Gabriel termangu saat menatap Adara yang tersenyum, menyambutnya yang baru saja pulang dari kantor. Dengan begitu tenang Adara berjalan ke arahnya, meraih jas di lengannya, mengambil alih tas dari tangannya kemudian membantunya melepas ikatan dasi juga membuka kancing teratas kemeja yang masih dikenakannya. “Gimana hari ini Gabriel? Apakah ada pekerjaan yang menyulitkanmu?” Tanya Adara di tengah aktifitasnya. Bukannya menjawab, Gabriel justru mematung mendengar pertanyaan yang begitu tenang itu. Iris matanya bergulir, menyisir wajah Adara, menatap dalam wajah cantik itu. Jika bukan karena ibunya ia tidak akan tahu perasaan Adara, ia tidak akan pernah menyadari raut wajah sendu istrinya itu, ia juga tidak akan menyadari tatapan lembut itu menyiratkan sesuatu tersembunyi yang begitu

