“Selamat tinggal, Adrian.” Adrian terpaku tanpa bisa mengatakan apapun. Kakinya bahkan kaku tak dapat digerakkan. Saat Adrian menoleh, Viki sudah menghilang pergi. Hatinya sakit dan kecewa entah mengapa. Pikiran Adrian kemudian melayang kepada pertengkarannya dengan ayahnya sebelumnya. Mengapa ayahnya memaksa dirinya untuk meninggalkan Viki, apa ayahnya tahu mengenai Evan? Tetapi Viki mengatakan bahwa tidak ada satupun yang mengetahui bahkan kedua orang tuanya. Adrian melajukan mobilnya menuju mansion ayahnya. Tanpa mengetuk, dia segera berjalan cepat menuju kantor ayahnya. “Hey Nak.” Sapa Cecile kemudian. “Tumben kamu kemari.” “Papi ada?” “Ya. Papi di ruang kantornya.” “Oke, Mi.” Adrian mengecup kening ibunya dan melanjutkan langkahnya menuju kantor ayahnya. Tanpa mengetuk, Adrian

