Sepanjang perjalanan Adara berkendara tanpa mengeluarkan suara sama sekali, mulutnya masih mengatup, begitu juga dengan rahangnya, kedua tangan lentik itu pun mencengkram kemudi dengan begitu erat, menahan emosi, menahan seluruh gejolak menggebu penuh bara api yang belum juga padam dalam hatinya. Gabriel yang duduk di sebelahnya pun melakukan hal yang sama, lelaki itu hanya duduk dengan tenang di sebelahnya seraya menatap jalan raya, sangat berbeda dari yang sebelumnya ia lihat. Membuat dirinya yang sudah sangat muak dengan Adelia menjadi semakin muak karena tingkah lelaki itu. Adara kesal? Ya! Tentu saja! Bagaimana mungkin Gabriel di hadapannya ini cenderung diam sementara tadi, di depan mata kepalanya sendiri Gabriel terlihat begitu akrab dengan Adelia? Memang ... salahnya tidak seg

