CHAPTER 6
Pagi ini Hana bangun pagi-pagi sekali. Berniat datang ke sekolah sebelum yang lain datang. Ya malu lah.
Semalam itu rasanya... Ya Tuhan! Kalian rasakan saja sendiri.
Jam 05.00 Hana susah rapi dan langsung sarapan.
"Bun, berangkat ya." ucap Hana pamitan.
"Lah, lu mau ngapain ke sekolah jam segini! Tidur?" kak Winni bertanya heran.
"Gapapa. Biar dikata anak rajin." ujar Hana asal.
Dan tanpa menunggu pembahasan lagi, Hana pun berangkat ke sekolah.
5.30. AM.
Tepat sekali. Hana datang bersamaan dengan pak Saeb. Jadi gak usah nunggu lama-lama deh.
"Tumben neng jam segini udah dateng." sapa Pak Saeb ramah.
"Haha Pak. Iya nih lagi pengen dateng pagi. Duluan ya pak." ucap Hana masuk.
Kemana ya?! Masih pagi gini. Aha! Perpus aja.
Hana pun menaiki tangga menuju perpus. Untung sudah di buka. Duduk di bagian pojok paling belakang, dan merebahkan kepalanya di meja. Dalam hitungan menit, Hana sudah berlayar ke alam mimpi.
***
Seberkas cahaya membuat sepasang kelopak membuka,memperlihatkan mata cokelatnya yang begitu indah. Hana terbangun dari tidurnya. Melihat jam tangan dan ia dibuat kaget. Sekarang sudah jam 10.15. Itu artinya udah pelajaran ke tiga. Dan dari tadi ia bolos.
Kabar buruk.
Masih mengumpulkan nyawa, ia mengucek-ngucek matanya dan melihat jam lagi.
1
2
3
Mampus telat!!
Buru-buru Hana keluar meninggalkan perpus. Aduuhhh! Mana sekatang pelajaran ekonomi lagi. Mampus deh gurunya galak!
Dengan napas tersegal ia menaiki undakan-undakan tangga agar sampai di kelasnya.
Pintu kelasnya sudah tertutup. Pasti udah ada guru di dalem.
Brak! Hana membuka pintu.
Terimakasih atas partisipasinya. Selamat pagi.
Membatu di tempatnya. Tak ada Bu Ida di dalam, melainkan anak OSIS yang sedang meminya sumbangan. Mata cokelatnya bertatapan dengan iris hitam. Dan....
CIEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE....
MATI!
"Han, twitter lo apa kabar?"
"Itu elo yg mention kan!"
"Jan bilang dibajak deh.."
Hana mengabaikan mereka. "Ini sumbangan apa?" tanya Hana mencoba biasa.
"Untuk belasungkawa siswa 10-3 IPA."
Hana mengeluarkan uang sakunya dari kantung seragam dan memberikan uang 5.000-an.
"Thank's." ucap Abra dan akhirnya meninggalkan kelas.
Hana sendiri pun buru-buru berjalan ke arah kursinya dan duduk tanpa memperdulikan sorak sorai menggoda dari teman-temannya.
"Lo kemana aja ampe bolos 2 mapel gitu?" tanya Amoy begitu Hana duduk.
"Ketiduran di perpus."
Baru saja Amoy ingin melanjutkan, namun Bu Ida sudah memasuki kelas dengan tumpukan buku di tangan.
"Kumpulkam PR kalian!"
Para siswa pun berbondong-bondong mengumpulkan tugas.
Mampus lagi! Hana belom ngerjain.
Oh Tuhan, selamatkan Hana kali ini.
"Siapa yang tidak mengerjakan?" tanya Bu Ida menakutkan.
"Hana bu." ceplos Amoy!
Tai. Dasar teman!
"Kerjakan PR mu di lapangan!" tegas bu Ida, dan tanpa membantah Hana pun berjalan keluar kelas.
Sepanjang perjalanan Hana pun merutuki nasibnya dan juga Amoy.
"Elah. Apes bat gue hari ini!"
"Amoy t*i pake ngomong segala!"
"k*****t ihhh."
"Panas banget ya allah."
"Mampus, cowo kelasannya Abra lagi maen basket di lapangan!"
"Yaelah, mana Abranya kece bat lagi!"
"Ga bakal konsen ini mah!" ujar Hana berbicara kepada diri sendiri.
Hana udah gemeter duluan. Ia pasti bakal jadi bulan-bulanan anak seangkatan. Apa lagi teman-temannya Abra. Halaaaahhh, nasib.
Berharap mereka tidak menyadari kehadirannya pun Hana hanya berdiri di pinggir lapangan dan mulai membuka bukunya.
"HANA! KE TENGAH JANGAN DIPINGGIR!"
Bu Idaaaaaaaaaa!
Cowok-cowok IPA di lapangan pun menoleh saat mendengar kata Hana.
"ADA YANG MAEN BASKET BU!" Hana balas berteriak.
"IBU GA PEDULI!"
Anjir tuh guru.
Dengan malas, Hana pun berjalan ke tengah lapangan yang panas. Persetan dengan gengsi, ia pun duduk dan mulai mengerjakan PR nya dengan keringat yang mulai keluar.
"Ih, ada Hana. Mau nyamperin Abra ya? Nih Abra nya nih..." ucap Endang seakan menyodorkan Abra saat Hana baru menyelesaikan satu soal. Malas menanggapi, Hana hanya diam.
"Aduh tumbem Na diem aja pas ada Abra. Padalah biasanya udah kayak cacing uget-ugetan." tambah Rizal.
Hana masih diam.
"Lu ngapain Na kesini? Mo modusin Abra?" tanya Rey.
Bodo lah.
"Abra, cewe lo ngapa itu? Tumben dia diem!" tanya Fahmi kepada Abra.
"Naber kali." Abra mengangkat bahu.
Hana membelalakkan matanya, "enak aja! Engga naber kok! So tau banget."
"Yaelah. Giliran Abra aja di sautin!" ucap Endang.
Udah. Hana beneran diem. Cape. Panas banget. Ga ada suara yang mampu ia keluarkan lagi. Fokus Han! Tugasnya belom kelar. Bisa diamuk Bu Ida nanti.
Lagi-lagi teriakkan meledek terdengar. Kali ini datang dari Aji, teman sekelas Hana yang datang dari arah toilet. Jago bat acting- nya
"a***y, HANA BISA BAT MODUSNYA. I LOVE YOU MUHAMMAD ABRA. HAHAHAHHA"
Kesabaran Hana habis. Ia kesal. Malu. Risih. Bercampur menjadi satu. Dengan cepat Hana bangkit. Mengambil bola basket yang ada di dekatnya dan melempar dengan kekuatan penuh.
BUGH!
"t*i LU HAN! ANJIR SAKIT!"
Bola basket itu sukses menghantam kepala Aji.
"Kebanyakan bacot sih lu! Sorry ya!" ucap Hana tanpa niat.
Anjir, sangar juga si Hana.
"Apa liat-liat! Mau ngeledek juga?" ucap Hana galak kepada cowok kelas 12-1 IPA yang saat itu tengah memperhatikannya.
Dengan pandangan takjub sekaligus geli, mereka pun menggelengkan kepala. Tak ada yang menyangka gadis se kalem dan semanis Hana mampu melempar bola basket sekencang itu.
Dari pada kena lempar Hana, anak-anak cowok itu memilih untuk meninggalkan lapangan. Namun ada yang aneh. Abra. Ya, bukannya melangkah menuju koridor, Abra malah berjalan mendekati Hana.
Hingga mereka saling berhadapan. Apa yang Abra pikirkan?! Entahlah. Mungkin ini saat yang tepat. Sudah terlalu lama ia membuat Hana sakit hati.
***