8. SI TAMPAN ROBIN

1302 Kata
Senin pagi ini, Velov sedikit bersemangat untuk memulai hari. Entah karena tidurnya yang pulas dan panjang di hari minggu kemarin, atau karena pesan yang dia dapatkan pagi ini. Ya, pesan dari Robin yang menawarinya untuk makan siang bersama nanti. Dan tentu saja di setujui oleh Velov. Velov berfikir, tidak ada salahnya dia mencoba untuk membuka hati nya terhadap orang baru. Velov bukan gadis yang polos-polos banget, dia paham sikap yang ditunjukin Robin kepadanya adalah sebuah ketertarikan Kenapa Robin bisa tau nomor telpon Velov? Dan Velov sudah tau pasti jawabannya adalah dari abangnya. Tanpa perlu bertanya velov tau itu dan dia tidak masalah soal itu. Apakah velov sudah jatuh cinta sama Robin? Jawabannya tentu saja belum. Velov hanya perfikir jika sudah cukup rasanya dia memberikan waktu untuk hatinya menerima kepergian tunangannya Demian. Dia tau harus tetap melanjutkan roda kehidupannya, dan salah satu tujuan hidup ini adalah menikah dan memiliki keturunan. Velov juga tidak ingin menghabiskan masa tua nya seorang diri kelak, karena orang tua dia tidak punya. Berbicara tentang Robin, Velov akui dia tertarik secara visual terhadap laki-laki itu. Robin gagah sama dengan Keenan, dia tampan dan hangat. Jika di gambarkan sekilas secara visual Robin itu ibarat matahari, hangat dan indah seperti orang-orang akan senang jika berdekatan dengannya, kalau Keenan lebih seperti bulan indah namun dingin. Aahh kenapa Keenan lagi yang terfikir, bahkan waktu dia memikirkan calon gebetannya. Sedetik kemudian dia memukuli kepalanya pelan ‘gebetan apanya, orang aku baru tertarik sama fisik nya aja’ omel velov pada dirinya sendiri. Velov belum merasakan perasaan apapun pada Robin, sejauh ini dia memang masih menilai Robin dari fisik nya saja. Apa salahnya kan mencoba? Toh hampir kebanyakan orang kalau mencari pasangan itu biasanya dari mata turun ke hati. Velov sarapan dan bercengkrama sebentar dengan mbok yem, sebelum akhirnya dia melajukan mobilnya menuju café. Hari ini sepertinya dia akan sibuk sekali, karena harus menyelesaikan banyak berkas yang akhir-akhir ini di abaikannya Ketika kemarin mood nya sering anjlok. Hingga tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk oleh Winda. Tok..tok.. “masuk” seru velov yang masih tetap serius dengan perkerjaannya. “bu, ada tamu yang sedang menunggu di ruang sebelah. Katanya sudah buat janji sama ibu” ucap Winda sopan memberitahukan tujuannya. Velov menepuk jidatnya pelan, dia sampai lupa kalau ada janji dengan Robin. “oke, bentar lagi saya kesana, makasih Win” jawab velov tersenyum. Setelahnya Winda pamit keluar dan disusul oleh velov yang sudah siap dengan tas dan handphone nya. “maaf ya..pasti lo lama ya tadi nungguin gue dibawah?” ucap velov sambil nyengir sungjkan pada Robin. “gak masalah, selama apapun kalau nungguin Wanita cantik di depan gue ini, gue rela kok” balas Robin sambil tersenyum lebar hingga menampakan lesung pipinya. “pinter banget ngegombalnya, sampek deg-degan ini jantung gue” celetuk velov menanggapi gurauan Robin. Dan setelahnya terdengar tawa renyah Robin yang senang dengan pembawaan Velov. “emang iya?? Waah bentar lagi enggak jomblo dong gue” sahut Robin sambil berdiri, bersiap untuk pergi dengan Velov. “sa ae lo..” tanggapan Velov sambil mensejajari Langkah laki-laki itu. Robin dan Velov bercengkaram dengan seru nya dalam mobil hingga tidak terasa mereka sudah sampai di restorant yang mereka tuju. Mereka sama-sama merasa kalau mereka cocok dalam banyak obrolan, banyak hal yang mereka bicarakan dan semuanya nyambung. Kali ini Velov memilih kursi di lantai bawah, bukan di VIP seperti sebelum-sebelumnya. Dia ingin menikmati suasana restoran yang berkonsep alam ini. Robin menarik kursi untuk Velov duduki. “makasih” ucap Velov sambil tersenyum. “ oke cantik…” jawab Robin juga tersenyum kecil. Setelah memesan beberapa makanan dan makanan sudah di hidangkan, mereka berdua makan dengan di selingi obrolan-obrolan ringan seputar pekerjaan masing-masing. Hingga tidak terasa semua makanan yang mereka pesan sudah berpindah ke dalam perut mereka. “hahaha gilak sih ini, makanan tadi banyak lo, dan gak nyangka kita bisa ngabisin semua” tawa Robin terdengar bangga dengan apa yang baru saja mereka lakukan. (Padahal apa yang perlu di banggakan dari makan banyak seperti itu kan ya?? Yawes lah sebahagianya Robin aja) “lo biasanya kalau makan dikit? Kalau gue sih emang doyan makan” sahut Velov terkekeh ikutan pamer ke doyanan nya terhadap makanan. “masak?? Tapi kok tubuh lo tetep ramping-ramping aja? Rutin nge GYM?” heran Robin sekaligus takjub sama Wanita yang tidak ada jaim jaim nya ini. “gak juga, gue paling males olahraga. Palingan lari-lari aja dan itupun sesempetnya gitu. Ya berarti ini emang anugerah buat gue” “gak bisa gemuk” lanjutnya sambil nyengir. “bener banget, anugerah lo banyak amat perasaan. Udah cantik, gak bisa gemuk pula” jawab Robin menimpali. “apanya yang banyak?? Cuman dua juga yang lo sebutin” jawab Velov sambil pura-pura manyun. Dan malah sukses bikin Robin tertawa lebar. Mereka tidak sadar, kalau di meja paling sudut restorant ada hati yang sedang terbakar cemburu melihat interaksi mereka berdua yang terlihat sangat dekat. Kemudian seseorang itu mengambil foto Velove dan Robin yang terlihat jelas wajah mereka sedang tertawa Bahagia. Setelahnya dia mengirmkan foto tersebut kepada anak buah nya. ‘cari tau siapa wanitu itu, saya mau besok sudah ada laporan lengkapnya’ tulisnya kemudian di bawah foto yang sudah terkirim. Tanpa ada perasaan curiga dan lainnya, Robin mengantarkan Velove Kembali ke cafenya dan dia langsung balik ke kantor. “makasih makan siang nya.. next gue yang traktir lo” ucap Velove setelah turun dan sebelum menutup pintu mobil Robin. “oke, kalau begitu nanti gue gak akan sungkan buat nagih traktiran lo” jawab Robin dengan cengiran khas nya. Setelah melambaikan tangan tanda perpisahan, Robin melajukan mobilnya meninggalkan pelataran café. Velove membalikan badannya dan berlalu memasuki cafenya, kemudian langsung naik ke lantai dua. Tidak ada yang sadar jika daritadi mereka di ikuti oleh seseorang. (waduh siapa ini yang lagi nargetin Velove? Semoga tidak jahat-jahat amat ya orang nya) Di kantor Robin sudah ditunggu oleh Wanita cantik yang bernama Dira, Dira ini adalah salah satu dari puluhan wanita yang terobsesi kepada Robin. Bedanya Dira memiliki ke istimewahan bisa dekat dengan Robin, karena dia juga adalah teman kecil dari Robin, Yang di gadang-gadang akan di jodohkan dengan Robin nantinya. Meski pengumuman soal perjodohan mereka belum resmi keluar dari mulut kedua orang tua mereka. Tapi Dira sudah merasa kalau Robin adalah miliknya. “Dari mana aja sih bin? Gue udah laper nungguin lo dari tadi” ucap Dira manja sedikit merajuk. Dia berdiri dari duduknya ingin memeluk laki-laki itu. Robin menghindari pelukan Dira, dan dengan dingin dia berucap “jangan kebiasaan peluk orang sembarangan, dan gue juga gak nyuruh lo nungguin”. “CK..selalu aja kayak gitu. Temenin gue makan yuk” pinta Dira setelahnya, Dira sudah biasa dengan perlakuan dingin Robin, makanya dia tidak sakit hati sama sekali dengan laki-laki itu. Dira merasa lebih baik memang Robin bersikap dingin seperti itu, supaya tidak ada wanita yang berani mendekatinya. Yang dia tidak tau adalah, Robin bisa sehangat Mentari jika sedang berada dengan orang-orang yang menurutnya special. Seperti mama dan Velove contohnya. Robin hanya menunjukan sikap hangat dan manja ke mama nya jika sedang berdua saja dengan mamanya. Jadi meski sudah puluhan tahun Dira mengenal Robin dan keluarganya dia tidak pernah tau sisi Robin yang seperti itu. Dari kecil Robin sudah tidak menyukai keberadaan Dira yang selalu menempelinya, itu sangat mengganggu menurutnya. Tapi dia juga tidak enak kepada kedua orang tua Dira kalau Robin menolak anaknnya secara terang-terangan. Kedua orang tua Dira sangat baik dan Robin menghargai mereka, makanya sampai sekarang dia masih membiarkan Dira terus berkeliaran di sekitarnya. “gue barusan makan, dan silahkan lo keluar karena gue lagi banyak kerjaan” usir Robin terang-terangan. Dengan wajah cemberut Dira menghentak-hentakan kaki nya kemudian keluar dari ruangan Robin tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Robin menghembuskan nafas nya lega Ketika Dira keluar dari ruangannya. Kemudian dia melanjutkan pekerjaannya yang memang sedang banyak. Dia tidak bohong soal itu ke Dira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN