Cahaya matahari menembus tirai tipis, menyapu ruang penthouse dengan semburat keemasan. Cila menggeliat pelan di atas sofa empuk, kepala terasa berat, dan detik berikutnya ia sadar, dirinya tertidur di tempat yang sama semalam. “Ya Tuhan…” gumamnya serak, buru-buru bangkit sambil merapikan rambut yang kusut. Jantungnya berdetak kencang, bukan hanya karena malu ketiduran di penthouse milik pria itu, tapi juga karena hawa asing yang masih tersisa di udara. Ada aroma maskulin samar, asap tipis rokok, dan entah apa lagi yang membuat ruangan ini seakan masih menyimpan jejak pemiliknya. Tangannya meraih foto yang semalam hampir ia sobek frustasi. Sekilas, ia menatapnya lagi, lalu meletakkannya kembali di meja. Kali ini, tidak dengan marah, melainkan dengan rasa penasaran yang semakin menekan d

