9. Bintang Kecil

940 Kata
Comedy [I. Bintang Kecil di Langit yang Biru] "Mami nggak mau tahu ya, Bintang di sana baik-baik kuliahnya, jangan bikin masalah lagi, soalnya Mami sama Papi mau liburan dulu di Malaysia, Mami ngidam mau nyobain es ABC yang di kartun anak itu loh Bi!" Bintang memutar bola matanya keki, apa-apaan ini, alasan tidak masuk akal apa lagi yang dituturkan maminya?! Laki-laki berparas sok tampan itu, memang tampan sih, membalas kesal. "Suka-suka Mami aja lah, sekalian aja ketemu sama Upil-Ipilnya sana, ah!" Bintang mendengus mengusir. "Ganggu banget nelpon-nelpon, Bintang mau lanjutin tidur ini Mi!" Jam dinding menunjukkan pukul 12 siang, waktu yang tepat untuk Bintang tidur seharian, nanti malam ia berencana pergi ke kelab, agar dapat dikelilingi wanita-wanita cantik bersama teman setongkrongan. Hehew. "Kamu jangan sampe tidur sama cewek ya Bi, nanti Mami mutilasi kamu!" Bintang berdecak, "Loh kok jadi ke cewek, lagian kan cuma tidur doang, nggak ngapa-ngapain Mi!" Terdengar suara grasak-grusuk yang mengganggu, dengan refleks yang bagus, Bintang menjauhkan ponsel dari telinganya sejenak. "Papii Bintang nggak mau nurut nii!!!" "Ehh kok ngadu ke Papi?!! Iya iya, Bintang nggak akan tidur sama cewek, Mami sayang." ....tapi boong. Bintang menambahakan dalam hati dengan durhaka. "Janji?" "Iya janji ah! Udah tutup, Bintang mau tidur!" [II. Amat Banyak, Menghias Angkasa] Namanya Bintang Valentino, cowok yang senang bergonta-ganti pacar. Oh iya dong, muka ganteng pamali buat dianggurin, haha! Karena ini cerita fiksi remaja, Bintang adalah lelaki tajir melintir, cakep kebangetan, juga playboy humoris gitu, pokoknya kayak cowok-cowok di novel fiksi remaja kebanyakan deh! Tapi bedanya, Bintang bego, ehew, pinter nggak, tukang modus iya, haha. "Bi-bii sayang makasih ya buat hari ini." Sherly berucap sesudah turun dari motor besar (motor yang mirip di sinetron Anak Pemulung), si gadis membenarkan sejenak rambut iklan samponya biar tambah mantav. Sejujurnya capek sih, tapi, ya udah deh nggak papa, lumayan juga, Bintang memperhatikan penampilan Sherly sejenak, setidaknya Bintang memang tidak pernah salah memilih selera perempuan, Sherly adalah gadis populer, putih nan cantik, uhuy. Bintang mulai menaik-turunkan alis menggoda, untung cakep, coba nggak, udah disumpahin cepet meninggoy kali sama orang-orang lewat. "Apa yang nggak buat cewek cantik?" Ia berujar menggombal, yang dihadiahi senyum malu-malu Sherly. "Cium pipi dulu dong karena udah ditemenin." Seperti biasa diakhiri dengan kemodusan. Yap, kalau dihitung dosa seorang Bintang Valentino banyak banget, kebanyakan malah, sampe tumpah-tumpah beluber nggak muat. Setelah mendapatkan apa yang ia mau dari Sherly, laki-laki berambut hitam tersebut mengarahkan motornya ke arah tempat tongkrongan, berakhir pada kelab malam sampai lupa tugasnya sebagai Mahasiswa bahwa ia tetap harus mengerjakan tugas apa pun keadaannya, oh lupa, Bintang kan orang kaya, bisa bayar orang buat ngerjain tugasnya dong, hahaw, indahnya hidup~ [III. Aku Ingin~ Terbang dan Menari] Bintang berjalan terhuyung menuju kamar apartementnya, jam dinding menunjukkan pukul 3 pagi, di mana yang lain sedang menyelami mimpi indah mereka, suer deh, Bintang cuma minum dua gelas-eh apa tiga gelas ya? Pokoknya cuma segitu koo pas di kelab, Bintang nggak mabuk-mabuk amat! Serius! Suer-tekewer-kewer! Bintang memasukan kunci ke knop pintu dengan susah payah, merasa kesal karena kuncinya tidak masuk-masuk, ia mengumpat keki, mengabsen satu per satu hewan di kebun binatang (kebiasaan Bintang, biar nggak lupa nama-nama hewan). Karena masih susah juga, Bintang mengayunkan asal kakinya ke arah kardus dekat pintu apartement, entah kardus itu milik siapa, Bintang mendengus, mulai berujar ngawur, "Bimsalabimm, pintu terbukalah! Elah! Kok nggak kebuka-buka siiih! Ngantuk nih, besok gue kuliah pagi pintu b*****t!" Tepat saat itu suara tangisan bayi terdengar, Bintang melotot, "Berisik anjing!" Murka laki-laki itu pada angin kosong, padahal yang nangis bayi, tetapi selalu anjing yang disalahin, kesian emang jadi anjeng. Tangisan bayi semakin keras mengudara, memenuhi lorong apartement. Bintang mencari asal suara penuh amarah, merasa kesal sendiri pada siapa pun orang tua bayi tersebut, sebentar...! sebentar, sebentar, sebentar, sebentar!!! Di lorong apartemen mevvah Bintang kan harusnya nggak ada siapa-siapa, secara dia kan milih apartement termahal-terkeren-terekslusif-terexprensip-ter-ter-lainnya, istilahnya bagian vipnya! Terus itu bayi siapa anjir?! Secara instan kantuk Bintang menghilang, pengaruh alkohol dalam dirinya tidak lagi menguasai, ia menundukkan pandangan ke arah kardus kumuh-bau-jelek persis kayak kardus abis dari pembuangan sampah, iyuch, ia baru menyadari bahwa ada kardus di depan apartementnya, jadi, yang sedari awal ia tendang-tendang adalah kardus berisi bayi?! Oke ulang biar lebih drama. Kardus berisi bayi?!!!!!!!! Bintang histeris, "Ini bayi siapa anjritt?!!!" [IV. Jauh Tinggi ke Tempat Kau Berada] "TANG BANGUN LO BABI!" Delan berteriak, menggedor-gedor pintu apartemen yang ia ketahui dihuni oleh manusia sinting bernama Bintang Valentino, si teman satu tongkrongan, si teman satu seperjuangan, pula si teman jahanamnya, ehew, biar kalau di neraka ada temennya geis. "BERANI-BERANINYA LO BOLOS KULIAH NGGAK NGAJAK-NGAJAK!!" "PINTUNYA NGGAK DIKUNCI b*****t!" sahut Bintang dengan suara terendam di dalam sana, sama-sama ngegas. Delan mendorong pintu kasar sehabis mendengar balasan Bintang yang terdengar di telinganya. "Tang lo-" Delan melotot dengan tidak elit. "LO ABIS MELAHIRKAN TANG?!" "Manusia anjing!" Bintang menoleh, memberi sorot emosi, lingkaran hitam terhiasi di bawah mata, wajah pucat, pula kelihatan sekali memiliki banyak beban pikiran. Ia menghela napas. "Dari tadi gue nggak bisa tidur gegara ni bocah nangis terus, tapi akhirnya dia bisa tenang juga." Ia melirik ke arah Delan yang kini sudah asik memakan kacang toples. "Dia masih bayi, belom jadi bocah, bego." Delan berbicara sembari mengunyah, tidak peduli bila suara kunyahannya berisik memenuhi ruangan. "Lo abis ngehamilin siapa?" Mata Delan beralih ke arah bayi berbungkus selimut yang sedang dipindahkan Bintang ke kamar lelaki itu. Bintang membalas tak acuh, "Gue nemu." Tangannya menggapai jus jeruk di lemari pendingin setelah menaruh aman bayi temuannya. "Di depan pintu apartemen." "Kenapa lo nggak taro dia di panti asuhan?" Delan memberi saran menggunakan nada bertanya. "Nggak! Gue udah ngasih dia nama, namanya Bintang Kecil, kita udah terhubung kek anak sama bapak." "Jelek banget namanya t***l!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN