Bab 01

2015 Kata
Toma General Hospital Fukushima — Frefektur Miyagi 12/08/2018 11.45 AM . . . "Huweee~" jeritan demi jeritan hingga tangis melengking terdengar jelas dari ruang rawat inap khusus balita. Baru saja Nanase masuk bersama seorang perawat yang membawa trolley penuh peralatan untuk memeriksa para balita itu, mereka sudah ketakutan dan menangis sejadinya. Beberapa dari mereka bahkan mencoba kabur dengan memanjat bahu ibunya untuk menghindari suntikan. Melihat respon spesial dari mereka untuk menyambutnya, perawat di sebelah Nanase hanya tertawa sambil berkomentar. "Apa Ichi- sensei terlihat seperti monster di sini sampai mereka selalu berniat kabur seperti itu?" komentar si perawat hanya dijawab kekehan tak bersemangat oleh dokter bernama lengkap Ichiharada Nanase tersebut. Padahal waktu mereka masuk ke kamar lain, anak-anak di sana hanya mengabaikannya dan sibuk dengan mainan mereka, tapi setiap mereka masuk ke ruangan ini, anak-anak itu akan langsung menangis hanya melihat mereka masuk. "Rata-rata anak-anak di sini berusia sekitar satu sampai tiga tahun, wajar kalau otak mereka merekam kejadian yang tidak mereka sukai sebelum bertemu denganku. Apalagi, kita datang kemari kemudian mengeluarkan jarum suntik, stetoskop dingin dan pinset tajam, juga gunting dan kasa yang seperti alat-alat untuk menyembelih hewan, wajar saja mereka menjerit takut." Candanya. Perawat di sebelah dokter yang lebih akrab dipanggil Nanase itu hanya bisa terkekeh setiap kali Nanase menjelaskan alasan mereka selalu terlihat seperti monster setiap masuk ke dalam ruangan itu. Karenanya, setiap kali melakukan pemeriksaan rutin di jam piket paginya, Nanase dulu memenuhi trolley mereka dengan beberapa hadiah kecil, seperti mainan-mainan kecil, bros-bros lucu dan permen warna-warni. Mungkin awalnya mereka menangis karena takut saat melihat jas putih dan trolley yang seperti sudah terekam di kepala mereka kalau itu adalah sesuatu yang mengerikan. Tapi, saat Nanase mendekati mereka, memberikan permen-permen yang dia bawa, sedikit demi sedikit tangis salah satu anak berhenti, diikuti oleh anak-anak lainnya yang penasaran dengan apa yang diberikan Nanase pada anak pertama yang dia hampiri. Orang tua yang awalnya merasa bingung karena anak-anaknya menangis ketakutan, akhirnya bisa bernapas lega dengan metode pendekatan yang dilakukan dokter berusia tiga puluh satu tahun itu. Bahkan, sambil memberikan permen-permen atau mainan kecil yang dia bawa pada anak-anak balita tersebut, Nanase tak berhenti berceloteh tentang hal-hal lucu yang membuat tertawa. Selama Nanase terus berceloteh, anak-anak itu terkadang bertepuk tangan sambil bertanya beberapa hal yang akan dengan mudah dijawab olehnya, setelah semua anak itu terlihat lebih tenang, satu persatu Nanase menggendong atau menaruh anak ke dalam pangkuannya, memberi mereka permen lagi sambil terus bercerita, Nanase pun mulai melakukan tugasnya. Dokter yang awalnya terlihat mengerikan pun sudah tidak membuat takut lagi, bahkan saat stetoskop dingin menyentuh d**a dan perut mereka pun mereka tidak lagi menangis. "Kami benar-benar beruntung kalau dokter seperti Ichiharada- sensei terus mendapat jadwal piket pagi." Ujar salah satu orang tua saat menerima anaknya setelah selesai diperiksa oleh Nanase. "Di sini ada cukup banyak dokter, jadi aku tidak mungkin terus-terusan dapat piket pagi. Lagi pula, bukankah mereka luar biasa karena tidak menangis?" Jawab Nanase menempelkan hidungnya pada hidung si balita, menggosoknya hingga tertawa karena geli. "Anda benar! Tapi dokter lain tidak pernah memberikan mainan atau pun permen pada anak kami, lagi pula mereka biasanya hanya akan bicara 'sudah-sudah, tidak apa-apa' begitu." Protes salah satu orang tua balita tersebut, namun Nanase hanya menanggapinya dengan sebuah senyum ringan lalu mengambil balita lain untuk dia periksa. Setelah pemeriksaan berakhir, Nanase dan para orang tua balita itu masih sedikit bercakap soal keadaan balita-balita itu pada orang tua mereka, beberapa bahkan sudah ada yang boleh pulang besok karena sudah tidak perlu lagi ada pengobatan. Mendengarnya orang tua itu sangat lega, setelah berterima kasih sekali lagi, Nanase bersama perawat tersebut segera keluar dan membiarkan balita-balita itu bermain dengan mainan juga permen yang dia berikan. "Hehe, Ichi- sensei, anda selalu seperti ini, padahal setiap dapat giliran pemeriksaan ke bangsal ini hanya anda yang datang sambil membawa macam-macam mainan berbeda setiap hari, sebelumnya tidak ada dokter yang melakukan hal seperti yang anda lakukan. Apalagi Minato- sensei, mungkin saja anak-anak menangis karena ingat bagaimana mereka diperiksa oleh Minato-sensei." Tapi setelah selesai, Nanase malah memukul punggung perawat tadi dengan tangannya karena gemas. "Hanya sedikit mainan tidak akan membuatku bangkrut, dan jangan bicara seperti itu tentang dokter Minato! Kau akan dapat masalah kalau ada orang lain yang mendengar ini." "Hehehe ... maafkan aku." Sambil terus berjalan di lorong, Nanase melihat jadwal lainnya di clip board yang dia taruh pada bagian bawah trolley, tapi jadwalnya sudah selesai secara keseluruhan dan tidak ada hal lain yang bisa Nanase lakukan setelah ini. "Apa Yuruizawa-sensei ada jadwal operasi hari ini?" "Yuruizawa-sensei ... apa anda ingin ?" "Biar aku yang menaruh trolley- nya, bisakah kau meminta jadwal operasi Yuruizawa untuk hari ini?" "Tidak, akan saya lakukan setelah menaruh ini di pantry." Seperti tidak menerima penolakan, Nanase menghentikan perawatan itu untuk terus mendorong trolley-nya dan kembali meminta pada perawat itu untuk memeriksa jadwal milik Yuruizawa. Usai perawat tadi pergi meninggalkannya di lorong, Nanase mulai mendorong trolley itu menuju pantry yang berada tepat di sebelah ke pos jaga, di sana bukan hanya ada dia sendiri, ada beberapa perawat pria yang sedang memeriksa stok obat dan jarum suntik juga obat-obatan lainnya sebelum meminta pada store untuk re- stok. Karena perawat itu terlihat cukup sibuk menghitung, Nanase hanya menjawab ketika perawat itu menyapanya dan membiarkan dia bekerja tanpa mengajaknya bicara lagi. Sudah terhitung tiga tahun sejak Nanase bekerja di rumah sakit tersebut sebagai dokter spesialis anak. Meski kadang dia dapat giliran piket di UGD, tidak jarang juga kemampuannya diuji sebagai dokter umum yang harus bisa melakukan banyak hal seperti operasi darurat saat tidak banyak yang bisa dia mintai tolong. Sambil duduk di salah satu kursi di ruangan yang hanya ada lemari-lemari kaca berisi obat dan peralatan medis, Nanase memeriksa kembali data pasien yang baru saja dia periksa. Meski anak-anak balita itu terlihat baik-baik saja tanpa selang infus atau masker oksigen saat dia masuk ke dalam sana tadi, tapi penyakit mereka tidak bisa dikatakan biasa. Beberapa yang datang padanya mengalami penyumbatan di jantung mereka, paru-paru mereka bermasalah dan ada cairan mengendap di usus besar mereka yang mengharuskan mereka melakukan metode besar seperti operasi. Beberapa dari anak-anak itu sudah selesai dioperasi, menunggu untuk pemulihan dan pulang ke rumah seperti anak-anak lainnya agar bisa kembali bermain bebas, tapi beberapa lain masih harus berjuang melawan rasa sakit di tengah senyum mereka yang sangat lebar saat Nanase memberi mereka mainan atau permen. "Ichi-sensei?" Panggil perawat yang tadi dia suruh pergi, sudah kembali membawa selembar kertas yang dia dapat dari petugas reservasi ruang operasi. "Oh, bagaimana?" "Saya hanya mendapatkan ini," ujarnya kemudian menyerahkan selembar kertas pada Nanase. Pria itu menerimanya dengan senyum lebar kemudian berkata terimakasih penuh semangat. "Terima kasih." "Hari ini, untuk pemeriksaannya terima kasih, sensei." Ujar perawat itu kemudian meninggalkan Nanase untuk melakukan pekerjaannya yang lain. "Tidak masalah, tidak masalah." Nanase tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya. Selain jadwal kerjanya hari ini tidak terlalu banyak, ini hari juga adalah jumat dan semua staff sedang on karenanya tidak ada yang saling mengandalkan, jadi Nanase memilih untuk melihat beberapa operasi yang dilakukan temannya itu. Menurut catatan jadwal yang dia terima dari perawat tadi, seharusnya operasi pertama akan dilakukan pukul sebelas nanti. Sambil berjalan meninggalkan pantry stok, Nanase berpapasan dengan beberapa perawat yang menyapanya. Di rumah sakit ini, Nanase cukup terkenal, bukan hanya di kalangan perawat khusus untuk anak-anak tapi hampir semua perawat menyukai Nanase karena keramahan pria itu. Namun tidak sedikit juga orang yang secara terang-terangan mengatakan kalau mereka tidak menyukai Nanase. Nanase sendiri tidak terlalu ambil pusing dengan penilaian orang-orang tentangnya, yang dia lakukan sekarang hanya bekerja dan mencari uang untuk bertahan memenuhi semua kebutuhan hidupnya juga memperjuangkan hidup pasiennya. Langkahnya terhenti saat dia baru saja berbelok ke arah lift, ketika pintu lift itu terbuka, mata Nanase langsung berbinar terang melihat seseorang yang sangat ingin dia temui hari ini, sontak saja dia langsung meregangkan tangannya agar bisa memeluk orang itu. "Yoro~!" jerit Nanase sambil melompat ke arah pria yang memakai jas dokter seperti dirinya. Hampir saja mereka jatuh kalau orang yang dia panggil Yoro itu tidak berpegangan pada besi pagangan khusus pada lift, dan Yoro masih menyangga berat mereka dengan lutut yang sedikit tertekuk dan siku yang sedikit berhasil menggapai ujung lift hingga mereka bisa sedikit berlega karena tidak jatuh. "Ap—pa-apaan kau?!" Paniknya saat Nanase bertingkah seperti bocah. Tanyanya marah dengan kelakuan kekanakan yang diperlihatkan oleh Nanase sekarang. "Aku bosan sekali~" "Kalau kau bosan pergi periksa pasienmu!" "Aah~ aku tidak mau~ anak-anak itu setelah kuberi mainan langsung mengabaikanku~" rengeknya seperti anak kecil. Itu Yuruizawa Maeda, dokter spesialis bedah d**a dan perut dari divisi Kardiologi, pria tinggi yang sejak tadi ingin sekali ditemui oleh Nanase. Siapa sangka kalau mereka akan bertemu di lift, tentu saja dia senang. "Hentikan rengekan mengerikanmu itu, dan berhenti memanggilku YORO! Panggil aku Yuruizawa!" "Aaa~ aku tidak mau memanggilmu Yuruizawa, kau juga tidak membiarkanku memanggilmu Maeda, jadi biarkan aku memanggilmu Yoro, ayolah~ sahabat tercintamu ini sangat merindukanmu~" "Gah! Menjijikan, menyingkir dariku!" Yuruizawa mencoba menyingkirkan Nanase dengan tangannya tapi pria itu merekat erat seperti lem, bahkan setiap Yuruizawa semakin menekan kekuatannya, Nanase semakin kuat memeluknya. "Hei, Nanase?" Panggil Yuruizawa menyerah, kelakuan aneh temannya ini akan semakin aneh kalau dia terus memaksa keluar dari permainan konyol itu, jadi Yuruizawa memilih membiarkan Nanase malakukan apa yang dia mau dan saat dia memanggil Nanase, pria itu hanya melenguh, "berhentilah membeli benda-benda tidak berguna hanya untuk memeriksa anak-anak." "Hee~ kenapa? Itu kan lucu?" Nanase menarik dirinya sedikit menjauh dari Yuruizawa saat temannya itu memberi komentar untuk apa yang dia lakukan. "Kau lihat dirimu? Gunakan saja uangmu itu untuk membeli hal-hal berguna dan berhenti membelanjakannya untuk sampah seperti itu." Mendengar ucapan bernada kasar dari Yuruizawa, Nanase hanya tersenyum tipis. Dulu, saat pertama kali datang untuk bekerja di divisi Padiatrik, dia juga melakukan apa yang semua seniornya lakukan. Memeriksa dan melakukan semua metode tanpa mengindahkan tangisan anak-anak karena perasaan takut mereka saat melihat dokter atau perawat, tapi atas rasa kemanusiaan Nanase tidak bisa tetap melakukan metode itu. Kasihan sekali rasanya kalau harus tetap mendengar mereka menangis sementara mereka sudah cukup menderita dengan rasa sakit mereka di usia sekecil itu. Jadi, kehilangan sedikit uang untuk membuat mereka tersenyum tentu itu tidak akan membuatnya bangkrut, bukan? Hanya saja, sejak Nanase mulai melakukan pemeriksaan dengan cara seperti itu, tidak semua orang mendukungnya. Beberapa kali dia dipanggil oleh kepala penanggung jawab—Minato Hanashi—untuk memintanya menghentikan apa yang dia mulai, bahkan beberapa senior juga melakukan hal yang sama, tapi Nanase tetap tidak ingin berhenti. "Hei, nanti malam mau minum? Aku punya voucher khusus dari paman warung sake itu! Dia memberiku setengah harga untuk malam ini!" Yuruizawa mendengus saat Nanase mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. Lift yang mereka naiki terbuka, Yuruizawa bergegas melepaskan tangan Nanase yang sejak tadi menempel seperti lem padanya dan berjalan keluar. Meski dia berharap Nanase berhenti merengek ke arahnya, tapi pria itu sama sekali tidak berhenti mengekorinya. "Yoro! Kau mau ke mana?" "Aku mau ke ruanganku!" "Hee~ mau apa kau di sana?" "Tentu saja bekerja! Aku bukan kau yang setiap hari hanya berlari kesana-kemari sambil melakukan hal-hal bodoh!" "Hal bodoh apa? Aku hanya memeriksa beberapa pasien, menggoda beberapa perawat da—" "Tunggu! Kau melakukan apa? Menggoda siapa katamu?" "Perawat." Jawab Nanase seolah tak ada kesalahan dalam pengucapannya. Tapi, Yuruizawa malah sebaliknya. "Dengar seberapa pun buruknya kau di pekerjaanmu, jangan pernah menggunakan wajah sialan ini untuk menggoda perawat di rumah sakit ini! Lakukan saja trik menjijikanmu itu untuk menggoda wanita yang kau temui di trotoar seperti yang sering kau lakukan!" "Hee~ tega sekali kau mengatakan 'wajah sialan ini' pada wajahku? Kau lupa kalau aku sudah masuk daftar orang paling tampan di rumah sakit ini menurut survei dari para perawat." Sebelah alis Yuruizawa berkedut mendengar ucapan itu, "Survei apa itu? Orang bodoh macam apa yang dengan berani sudah membuat survei menggelikan semacam itu? Nanase tersenyum bangga, dia menjulurkan telunjuk dan menaruhnya tepat di tengah-tengah antara kedua alis Yuruizawa. "Ckckck ... kau harus lebih banyak bergaul agar bisa mendapat peringkat itu! Sejak beberapa bulan lalu, semua perawat wanita di sini sudah membuat daftar dan membuat nominasi mereka sendiri dan menentukan kalau akulah pemegang gelar 'dokter paling tampan' di Toma General Hospital ini dan kau hanya berdiri di posisi ketiga!" "Ho~ lalu siapa di peringkat keduanya?" "Masih aku!" "Mana ada satu orang menduduki dua peringkat sekaligus!" "Tapi it— " "Yuruizawa-sensei!" Teriak seorang perawat panik sambil berlari ke arah mereka. _
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN