Bab 1

1407 Kata
Alunan organ pipa yang megah menyebar dalam lingkaran konsentris. Di kedua sisi jalan perawan, para tamu berjubah warna-warni memenuhi kursi, dan seluruh upacara dipenuhi dengan martabat yang khitmat. Dari segi formalitas, itu adalah pernikahan duke yang sempurna. Namun tidak ada kegembiraan dan atau kesibukan seperti pernikahan yang terlihat dimanapun. Edith : "aku pikir akan lebih tepat untuk menyebutnya sebagai pemakaman." Memang benar. Baik tamu mempelai pria maupun tamu mempelai wanita mempunyai wajah yang muram dan gelap. Killian : "Tolong kendalikan ekspresi wajah anda, tidak peduli betapa tidak nyamannya perasaan anda. Apakah hanya aku yang bisa melakukan ini?" Aku harus berjalan ke tengah-tengah upacara yang membeku ini dan berdiri disamping pria yang akan membunuh aku. Pendeta : "Sekarang, Edith Rigelhoff, silahkan masuk." Pendeta yang tidak tahu apakah dia datang untuk memimpin upacara pernikahan atau menghadiri misa pemakaman memerintahkan kedatanganku dengan muram. Aku telah berlatih sepanjang hari kemarin, berlatih di kepalaku, tapi mau tak mau aku merasa gugup. Aku berjalan perlahan ke depan, menendang ujung gaunku dengan jari kakiku, seperti yang aku latih dengan seluruh kekuatanku untuk mencegah terjatuh secara tidak sengaja. Namun tidak menjadi masalah dengan gaun pengantin yang aku kenakan. Payudaraku... Maksudku aku tahu payudaraku besar dan indah, tapi terlalu terbuka. Ini pertama kalinya aku memakainya, dan menurutku ada sesuatu yang hilang untuk menutupi dadaku. Edith : "Tidak peduli seberapa bagus gaun sensualnya, bukankah itu terlalu berlebihan di hari pernikahan?" Seolah-olah aku bukan satu-satunya yang berpikir demikian, pandangan yang menatapku jelas mengandung emosi negatif, rasa jijik, hina, tidak hormat, atau nafsu. Aku menghampiri pria yang suatu haru akan memenggal kepalaku, menembus udara berat bahkan aku tidak bisa merasakan sedikitpun rasa nikmatnya. Tentu saja, dia bahkan tidak menatapku. Baginya, aku harus seperti kutukan atau hukuman yang diberikan padanya. Edith : "Wah, lagipula aku tidak terjatuh. Langkah pertama sudah jelas" Aku menekuk lututku dan menundukkan kepalaku sedikit ke arah pendeta untuk menunjukkan kesopananku dan menghela napas lega. Pendeta itu menganggukkan kepalanya dengan acuh tak acuh dan meneruskan doa pemberkatan. Pendeta : "Segala sesuatu di dunia memuji Engkau, Ya Tuhan, Hershan. Aku memberkati kalian berdua, pria dan wanita cantik, yang hari ini akan membangun keluarga yang bahagia dan hangat dalam pelukan Sang Pencipta hari ini" Yah kurasa aku tidak akan pernah bisa menciptakan masa depan yang bahagia atau hangat dengan pria ini. Dalam situasi ini, aku mengetahui bahwa pria yang membenciku akan memenggal kepalaku, sangat tidak jelas apakah aku bisa mendapatkan "keluarga yang bahagia atau hangat" atau "masa depan" Namun tidak ada cara bagiku untuk menyangkal atau menghindari situasi ini sebelumnya. Ketika aku membuka mata, aku berada di tubuh seorang wanita yang akan menikah seminggu lagi. Betapa gila prosesnya juga. ............. Kemalangan tidak pernah datang sendirian. Itulah yang terjadi haru itu. Manager Park: "Soo-na! Sudah kubilang jangan lakukan ini!" Soo-na : "Ya? Ini milik senior Yeoung-eun" Ahn young-eun : "maaf, pak manager. Soo-na masih belum menguasai Excel, dan saya akan memastikan dia menguasainya dengan benar." Ahn Yeoung-eun, yang telah melakukan segala macam hal buruk hanya karena dia senior yang bekerja setahun lebih awal dariku, menyalahkanku atas kesalahannya. Manager Park, yang mencetak Spreadsheet Excel yang berantakan, menatapku dengan dingin dan mengomeliku dengan kasar lama sekali sebelum kembali. Aku menatap Young-eun dengan ekspresi bingung di wajahku, tapi dia duduk di kursinya seolah lelah bahkan tanpa melihatku. Rekan kerja : "Berapa lama Ahn-Young-Eun akan hidup seperti itu?" Soo-na : "aku tidak tahu." Rekan kerja : "Ugh, dia sudah mengumpat sejak pagi. Soo-na, semangatlah!" Rekan kerjaku memberiku semangat melalui messanger, tapi itu tidak memberiku banyak kekuatan. Mungkin karena aku melihatnya membeli kopi bersama Young-eun di akhir jam makan siang. Suasana hati ku sedang buruk, tetapi ini adalah hal yang biasa sehingga aku berpikir itu hanya nasib buruk, dan aku pantas mendapatkannya. Saat itu hari Jumat, dan aku berkencan dengan pacarku sepulang kerja. Namun baru sepulang kerja aku mendapat pesan dari pacarku yang membatalkan kencan kami. Pacar lelaki: "Sayang, aku mendapat shift akhir pekan dan akan bekerja lembur hari ini. Maafkan aku T_T sampai jumpa minggu depan. Aku akan membelikanmu sesuatu yang enak." Selain tidak bisa bertemu dengannya sepanjang akhir pekan, aku juga kesal mendengar pacarku, yang akhir-akhir ini harus lembur dan harus bekerja sepanjang akhir pekan. Seandainya aku tidak mampir ke Mall, tempat pertemuan hari ini, aku tidak akan melihat pacarku bergandengan tangan dengan wanita lain. Aku menatap kosong ke punggung mereka saat mereka berjalan pergi, dan baru setelah mereka benar-benar menghilang dari pandangan barulah aku mengeluarkan ponselku dan mengirim pesan kepada pacarku. Soo-Na : "Ngomong-ngomong soal kerja lembur, wanita yang bergandengan tangan denganmu pastilah atasanmu di tempat kerja. Kalian berdua terlihat benar-benar bekerja keras. Kubur saja tulangmu di tempat kerja dan jangan hubungi saya lagi!" Bahkan ketika aku menyaksikan pacarku berselingkuh dengan mataku sendiri. Anehnya tanganku tidak gemetar atau aku akan menangis. Sebenarnya, aku bahkan tidak marah. Mungkin secara tidak sadar aku mengharapkan perpisahan seperti itu. Karena aku tidak layak untuknya. Dia adalah pria tulus yang tumbuh di keluarga kaya dan bekerja di sebuah perusahaan yang cukup besar. Dia adalah pria tampan, cukup tinggi, baik hati, dan berpendidikan. Berbeda dengan aku yang berasal dari keluarga miskin dan berusaha keras untuk tidak menunjukkan bahwa aku tidak punya uang, dia adalah pria yang nyaman dengan gaya hidup sederhana. Aku bersyukur pria itu memperlakukanku dengan baik, tapi disaat yang sama, aku berpikir "Sampai kapan ini akan berlanjut?" Dan "kapan" itu adalah hari ini. Soo-na : "aku kehabisan uang. Akhir pekan ini aku harus membayar novel di troli dan membacanya." Memikirkannya seperti itu membuatku merasa sedikit lebih baik. Senang rasanya membaca novel Rofan( fantasi romantis) sebelum tidur. Sekalipun aku tidak punya cukup uang saku. Aku harus membuka satu bab gratis sehari atau menunggu. Saat kupikir aku bisa menabung untuk bertemu pria khayalan dan membayar beberapa novel di toko buku, langkahku pulang ke rumah menjadi lebih ringan dalam sekejap. Tapi ith hanya kesalahku yang mengira hal buruk hari itu berakhir disana. Kakak laki-laki : "kamu sedang apa sekarang? Cepat kemari, b******k!" Soo-na : "hah? Kakak laki-laki?" Kakak laki-lakiku sedang menunggu di depan pintu kontrakanku disamping tangga curam di sebuah rumah kontrakan yang kumuh. Bahkan sebelum aku sempat mendekat, bau alkohol membuat tubuh aku kaku. Kakak laki-laki : "Hei, berikan aku uang berapa pun yang kamu punya" Soo-na :"apa ? Aku tidak punya uang" Kakak laki-laki : "kamu punya kartu ATM! Ambillah uang dan berikan aku sedikit" Soo-na : "kakak, apakah kamu berjudi lagi?" Kakak laki-laki : oh, sial, kamu sangat bawel! Siapa kamu sampai mengomeliku, penyelamatmu yang membuatmu hidup sampai sejauh ini?!" Aku tuli karena teriakan kakakku yang tiba-tiba, tapi aku lebih cemas apakah ada orang di sebelah yang mungkin mendengarkan ini. Soo-na:"Apakah alasan penyelamat itu akan menerorku sampai aku mati?" Dengan dalih memberi aku, yang menderita leukimia, transplantasi sumsum tulang belakang tiga belas tahun yang lalu, kakak laki-lakiku tanpa malu-malu selalu meminta uang kepadaku. Aku tidak tahu betapa aku berpikir akan lebih baik jika aku meninggal tanpa transplantasi sumsum tulang belakang pada saat itu. Terlebih lagi hari ini. Aku cenderung dapat melupakan hal-hal buruk, tapi aku lelah jika situasi ini terulang kembali. Soo-na : " TIDAK! Tahukah kamu berapa banyak uang yang kamu pinjam dari aku? Bayar dulu baru boleh pinjam lagi!" Kakak laki-laki : "apa? Wanita jalang sialan ini" Kakak menampar pipiku Ada kilatan cahaya di depan mataku dan telingaku tuli. Aku merasakan sensasi aneh seolah-olah aku melayang di udara. Soo-na : "oh, ada tangga dibelakangku" Saat aku memikirkan itu, segera setelah itu, aku terguling menuruni tangga dan kepalaku terbentur dengan keras di suatu tempat di ujung tangga. Itu adalah kenangan terakhirku sebagai wanita Korea berusia dua puluhan, Choi Soo-na. .............. Aku merasa seperti sudah tertidur lama sekali. Perlahan-lahan aku sadar kembali dan menyadari bahwa aku belum mati. Aku membuka mata, berpikir bahwa aku berada di rumah sakit, tapi aku melihat pemandangan yang tidak mungkin merupakan rumah sakit. Kamar Putri? Itu adalah ruangan yang mirip Istana Versailles yang pernah aku lihat di internet. Selain itu, aku tidak merasakan sakit apapun di tubuhku, yang seharusnya patah atau setidaknya memar parah. Tidak, aku bahkan merasa lebih energik dari biasanya. Edith : "apa? Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?" Saat aku bangun dari tempat tidur dan bercermin, aku melihat rambut tebal berwarna coklat kemerahan tergerai di bahuku. Setelah menderita leukimia, rambutku tipis dan aku tidak pernah mengecatnya. Pelayan : "ini sofia, Nona" Edith : "Sofia?" Pelayan : "Saya masuk" Kemudian pintu terbuka dan seorang wanita dengan tampilan sedikit menakutkan masuk dengan wastafel tembaga di atas sesuatu seperti nampan. Pakaiannya terlihat seperti pakaian pelayan yang sering dipakai para cosplayer.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN