Tok.Tok.Tok. Aku mengumpulkan semua energiku, aku berusaha bangkit, aku tahu Kinar bukan perempuan putus asa yang lebih memilih dibelenggu daripada melawan, dari dulu takdirku sudah tidak menyenangkan. Belum hilang bayangan betapa mengerikannya darah yang tumpah di bathup waktu itu, aku kembali diseret dipaksa untuk menumpahkan darah orang lain. Aku menengadah ke langit-langit, lampu gantung begitu dramatis di atas tempat tidur kami. “Nona…” TOK.TOK.TOK. Ketukan pintu itu semakin keras dan memaksa, aku tahu Ny, Rose akan meminta para penjaga mendobrak pintuku kalau aku tidak segera membukanya. Oh ya aku lupa, dia bisa saja memakai kunci cadangan, memintanya pada Bir. Aku bangun, mengembalikan semua energi. Untuk saat ini aku harus bernafas, untuk 24 jam kedepan aku harus tetap

