7. Dibawa Pergi

1559 Kata
"Mas ngomong apa sih?" tanya Zeya memicingkan matanya. "Bukan apa-apa, ayo masuk." "Aku mau ngambil barang-barang yang mau dibawa ke Jakarta, oh ya nanti di Jakarta langsung ketemu keluarganya Mas Jio nggak?" "Iya." "Kalau gitu aku pingin memperkenalkan diri sebagai istri Mas pake gaun pengantin." Lazio mendekatkan wajahnya, membuat Zeya otomatis mundur hingga hampir jatuh dari kursi pelaminan. Lazio menahan pinggang Zeya tanpa peduli pandangan orang-orang. "Mas mau apa? Ada banyak orang di sini." Istrinya sangat menggemaskan hingga ingin ia telan, pertama kenal di pesawat, Zeya sangat arogan penuh tantangan, wanita bercadar yang seolah tak tertarik padanya sedikit pun. Tapi sejak ijab kabul, Zeya banyak bicara. Panggilan 'Mas Jio' dari bibir Zeya terdengar imut. Sebelumnya ia tidak pernah menemukan hal semenarik ini, perasaan ingin menggenggam seorang wanita. "Datanglah ke rumahku menggunakan gaun pengantin, akan aku kenalkan kau ke seluruh keluarga besar ku." Keluarga besar yang dimaksud adalah para tukang pukul yang berjumlah ratusan di markas utama, puluhan ribu yang tersebar di markas provinsi, Esen kepala bisnis keluarga Siluet, Elgar adik angkatnya, Paman Jamal kepala tukang pukul, serta puluhan kapten. Zeya akan menjadi bagian dari keluarga Siluet, nyonya besar pemimpin mafia, gadis bercadar ini akan gemetar ketakutan karena pernikahannya jauh dari ekspektasi. Lazio sangat tidak sabar menantikan hal tersebut. Pasti sangat lucu. Dari dulu ada dua tipe wanita yang Lazio jaga, pertama wanita yang menjaga diri dari pria dan yang kedua wanita yang taat pada Tuhan. Menurutnya wanita seperti itu memiliki kehormatan, sebagai pria sejati ia tidak akan merusak kehormatan itu. Zeya memenuhi keduanya dan Lazio tertarik di pertemuan pertama mereka. Hari ini ia tidak bisa menahan diri. Melanggar prinsipnya dan menjadikan Zeya istri, ia berniat menaklukkan wanita itu. "Iya aku pake gaun pengantin ke rumah Mas, walaupun pasti risih banget naik mobil pake gaun pengantin." Zeya mendorong Lazio supaya duduk tegak kembali, membuat pria itu melepaskan tangan dari pinggangnya. "Siapa bilang pakai mobil? Kamu nggak percaya aku punya pesawat pribadi?" Mendengar itu Zeya diam sejenak. Mungkin mengingat bahwa Lazio pernah mengatakan punya pesawat pribadi. "Ah, pakai pesawat pribadi... aku belum pernah naik. Ini pengalaman pertamaku, maaf kalau aku norak." "Hahahaha... mulai sekarang kau akan sering naik pesawat pribadi." Zeya tampak canggung, tidak tahu apa yang dipikirkan ia malah berdiri. "Ayo masuk ke dalam, aku mau membereskan barang yang mau dibawa ke Jakarta." Gadis itu mengangkat gaun pengantin yang terlihat sangat anggun, berwarna putih dengan mahkota kecil di atasnya. Zeya menuruni anak tangga menuju pintu. Lazio bisa menebak ini hanya rumah sederhana dua lantai. Lazio berjalan mengikuti Zeya masuk ke dalam, sebelum masuk rumah ia mengecek ponsel. Pesan dari Esen memenuhi notifikasi. Tadi pagi ia sempat dinasehati untuk tidak pergi. Tuan, apakah anda benar-benar pergi ke rumah gadis itu? Pesan yang dikirimkan jam 9 pagi. Lalu jam 12, Esen mengirim pesan lagi. Tuan, saya bisa carikan gadis lain, tolong jangan kacaukan pernikahan orang. Kami akan sulit membereskannya. Lazio menyeringai membacanya, Esen sangat paham dirinya yang hendak bermain-main di pernikahan Zeya. Tanpa disangka pernikahan ini adalah pernikahannya sendiri. Setelah berpisah dengan Zeya, ia terus memikirkan gadis itu. Tidak tahu kenapa rasanya kesal mendengar Zeya akan menikah. Seolah dia sudah dihadang sebelum maju. Itu membuatnya tidak suka. Mengingat dulu pernah tertarik pada wanita yang seperti Zeya. Tapi wanita itu malah sudah menikah dengan sahabatnya sendiri. "Mas, ayo!" Panggil Zeya. Lazio memasukkan ponselnya ke saku tanpa melihat notifikasi yang lain. Pun tidak membalas pesan dari Esen. "Iya. Aku datang." Lazio masuk ke dalam rumah sederhana itu, matanya melihat sekeliling. Orang-orang yang rewang melihatnya dengan mendongak, tinggi Lazio mencapai 180 cm. Hampir menabrak pintu. Lazio tersenyum ramah pada mereka, membuat para ibu-ibu itu senang. Menganggap bahwa pilihan Zeya menikahinya tepat. Tampan, kaya dan ramah. "Nak, duduklah di sini sembari menunggu Zeya." Abah memanggilnya ke ruang tengah. Sudah ada kedua kakak Zeya, mereka berwajah tampan dengan mata yang mirip Zeya. Ada kedua adik dan ibu Zeya. Rupanya dia sengaja ditunggu untuk diintrogasi. "Abah dengar kamu akan langsung membawa Zeya ke Jakarta?" tanya Abah setelah Lazio duduk. "Iya, Bah. Pekerjaan dan rumah saya di sana. Apalagi pernikahan ini tidak direncanakan, keluarga saya tidak sabar bertemu Zeya setelah diberitahu." Orang yang paling tidak sabar dia menikah adalah Paman Jamal, kepala tukang pukul berusia 52 tahun. Setiap hari selalu mengoceh tentang penerus dan segala macamnya. Selalu menyuruhnya berhenti bermain-main dengan wanita dan memilih salah satu untuk dijadikan Nyonya besar. "Apa keluargamu akan menerima pernikahan mendadak ini? Saya takut Zeya tidak diterima," ujar kakak pertama Zeya. "Zeya pasti diterima, saya jamin." "Apa pekerjaanmu?" tanya Kakak kedua. "Saya pebisnis," jawab Lazio. "Tenang saja, saya bisa menjamin Zeya hidup berkecukupan." Tatapan mata kedua kakak Zeya seperti ingin menusuknya, orang yang akan membawa lari adik perempuan mereka. "Oh ya Nak Lazio, Abah belum memperkenalkan anggota keluarga ini." Tangan Abah menunjuk kakak pertama. "Ini anak pertama Abah, namanya Aqlan Harith Ridauddin, masih kuliah S3 di Inggris. Insyaallah tahun ini selesai." Lalu Abah menunjuk kakak kedua. "Ini anak kedua Abah, namanya Hafizhan Raffa Khairy, masih kuliah S2 di Jepang. Anak ketiga Abah adalah Zeya. Zeyara Parvin Az-Zahra. Kuliah di UI, Jakarta." Berlanjut ke anak keempat, remaja yang Lazio perkiraan SMA. "Ini anak Abah ke empat, Zayyan Zainul Muttaqin. Masih SMA dan mondok menyelesaikan hafalan Qur'annya." Berlanjut ke anak perempuan yang memandang Lazio antusias. "Anak Abah yang terakhir, Haniya Pakiza Juri. Masih SMP, masih mondok juga sama kayak Zayyan." Mata Lazio bertatapan dengan gadis kecil itu. "Hay Mas Lazio, aku Hani, anak angkat Abah." Mendengar suara Hani yang ceria membuat Lazio tersenyum. "Hallo Hani, mulai hari ini aku kakakmu." "Aku senang banget akhirnya punya Mamas badboy. Gaya pakaian Mas Lazio keren, cara jalan keren, wajah ganteng, Mas Lazio kayak badboy di novel yang pernah aku baca." Mata Hani berkaca-kaca. Lazio tertawa mendengarnya, omongan Hani sangat benar. Dibandingkan ketiga saudara Zeya, dirinya sangat jauh berbeda, dari mulai gaya pakaian hingga latar belakang. Ia hanya lulusan SMP. Tidak kuliah dan hidup di dunia hitam. Kalau saja ia tidak memakai lengan panjang, keluarga Zeya akan sangat terkejut dengan tato di sekujur tubuhnya. Mereka pasti menyesal menikahkan putri mereka yang berharga dengan pemimpin bandit. "Hani, jangan ngomong kayak gitu." Ibu Zeya menegur. "Nggak papa, Bu. Yang Hani bicarakan benar. Dibandingkan dengan ketiga saudaranya, saya jauh berbeda. Saya tidak kuliah." Suasana menjadi tidak enak setelah mendengar ucapan Lazio, seolah Abah membanggakan anak-anaknya dengan mencantumkan tentang kuliahnya. "Kuliah nggak menjadi jaminan masa depan, Nak. Tolong jangan tersinggung." Abah buru-buru bicara. "Saya tidak tersinggung, karena orang-orang yang berkuliah malah bekerja di bawah saya." Sejak menjadi Tuan Besar, Lazio mengubah arah bisnis keluarga Siluet. Tidak lagi menjadi mafia murahan yang menjual narkoba dan miras. Ia membuat bank digital dan melakukan pencucian uang. Mendirikan perusahaan raksasa yang bergerak di segala sektor, Esen adalah orang yang menjadi kepala bisnis legal Siluet. Dijuluki genius muda berbakat. Tanpa ada yang tahu perusahaan di bawah kendali Esen sebenarnya milik Siluet. Orang-orang yang berkuliah itu bekerja di kantor perusahaan dengan bangga, mereka tidak sadar tengah bekerja pada mafia lulusan SMP. Dibandingkan orang-orang yang berkuliah, guru-guru di Siluet yang terbaik dari yang paling terbaik. Tidak bisa dibandingkan dengan guru biasa. Ia diajari tentang dunia dan cara mengendalikannya. Sesuatu yang tidak bisa dipelajari di sekolah umum. "Mamasku keren banget!" Hani sedikit berteriak. "Mbak Zeya beruntung banget, pasti pertemuan kalian so sweet kayak di novel-novel. Ceritain dong Mas." Kalau saja Hani tidak mencairkan suasana, sepertinya Lazio akan berperang dengan Aqlan dan Hafiz. Wajah mereka seperti akan mencakarnya. Pembicaraan kuliah yang sensitif. "Hmm pertemuan kami seperti novel roman picisan, Mbak mu itu menyelimutiku di pesawat, lalu memberikan jubah yang katanya oleh-oleh untuk calon suaminya." "Mbak Zeya kayak gitu? Berarti Mbak Zeya dong yang jatuh cinta sama Mas Zio duluan?" tanya Hani polos. "Bisa dibilang begitu." Kali ini Aqlan menanggapi. "Nggak mungkin Zeya agresif." "Coba aja tanya Zeya kalau nggak percaya," tantang Lazio. "Zeya sudah menyukaiku sejak pertama bertemu, kalau nggak, mana mungkin dia setuju menikah denganku." Bangganya. Tak lama kemudian Zeya keluar dari kamar, menghampiri Lazio yang tengah disidang keluarganya. Semua mata tertuju langsung pada Zeya. Mencari pembenaran atas ucapan Lazio. "Zeya, apa kamu ngasih Zio selimut dan jubah?" tanya Aqlan. Kakak pertama yang sangat overprotektif. Zeya tampak bingung lalu perlahan mengangguk, membuat perkataan Lazio dipercayai semua orang. "Iya soalnya di--" "Wah, udah jam segini. Kita harus segera berangkat." Lazio berdiri dan langsung memotong ucapan Zeya. "Mana barang bawaanmu?" tanya Lazio. "Aku cuma bawa koper kecil, selebihnya udah di Jakarta. Di asrama." Lazio berjalan membawakan koper Zeya, mereka berpamitan dan diantar sampai depan rumah. Tamu undangan sudah tidak ada yang datang, sekarang pukul delapan malam. "Kamu yang sehat ya, nduk. Abah senang karena kamu menikah dengan pria pilihanmu." Abah memeluk Zeya sejenak. "Kalau dia menyakitimu, langsung telepon Mamas. KTPnya masih ada di Mamas, nanti Mamas bisa langsung lapor polisi." Aqlan mengusap kepala Zeya. Sementara itu Lazio tertawa kecil mendengarnya, polisi dan pemerintah berada di bawah kendali Siluet sejak bertahun-tahun lalu. Pemimpin Siluet yang mengatur presiden, mana mungkin polisi menangkapnya. "Hani senang Mbak Zeya nikah karena cinta." Hani memeluk Zeya erat. "Cinta?" Zeya tampak bingung. "Kita berangkat dulu," ucap Lazio buru-buru menyalimi orang tua Zeya. "Wassalamu'alaikum, kami pergi dulu. Sampai ketemu di Jakarta." Zeya melambaikan tangan. Mereka naik mobil menuju bandara Abdulrachman Saleh. Hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit, Abah bilang secepatnya akan melakukan pertemuan keluarga dengan keluarga Lazio di Jakarta. Zeya dibawa pergi dengan keyakinan akan bahagia bersama Lazio, pria pilihannya. Tanpa ada yang tahu bahwa wanita itu dibawa ke sarang kriminal. bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN