Manusia Serigala tidak pernah mengetuk pintu, dia selalu datang tiba-tiba di bawah bulan purnama bukan di antara bulan baru, setahuku juga manusia serigala selalu menerkam dombanya, bukan membawa nampan untuk si domba. Domba ini bernilai lebih besar dari sekedar makanan buatnya, domba ini senilai harta benda, kemewahan dan semua isinya. “Rose bilang kau jarang makan.” Dia meletakkan nampan makanan di nakas, tempat dimana Ny. Rose meletakkan nampan yang sama tiga kali sehari. Aku sedang tertidur miring memunggunginya ketika kasur di belakangku terperosok turun akibat didudukinya. Dia menyentuh lenganku, mengusapnya pelan. “Makanlah.” Serigala mana yang menyuruh tawanannya untuk makan, setahuku mereka akan bilang “Ku Makan kau!” Imajinasiku benar-benar porak-poranda ketika bertemu de

