#17

618 Kata
CHAPTER 17   Goblok! Pas Hana pergi tuh rasanya kayak ada yang nonjok jantung gue. Keras banget. Lo g****k Abra! Lo udah punya cewe. Lo udah punya pacar yang perjuangin lo lama. Harusnya lo ngerti gimana rasanya ngeliat cowok lo lebih milih sama cewe lain. Harusnya lo ngerti gimana rasanya saat lo tau kalo cowok lo lebih ngutamain cewe lain! Alah! t*i kucing laahhh! Abra mengusap wajahnya kasar. Dari wajahnya terlihat jika cowok itu tengah frustasi. Bingung harus ngapain. Ga tau mau kemana sekarang. Dan ia hanya bisa merutuki dirinya sendiri. Mengejar Hana? Ia yakin gadis itu butuh waktu. Diam ditempat? Perasaannya ga enak. Dan akhirnya ia hanya berdiam diri sambil menyebut banyak kata maaf dan bodoh. * Bego lo Han! Ngapain sih lo ngomong kayak gitu. Harusnya lo bisa nahan diri. Gimana coba kalo Abra mutusin lo! Ihhh, t*i banget laahh. Sesekali Hana melihat ke belakang. Bahkan lo ga ngejar gue. Bahkan lo ga coba jelasin semuanya ke gue. Ah, g****k! Ngapain dia ngejar lo. Nembak juga cuma karna kasian doang... Tapi gue belom rela ngelepas Abra. Baru sebulan njiirrr! Gadis itu melangkah entah kemana. Mengikuti alur yang dibuat oleh kaki-kaki nya. Hingga ia berhenti tepat di studio musik yang sepertinya tidak dikunci. Ia pun masuk dan menutup pintu keras. Menyender dibaliknya dan air mata mulai jatuhi pipinya. Hana menangisi Abra untuk pertama kalinya. "Kamu kenapa Han?" Wtf? Ada orang ternyata. "Andien?" Ujar Hana kaget. "Iya ini aku, kamu kenapa?" Ujar Andien lagi sambil menari Hana untuk duduk. Hana menatap Andien ragu lalu menggelengkan kepalanya. "Gue gapapa kok Ndien." "Gapapa sampe nangis gitu. Udahlah Han, coba cerita. Ga baik mendem masalah." Ucap Andien lembut. "Gue ribut sama Abra." Ucal Hana tanpa menatap Andien. Andien terlihat kaget. Entah beneran atau pura-pura. "Kok bisa?" Tanya Andien. Hana diam sebentar. Mungkin ini saat yang tepat untuk bicara dengan Andien sebagai perempuan. "Karna gue jelous dengan kedeketan Abra sama lo. Gue ngerasa kayak bukan gue yang pacarnya dia. Tapi elo Ndien." Jawab Hana takut-takut. Tapi mungkin ini yang terbaik. Mungkin Andien akan sadar dan sedikit menjaga jarak dengan Abra. Katakan dia jahat, tapi ia juga punya perasaan. "Gue tau lo bermaksud untuk ngomongin perasaan sesama perempuan. Kalo lo bilang lo jelous sama kedeketan gue sama Abra yang nyatanya gue bukan siapa-siapanya Abra, gimana perasaan gue Han?" Ucap Andien masih dengan senyumnya. Jawaban yang keluar dari mulut Andien berbeda jauh dengan ekspetasinya. Hana mengernyit bingung. "Maksud lo apaan si Ndien? Gue ga paham." "Udah lah Han, lo pasti ngerti kok." Ada jeda sebentar diantara keduanya. "Gue mohon tolong jangan jadi yang ketiga diantara gue sama Abra. Gue serius sama dia Ndien. Jangan jadi pho." Ujar Hana terlihat memelas tak punya pilihan lain. "Sebenernya yang jadi orang ketiga itu gue apa elo?" Jawab Andien yang entah itu pertanyaan atau pernyataan. "Kenapa sih lo selalu ngomongin hal yang gue ga paham?" "Oke gue jelasin. Gue udah bareng sama Abra selama 6 tahun. Dan tiba-tiba lo masuk ke kehidupan kita. Sedangkan lo baru sama Abra ya 2 tahun terakhir dan gue masuk ke dalamnya. Jadi yang jadi orang ke tiga itu siapa? Yang jadi tukang tikung itu siapa? Yang jadi PHO itu siapa? Dan yang jahat itu siapa?" Ujar Andien tanpa beban. Setelah mendengar kalimat itu, seperti aja yang menohok hatinya. Halus, tapi menampar. "Gue yakin lo tau rasanya gimana Han, saat lo berjuang selama 6 tahun tanpa respon balik. Dan bahkan cuma dianggep sahabat. Gue yakin lo tau gimana rasanya. Lebih sakit gue kan." Ucap Andien lagi. "Kebetulan banget ya kita ketemu disini. Jadi bisa saling ngomong." "Emm, gue balik ya. Gws buat hati lo. Longlast sama Abra." Ujar Andien bangkit dan terdengar debam pintu tertutup. Jadi selama ini, Andien juga suka sama Abra? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN