Dengan jantung yang berdegup kencang saat menantikan momen mendebarkan baginya, yaitu ciuman pertama yang belum pernah ia rasakan. Zaara yang masih memejamkan kedua matanya, masih menunggu pria yang dipanggilnya Om Arkan itu semakin mendekati wajahnya.
Sementara itu, sudut bibir Arkan melengkung ke atas saat melihat gadis kecil di depannya yang diketahuinya belum pernah berciuman itu memejamkan kedua matanya. Entah mengapa ia sangat tergoda dengan bibir tipis di depannya, yang seolah memanggilnya untuk segera menyesapnya. Arkan semakin mendekat, bibirnya mulai bersentuhan dengan bibir tipis yang sudah tidak sabar ia cium.
Dan di saat bibirnya sudah mendarat di atas bibir tipis berwarna merah jambu itu, ia mulai mengulum, dan menyesapnya perlahan. Seolah ingin merasakan rasa manis dari benda kenyal di depannya. Puas mengecupnya, Arkan mulai melumat bibir tipis itu dan sedikit menggigitnya agar gadis di depannya itu mau membuka mulutnya. Sedangkan tangan kirinya menahan tengkuk belakang Zaara dan tangan kanannya berada di pinggang ramping gadis dibawah umur tersebut.
"Gadis nakal ini benar-benar belum pernah berciuman, terbukti ia hanya diam saja saat aku menciumnya. Dia terlalu lugu dan seperti anak kecil yang membutuhkan sebuah perlindungan. Karena jika orang lain yang menciumnya, mungkin dia akan benar-benar diperkosa. Nasib baik kamu bertemu denganku gadis nakal, jadi aku hanya akan menciummu saja. Karena aku tidak akan pernah memperkosamu. Mungkin aku hanya kasihan padamu, karena nasibmu sepertinya sangat menyedihkan," gumam Arkan.
Arkan mulai mengeksplore setiap sudut bagian dalam rongga mulut Zaara dan melesakkan lidahnya untuk mengabsen di sana. Bahkan ia sudah semakin terbawa suasana, seolah tidak rela untuk melepaskan pagutannya.
Sementara itu, Zaara yang masih memejamkan kedua matanya, terlihat menggenggam erat tangannya dan merasa kebingungan saat pria yang baru ditemuinya beberapa saat yang lalu sudah sibuk dengan bibirnya. Seolah nalurinya mulai berjalan, kedua tangannya memegangi kemeja pria yang menciumnya untuk berpegangan. Karena tubuhnya seolah lemas saat merasakan sensasi berciuman untuk pertama kalinya. Tubuhnya seolah terjangkit aliran listrik begitu bibirnya dikuasai oleh pria yang tidak kunjung melepaskan pagutannya.
Arkan tersadar dari perbuatannya yang sudah diluar batas, begitu merasakan pasokan oksigennya mulai habis. Refleks ia melepaskan pagutannya dan netra dengan silinder hitamnya mengamati wajah imut nan menggemaskan yang berjarak beberapa centi di depannya.
"Dasar gadis bodoh, bahkan dia hanya diam saja saat aku menciumnya tanpa membalas sama sekali. Gadis ini benar-benar belum pernah berciuman dan sama sekali tidak mempunyai pengalaman," gumam Arkan.
"Buka matamu, gadis nakal! Ternyata kamu sama sekali tidak berbohong, karena aku baru saja mengetesmu," ujar Arkan yang masih tidak berkedip menatap wajah cantik nan menggemaskan di depannya.
Sebenarnya Zaara sangat menyadari bahwa pria yang dipanggilnya Om itu sudah melepaskan bibirnya, tapi ia yang merasa sangat malu, tentu saja dirinya merasa sangat bingung harus berbuat apa. Dan saat ia mendengar suara bariton yang menggema di ruangan kamar terbaik tersebut, ia refleks perlahan membuka matanya. Permukaan kulit wajahnya sudah berubah merona karena merasa sangat malu harus berkata apa pada pria di depannya.
"A-apa Om? Mengetesku? Apa Om pikir aku adalah kelinci percobaan? Bahkan tadi adalah ciuman pertamaku, tapi Om sudah mencuri seenaknya. Akan tetapi, Om malah dengan sangat santainya bilang mengetesku? Wah ... sungguh sangat luar biasa. Aku sudah seperti seorang gadis bodoh saja," keluh Zaara dengan sangat kesal.
Arkan yang hanya bersikap datar dan santai, berjalan meninggalkan Zaara yang sudah bersungut-sungut kepadanya. Ia mulai melepaskan satu persatu kancing kemeja yang dipakainya dan mulai melepaskan dari tubuhnya.
"Aaarrrh ....!"
Zaara sontak menjerit saat melihat tubuh sixpack dengan banyaknya otot perut kotak-kotak terpampang nyata di depan matanya. Meski ia yang sesaat sempat terpesona dengan keindahan dari bentuk tubuh pria tampan yang baru saja menciumnya, tapi ia merasa sangat malu saat melihat seorang pria setengah t*******g di depan matanya. Refleks ia menutup kedua matanya dengan tangannya.
"Om, jangan macam-macam padaku! Apa Om berniat memperkosaku!" teriak Zaara yang mencoba mengintip apa yang akan dilakukan oleh pria yang berada agak jauh di depannya dengan cara sedikit membuka celah-celah jarinya.
Arkan masih diam dan tidak mengeluarkan suaranya, karena ia terlihat membuka koper miliknya dan mengambil kaos casual. Kemudian ia mulai memakainya seraya melirik ke arah gadis yang masih menutup wajahnya dengan jemarinya.
"Aku merasa risi memakai pakaian basah akibat perbuatanmu tadi. Tidak perlu berpura-pura menutupi matamu jika kamu mengintip apa yang aku lakukan," ejek Arkan yang melangkahkan kaki panjangnya ke arah sofa. "Duduklah, aku ingin bicara padamu!" Mendaratkan tubuhnya di atas sofa dan menatap penuh dengan seringai jahat pada gadis yang masih memakai seragam SMA tersebut.
Zaara membuka tangannya yang dari tadi menutupi wajahnya, tak lupa ia mengerucutkan bibirnya karena merasa sangat kesal dengan ejekan dari pria di depannya tersebut. Karena tidak mempunyai pilihan lain, ia terpaksa menuruti perintah dari pria tampan yang sudah menyilangkan kakinya.
"Memangnya Om mau berbicara apa padaku?"
"Aku akan mengganti rugi atas ciumanku tadi dengan nemberimu banyak uang. Bukankah kamu perlu uang untuk membayar SPP? Jadi, aku akan menanggung semua kebutuhanmu, mulai dari keperluan sekolah dan juga keperluan pribadimu. Anggap saja aku Om atau daddy mungkin. Kamu cukup menemaniku saat aku pergi keluar, karena aku akan berada di Jakarta selama 1 bulan. Anggap saja kamu menjadi sugar baby untukku," jawab Arkan yang mengamati ekspresi dari gadis yang duduk tak jauh dari tempatnya. "Bagaimana? Apa kamu tertarik dengan penawaranku?"
Zaara refleks langsung membekap mulutnya begitu mendengar perkataan dari pria tampan incarannya. Perasaannya benar-benar sangat tidak menentu saat keinginannya untuk menjadi seorang sugar baby terwujud. Bahkan yang menawarinya adalah seorang pria tampan yang baru saja menciumnya.
"Gila ... gila, mimpi apa aku semalam? Hingga keinginanku untuk mencari daddy tercapai. Tanpa susah-susah aku mencari, malah datang sendiri. Aaarrhh ... aku harus bilang apa pada Om Arkan. Aah ... bukan Om Arkan, tapi aku harus memanggilnya daddy Arkan. Akan tetapi, aku harus berpura-pura jaga image dulu, jangan langsung menerima tawarannya, agar dia tidak curiga padaku," gumam Zaara.
"A-apa Om? Sugar baby?" tanya Zaara yang berpura-pura bodoh, seolah tidak mengerti apa itu sugar baby.
"Sepertinya kamu tidak tahu apa itu sugar baby bukan? Kalau begitu, aku akan menerangkannya padamu. Kamu harus siap kapan saja saat aku memanggilmu untuk menemaniku pergi kemana-mana. Tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu sedikit pun. Karena aku hanya memperkerjakanmu."
"Oh ... jadi cuma itu, Om? Akan tetapi, aku masih sekolah, apakah Om mau menunggu saat aku pulang sekolah? Atau aku bolos sekolah saja saat Om membutuhkan aku untuk menemani Om pergi?" tanya Zaara yang mencoba mengorek informasi mengenai apa tugas dari seorang sugar baby.
"Tenang saja, aku terbiasa tidur larut dan bangun agak siang karena terbiasa seperti itu saat bekerja di New York. Jadi, aku akan memanggilmu saat siang setelah kamu pulang sekolah. Tugasmu hanya menemaniku pergi makan, keluar menemui rekan bisnis selama di sini. Hanya itu, dan sebagai imbalannya, aku akan memberikanmu ponsel, pakaian, tas, sepatu dan melunasi biaya sekolahmu. Apakah kamu sudah mengerti Zaara?" Arkan meraih dompetnya dan mengambil kartu kredit black card yang tidak sembarangan orang memilikinya.
Kemudian ia menyerahkannya pada gadis yang berada di sebelah kanannya. "Ambil ini, dan belilah apapun yang kamu sukai."
"Wah ... gila, kartu kredit black card? Sebenarnya siapa Om Arkan ini? Hingga ia bisa memiliki kartu black card yang tidak sembarangan orang memilikinya. Sepertinya Om Arkan benar-benar sangat kaya," gumam Zaara.
"Ini buat aku Om?"
"Bukan," sentak Arkan dengan suara baritonnya.
"Oh ... aku pikir buat aku, Om." Zaara terlihat sangat kecewa.
"Dasar bodoh, tentu saja buat kamu. Memangnya buat Ayahmu?" hardik Arkan dengan tatapan jengah pada gadis kecil di sebelahnya.
"Ya ampun, terima kasih Om. Ehm ... apakah aku boleh memanggilmu Daddy Arkan? Karena aku lebih suka memangil Daddy daripada Om," ucap Zaara dengan tatapan intens.
"Terserah kamu mau memanggilku apa saja. Sekarang pergilah, aku ingin beristirahat." Arkan mengibaskan tangannya dan berjalan ke arah ranjang. Lalu, ia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang king size tersebut.
"Daddy tidak merasa takut aku kabur? Apakah Daddy sangat mempercayaiku?" Zaara yang sudah bangkit dari sofa, menanyakan hal yang ada dipikirannya. "Daddy kan tidak bisa menghubungi aku jika saat ini aku pergi. Bagaimana kalau aku kabur?"
"Kabur saja," jawab Arkan yang sudah memejamkan kedua matanya.
"Astaga, kenapa Daddy Arkan bisa sesantai itu sih. Bikin geram saja," sahut Zaara yang sudah bersungut-sungut.
"Jika kamu kabur dariku, berarti kamu adalah gadis bodoh. Karena merupakan sebuah keberuntungan bagimu saat bisa berada di dekatku. Pergilah, besok siang sepulang sekolah, datanglah ke sini!" Arkan yang sudah sangat mengantuk setelah melakukan perjalanan jauh selama lebih dari 20 jam dari Amerika, membuatnya sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya. Karena terlihat ia menguap beberapa kali.
"Iya Dad, aku akan tiba di sini besok setelah pulang sekolah. Kalau begitu, aku pergi dulu Daddy Arkan." Zaara menatap siluet pria yang terbaring di atas ranjang king size dengan posisi tengkurap.
"Baiklah, pergilah!" Arkan masih memejamkan kedua matanya.
"Oh iya Dad."
"Astaga, apa lagi?" hardik Arkan yang merasa terganggu dengan suara dari gadis kecil tersebut. Sehingga ia refleks langsung membuka matanya dan berbalik badan untuk menatap tajam Zaara.
"Apakah aku boleh minta uang untuk naik angkot, Dad? Aku tidak punya uang sama sekali. Tidak mungkin kan aku naik angkot dengan membayarnya memakai kartu kredit," ucap Zaara seraya menggaruk rambutnya yang tidak gatal, tak lupa senyuman tipis menghiasi bibirnya.
Arkan terlihat geleng-geleng kepala begitu mendengar perkataan dari Zaara, lalu ia mengambil uang 500 ribu dan menyerahkannya pada gadis yang berdiri cukup jauh dari ranjang. "Nih, ambil dan pergilah!"
"Terima kasih Daddy, aku sangat menyayangimu," jawab Zaara yang terlihat berbinar saat berjalan mendekat ke arah Arkan untuk mengambil uang tersebut dan tak lupa ia mencium pipi pria tampan tersebut. Kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan kamar hotel dengan sesekali berdendang, seolah mengungkapkan perasaan bahagianya.
"Dia pasti sangat senang begitu mendapat kartu kredit. Dasar gadis nakal," rengut Arkan seraya mengarahkan tangannya untuk mengusap bekas ciuman Zaara di pipinya. "Nasib baik kamu bertemu dengan pria sepertiku, Zaara. Jadi, kamu aman saat berada di sisiku. Karena jika kamu bertemu dengan pria lain, aku tidak menjamin kamu bisa selamat."
TBC