“Hoek!” Sean terbangun oleh suara muntahan Rose yang disusul oleh suara kran air. Suara itu tidak berhenti hanya satu kali, tapi berkali-kali hingga Sean meringis dan dadanya merasa ngilu saat mendengar suara-suara itu. Tanpa banyak bicara Sean berdiri di samping Rose, memegangi rambut perempuan itu lalu sebelah tangan lain mengurut tengkuknya perlahan hingga saura-suara itu hilang. Rose pun kini mulai tenang, dengan mencengkram keras ujung wastafel. “Sudah? Ayo aku bantu kembali ketempat tidur.” Rose mendelik, “Aku memaksa.” Tegas Sean sebelum perempuan itu menolak. “Apa selalu seperti ini? Setiap pagi?” Rose mengangguk. “Aku ambilkan minum ya? Teh hangat dan lemon mungkin bisa meredakan mualmu.” Rose menggeleng, perempuan itu justru memeluknya, membenamkan

