seorang perawat perempuan yang tersenyum ramah.
Perawat itu berkata dengan lembut, "Maaf ya, nona. Saya mau mengukur tensi dulu." Sandra pun mengangguk dan membiarkan perawat itu melaksanakan tugasnya dengan sabar.
Setelah selesai mengukur tensi Sandra, perawat itu memberi kabar baik, "Tensinya bagus, nona."
Sandra pun mengangguk dan bertanya dengan harapan, "Apa saya sudah boleh pulang?"
Perawat menjawab dengan penuh pertimbangan, "Sepertinya boleh, nona. Tapi mungkin besok sore."
Sandra mengguk, "Oke, terima kasih."
Perawat itu pun mengangguk dan menjawab dengan ramah, "Sama-sama."
Setelah itu Perawat itu keluar dari ruangan, dan Sandra kembali mengambil ponselnya. Ia hendak mengirim pesan kepada Zahra, namun baru saja ia membuka aplikasi pesan, ia mendengar suara pintu terbuka. Kali ini, Sandra berusaha tenang dan benar-benar merasa lega saat melihat ibunya datang.
Sandra dengan senang hati berkata, "I'm coming, sayang! Ibu bawa makanan untukmu!" Ia terdengar cukup bersemangat.
Nessa berjalan ke arah tempat tidur perawatan Sandra, dan Sandra meletakkan ponselnya di atas meja. Saat Nessa membuka makanan untuk Sandra, Sandra bertanya kepada ibunya, "Bu, barusan ada perawat yang mengukur tensi darahku, lalu aku bertanya, kapan aku bisa pulang? Dan Bisakah aku besok pulang?"
Nessa menjawab "ya sayang, kamu akan pulang besok sore."
Sandra merasa sangat senang mendengar kabar itu. Ia pun menjawab dengan penuh semangat, "Baiklah! Bagus kalau begitu. Sebenarnya, Ibu juga sudah bosan di sini. Lebih baik di rumah saja."
"Tapi kalau di rumah, tetap istirahat ya," pinta Nesa.
Sandra pun mengangguk dan berkata, "aku ingin cepat pulih dan kembali ke kehidupannya yang normal, terutama karena aku merindukan waktu bersama Attar." Nesa hanya menanggapinya dengan senyuman.
Zahra kembali ke kamarnya, ia berdiri di depan pintu, dan dengan harap-harap cemas, ia berbisik pelan, "Semoga saja Attar sudah memakai pakaiannya, jadi aku tidak kena marah lagi," ucapnya dengan nada khawatir.
Setelah itu, Zahra mengetuk pintu kamar Attar, tetapi saat tidak ada jawaban, ia memutuskan untuk masuk ke dalam.
Zahra membuka pintu kamar pelan hingga akhirnya ia melihat Attar duduk di atas ranjang dan membuka laptopnya dan tengah fokus pada layar tersebut.
Zahra pun masuk ke kamar dan menutup pintu kembali. Setelah itu Zahra memutuskan untuk duduk di sofa tempat ia tidur selama ini.
"Oh iya, aku harus mengetik resep bahan kue yang tadi aku buat. Aku ketik saja di aplikasi," ucap Zahra pelan.
"Ah seandainya saja Aku masih punya laptop, tidak tidak laptopku kan sudah aku jual untuk membantu biaya pengobatan ayah kemarin."
Setelh itu Zahra mulai sibuk sendiri, begitupun dengan Attar.
Suasana di kamar itu benar-benar dingin dan canggung. Attar sibuk dengan laptopnya, sementara Zahra sibuk dengan ponselnya. Meskipun mereka adalah sepasang suami istri, namun ada jarak yang begitu besar di antara mereka.
Zahra sangat menyadari batasan-batasan pernikahan mereka, dan ia berusaha untuk tidak mengganggu Attar. Ia memilih tidur di sofa, meskipun tidak terlalu nyaman.
Keduanya terdiam, sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Azzahra terus sibuk dengan ponselnya. Namun, setelah beberapa menit, kelelahan mulai merasukinya. Ia merasakan mata mulai berat, dan tiba-tiba saja, ia menguap beberapa kali.
Setelah menguap, Zahra menonaktifkan ponselnya dan menarik tubuhnya ke atas sofa dengan perlahan. Ia merasa kelelahan setelah seharian yang cukup panjang.
Sementara itu, tanpa sepengetahuannya, Attar juga sedang memperhatikannya, melihat bagaimana Zahra mulai merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Suhu di kamar itu memang cukup dingin, padahal AC dimatikan. Hawa dingin menusuk hingga tulang, dan itu pun dirasakan oleh Attar. Ia melihat ke arah Zahra, yang terbaring di sofa tanpa selimut. Ia nampak kedinginan.
Attar merasa kasian dan bersalah karena melihat istrinya yang kedinginan. Tanpa banyak bicara, ia turun dari ranjang dan mengambil selimut. Dengan kasar, ia melemparkan selimut itu ke arah Zahra. "Pakailah," ucapnya dengan kasar.
Zahra terkejut dan membuka mata. Meskipun Attar bersikap kasar, Zahra merasa senang. Ia mengambil selimut itu dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut dengan lembut, merasa bersyukur meskipun Attar memberikannya dengan cukup kasar.
Setelah melempar selimut pada Zahra, Attar memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Zahra pun mengangkat kepala dan menatap suaminya dengan ekspresi yang campur aduk antara terima kasih dan harapannya.
"Terima kasih," ucap Zahra dengan lembut, mencoba membuka jembatan komunikasi di antara mereka. Namun, Attar hanya meresponnya dengan diam.
Zahra merasa bahwa ia harus tetap kuat dan sabar dalam menghadapi situasi ini. Ia tahu bahwa ini bukanlah saat yang tepat untuk pertengkaran. Hatinya penuh dengan harapan agar suaminya bisa bersikap baik padanya. Ia ingin yang terbaik untuk Attar, bahkan jika itu berarti harus menahan diri dan bersabar dalam situasi yang sulit ini.
Attar pun kembali ke atas ranjang. Zahra pun sudah menutupi tubuhnya dengan selimut yang diberikan oleh Attar.
Attar tampak sibuk dengan laptopnya, benar-benar tenggelam dalam pekerjaannya dan sepertinya tidak terlalu memperhatikan kehadiran Zahra.
Zahra merasa bahwa kesenjangan antara mereka semakin dalam. Ia berharap suatu hari mereka bisa menemukan cara untuk memperbaiki hubungan mereka, tetapi saat ini, situasinya begitu dingin dan canggung. Ia hanya bisa berharap bahwa perubahan positif akan datang dalam waktu dekat.
Beberapa saat kemudian Attar melihat ke arah sofa. Di sana, ia melihat Zahra sudah terlelap tidur di bawah selimut yang telah dia berikan. Setelah itu, Attar merasa pekerjaannya sudah selesai dan menutup laptopnya dengan perasaan lega. "Akhirnya selesai juga," ucapnya pelan.
Setelah menutup laptopnya, Attar mulai merenung sejenak, lalu memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang sangat nyaman di sana. Ia tampaknya sama sekali tidak peduli dengan keberadaan Zahra di sofa. Attar memandang ke arah sofa dengan ekspresi dingin, sambil berkata pelan, "Salah sendiri, kenapa juga mau jadi pengantin pengganti. Menyebalkan."
Keesokan paginya, Zahra bangun lebih awal dan tersenyum melihat jam dinding masih menunjukkan pukul 04.00 pagi. Dia berpikir, "Akhirnya aku tidak kesiangan." Zahra kemudian memutuskan untuk pergi ke dapur untuk memasak sarapan.
Setelah mencuci mukanya di kamar mandi, Zahra menuju ke dapur untuk mempersiapkan bahan makanan. Di dalam dapur, dia membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan makanan. Saat sedang sibuk dengan persiapan makanan, tiba-tiba seseorang masuk ke dapur dan bertanya, "Nona, sedang apa?" Zahra pun segera melihat ke arah sumber suara dan menemukan bahwa itu adalah Bi Asih. Dengan ramah, Zahra menjawab, "Saya sedang mempersiapkan sarapan, Bi Asih."
Di waktu yang sama seseorang juga masuk ke dapur.