9. Calon Mantu?

1437 Kata
“Mbak Erni, aku pamit dulu ya.” Ucap Bulan kepada Kepala Divisinya ketika hendak pulang. Mbak Erni yang sedang menginput data barang di komputer lantas menghentikan aktivitasnya sejenak. “Lho, enggak lembur ta?” Goda Mbak Erni sembari menjulurkan sedikit lidahnya. Mbak Erni kemudian melempar senyum usil kepada karyawan swalayan lainnya yaitu Mbak Eneng, sang Kepala Gudang. Bulan pun pada akhirnya masuk ke Gudang. Dimana Mbak Erni dan Mbak Eneng berada saat itu. “Hem, wani piro?” Ujar Bulan yang sudah rapi dengan keadaan yang benar-benar siap pulang. Sudah mengenakan jaket, tas ransel kepunyannya yang berwarna hijau army, kedua tangan yang sudah memakai sarung tangan berbahan wol, dan tak lupa dengan helm bogo-nya. “Lho, kan loyalitas tanpa batas.” Jawab Mbak Erni memasukkan lembaran-lembaran faktur barang ke dalam laci meja kerjanya. “Kerja tuh enggak usah ngoyolah. Waktunya pulang ya pulang. Enggak usah lembur-lembur. Apa itu lembur?” Ujar Bulan. “Lagian mau kemana sih? Biasanya juga pulang molor.” Kini Mbak Eneng yang bersuara. “Ya mau pulanglah Mbak Eneng sayang, mau rebahan terus ngedrakor. Hehe.” Jawab Bulan sambil menjulurkan tangan untuk salim kepada Mbak Erni dan Mbak Eneng bergantian. Meskipun usia Bulan saat ini dua puluh lima tahun, tetapi diantara karyawan KOPMA, Bulan adalah karyawan paling muda. Mbak Erni sang Kepala Divisi, Mbak Eneng Kepala Gudang, dan Mbak Resa partner kasir Bulan, mereka semua sudah berkeluarga. Usia mereka hampir sama juga, kira-kira tiga puluh mendekati tiga puluh satu tahun. “Besok masuk shift apa?” Tanya Mbak Erni yang sedikit mendongak menatap Bulan karena posisinya duduk masih menghadap layar komputer. “Pagi lagi. Mbak Resa masih ada acara katanya.” “Oke. Udah laporan sama Irsyad?” Irsyad adalah Kepala Bidang Personalia di KOPMA. Bagi karyawan yang tukeran jadwal atau masuk di luar jadwal di haruskan laporan supaya catatan di mesin absen tidak rancu. “Sudah Ibu Kadiv ku.” Jawab Bulan mencubit kecil pipi kanan Mbak Erni dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil. Melihat tingkah anak buahnya itu Mbak Erni bergidik ngeri. “Jangan gitu, enggak pantes.” Ujar Mbak Erni. Bulan dan Mbak Eneng tertawa. Lalu disusul Mbak Erni yang tertawa. “Udah ah, enggak balik-balik nanti aku. Udah ya, dadaah. Assalamualaykum.” “Wa’alaykumsalam.” Jawab Mbak Erni dan Mbak Eneng bersamaan. Bulan kemudian melangkah berlalu dari hadapan dua rekan kerjanya itu. Saat hendak menaiki motor maticnya, Bulan kemudian teringat sesuatu. “Eh iya, aku kan mau perpanjang SIM ya. Sekalian fotokopi dulu ah.” Bulan pada akhirnya berjalan keluar dari kawasan KOPMA. Saat melewati gerbang, Bulan dihadapkan deretan kios fotokopi yang berjejer. Karena kawasan tempat kerja Bulan termasuk daerah padat mahasiswa, maka jangan heran pemandangan yang terlihat saat keluar dari lingkungan KOPMA adalah kios fotokopi dan warung makan atau warteg. Keadaan saat itu lumayan lengang. Tidak begitu ramai seperti disaat pagi hari. Bulan kemudian menghampiri salah satu kios fotokopi milik Pak Baron. Bulan sendiri mengenal Pak Baron karena Pak Baron sering mengantar anak-anaknya yang masih kecil untuk membeli jajanan di KOPMA. “Assalamualaykum, Pak Baron.” “Waalaykumusaalam, eh Mbak Bulan.” Pak Baron menyapa dari balik mesin fotokopi. “Mau fotokopi ini dong.” Bulan menyodorkan beberapa surat asli untuk difotokopi. Ada SIM dan STNK motornya. Pak Baron menghampiri dan menerimanya kemudian mulai memfotokopi. “Mau berapa lembar?” “Emh, masing-masing tiga lembar deh.” “Sip.” Tak lama kemudian Pak Baron datang dan membawa pesanan Bulan. “Monggo Mbak Bulan.” Ucap Pak Baron sambil menyerahkan KTP dan SIM milik Bulan. “Mau diplastik enggak?” “Boleh Pak.” Pak Baron kemudian memasukkan lembaran-lembaran fotokopian ke dalam plastik bening. “Berapa Pak?” “tiga ribu, Mbak.” Bulan mengambil uang di saku gamisnya dan menyerahkan ke Pak Baron. “Pas ya Pak uangnya, matur suwun Pak Baron.” “Nggih, sami-sami Mbak Bulan.” Bulan kemudian berbalik badan dan melangkah meninggalkan kios Pak Baron. Ketika hendak menyebrang untuk masuk lagi ke kawasan KOPMA, tiba-tiba pandangan Bulan tertuju kepada seorang ibu-ibu yang duduk di pinggir jalan dengan posisi memegang perutnya. Seperti menahan sakit. Kedua mata Bulan membelalak melihat keadaan itu. Dengan sigap dan rasa khawatir Bulan mengambil langkah cepat menghampiri ibu-ibu tersebut. “Ibu, Ibu kenapa?” Tanya Bulan sesaat setelah berada di samping ibu-ibu itu. “Perut saya tiba-tiba sakit Mbak, aduh.” Jawab ibu-ibu dengan raut wajah yang terlihat jelas menahan rasa sakit. “Ibu kuat berdiri? Yuk duduk di sebelah sana. Atau mau saya gendong?” Tanya Bulan memegang bahu ibu-ibu itu. “Tidak, tidak perlu di gendong Mbak, saya, saya masih kuat jalan kok.” “saya bantu ya Bu.” Bulan kemudian membantu ibu-ibu itu berdiri dan memapahnya untuk duduk di kursi panjang milik salah satu kios fotokopi yang sedang tutup. “Ibu mau minum?” “Enggak usah Mbak.” Jawab perempuan paruh baya itu yang ternyata adalah Nyonya Andri, Mamanya Fatra. “Ibu mau kemana?” “Saya tadi dari rumah teman saya, tidak jauh dari sini. Saya niatnya mau keluar sebentar mau beli beberapa barang di supermarket depan gang. Eh, tau tau kok perut saya sakit.” Jawab Nyonya Andri masih memegangi perutnya. “Ibu sudah ke supermarketnya?” Nyonya Andri menggeleng. “Mau saya belikan aja po barang-barangnya? Biar Ibu tunggu di sini.” “Enggak usah Mbak, nanti malah merepotkan.” “Insyaallah enggak merepotkan kok Bu.” “Tidak usah, saya mau istirahat sebentar di sini.” “Ibu sudah makan?” Nyonya Andri menggeleng untuk kedua kalinya. Bulan melempar senyum. “Kalau begitu, Ibu enggak boleh menolak kali ini. Makan ya, saya ada beberapa roti. Masih baru, belum saya makan sama sekali.” Ujar Bulan sambil membuka tas ranselnya dan mengeluarkan beberapa roti sobek yang masih utuh. Kemasannya belum terbuka sama sekali. “Ibu harus makan ya, sedikit enggak apa-apa. Atau Ibu ada magh?” “Sepertinya memang magh Ibu kambuh Nak.” “Ibu mau yang rasa apa?” “Apa saja boleh.” Bulan kemudian membuka kemasan roti varian cokelat, kemudian menyerahkannya kepada Nyonya Andri. Nyonya Andri menerima roti itu dengan tatapan yang lembut kepada Bulan. “Terimakasih.” Ucap Nyonya Andri lirih tapi terdengar jelas di telinga Bulan. “Sama-sama Ibu, monggo dimakan. Dihabiskan juga tidak apa-apa.” Nyonya Andri melempar senyum yang memperlihatkan gigi rapinya. Melihat Nyonya Andri yang memakan rotinya dengan lahap, tanpa sadar Bulan mengukir senyum manis di bibirnya. Tak berapa lama kemudian roti yang dimakan Nyonya Andri habis tak bersisa. Ternyata Nyonya Andri benar-benar lapar. “Nah sekarang minum ya.” Bulan menyodorkan air mineral yang masih bersegel kepada Nyonya Andri. Mau tidak mau Nyonya Andri pun menerimanya. Hampir separuh air mineral ditenggak Nyonya Andri. Terlihat sekali raut wajah Nyonya Andri yang diawal sedikit pucat kini jadi lebih cerah dan segar. “Terimakasih sekali lagi ya, Nak.” Ucap Nyonya Andri. “Sama-sama Ibu.” Balas Bulan sambil membereskan bungkus roti, kemudian memasukkannya ke dalam tas. “Rumah teman Ibu di mana? Mau saya antar sekalian?” Tanya Bulan menawarkan bantuan untuk mengantar Nyonya Andri ke kediaman temannya. “Enggak usah, saya sudah kirim pesan ke anak saya biar jemput saya di sini.” “Oh, baik kalau begitu. Saya tinggal enggak apa-apa Bu?” “Emh, boleh saya minta temenin sampai anak saya sampai di sini?” “Boleh, boleh Bu.” Jawab Bulan mengangguk beberapa kali. Tadi ketika ditengah-tengah makan roti, Nyonya Andri memang menyempatkan mengirim pesan kepada Fatra untuk menjemputnya di posisinya saat ini. Ketika mengirim pesan ke Fatra, Bulan sedang membuka handphonenya juga. Lalu tak lama kemudian, mobil hitam milik Fatra sudah terlihat dari kejauhan. “Itu, anak saya.” Ujar Nyonya Andri. Dan Bulan pun melihat ke arah yang dimaksud. Bulan kemudian membantu Nyonya Andri berdiri. Bulan kemudian memakai masker menutupi bagian wajahnya dari hidung sampai ke bawah dagu. Mobil Fatra kini sudah berhenti di hadapan dua wanita yang sama-sama mengenaka hijab syar’i itu. Fatra keluar dari mobil dan menghampiri sang mama. “Magh Mama kambuh lagi?” Tanya Fatra dengan nada khawatirnya. “Iya. Hehe.” Jawab Nyonya Andri Santai. “Alhamdulillah ada Mbak ini yang nolong Mama.” Imbuh Nyonya Andri. Fatra melihat Bulan sekilas. “Makasih Mbak sudah menolong Mama saya.” Ucap Fatra kepada Bulan. “Sama-sama Mas.” “Ibu, kalau begitu saya pamit dulu ya. Hati-hati di jalan.” “Iya, terimakasih ya Mbak sekali lagi.” Bulan hanya mengangguk dan melempar senyum di balik maskernya. Bulan kemudian melangkah berlalu dari hadapan Ibu dan anak itu. “Sepertinya, cocok jadi menantu Mama, Tra.” Ujar Nyonya Andri tanpa basa-basi yang langsung disambut dengan bombastis side eyes-nya Fatra. Apa? Calon mantu???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN