6 hari setelah kejadian itu, Adrian kembali tenggelam dari pekerjaan. Bagaimana mungkin dia akan meninggalkan Victoria? Sampai saat ini hanya dia wanita yang sangat cocok dengan apa yang diinginkannya. Ayahnya hanya marah sesaat, itu yang dipikirnya. 6 jam lagi sebelum acara dimulai, Adrian duduk di ruang tamu penthouse miliknya di Chelsea, segelas white wine di tangan kanannya. Pikirannya menerawang memikirkan dia akan bertemu Victoria. Handphonenya bergetar.
“Ya?”
“Hey babe.” Sapa seorang wanita. “Kamu sudah di Chelsea?”
“Who?”
“Gemma.” Gemma adalah salah satu model dari Vict*ria Secret, mereka pernah bertemu sekali di salah satu acara fashion show Vers*ce.
“Oke.” Jawab Adrian dingin dan menyesap white wine.
“I miss you.” Kata Gemma kemudian. “Seks?” Gemma menyodorkan.
“Oke. Penthouse.” Adrian menutup teleponnya dan kemudian mengirimkan alamatnya. Adrian kembali menyesap winenya, sudah 1 hari dia tidak mendapatkan seks, dia butuh pengalihan.
30 menit kemudian Gemma sudah berdiri di depan pintunya dengan dress ketat menggoda. Saat Adrian membuka pintu, Gemma segera meraih belakang kepalanya dan mencium Adrian keras. Lidah mereka saling bertautan. Suara bunyi kecupan mereka memenuhi ruangan. Tanpa menuju kamar, dengan kesal Adrian merobek dress mini Gemma, bahkan saat itu Gemma sudah tidak mengenakan bra dan celana dalam.
Adrian tertawa kecil. Gemma membantu Adrian untuk bertelanjang bulat, menampilkan otot keras Adrian. Miliknya menjulang. Gemma segera berlutut, wajahnya sejajar senjata keras Adrian. Gemma tersenyum centil, dengan pelan dijilatnya bagian kepala, lalu memasukkan seluruhnya ke dalam mulut hangatnya. Adrian mendongak dan mengeluh nikmat.
Digenggamnya rambut Gemma dan mendorong kearah miliknya. 5 menit kemudiaan Gemma melepaskan mulutnya dan duduk di sofa sambil merentangkan kedua pahanya, memperlihatkan area privatnya yang lembab. Adrian meraih kondom dan membungkus miliknya.
“Hey, aku sudah memasang birth control. Kamu tak perlu memakai kondom.” Kata Gemma genit.
Tanpa menjawab, Adrian memposisikan miliknya dan menghujam dengan keras. Adrian tidak akan tertipu dengan perkataan manis Gemma, dia tahu benar tipikal Gemma adalah tipikal wanita yang menggunakan anak untuk memerasnya. Sudah ratusan wanita yang datang menghadapnya dan mengatakan bahwa anak yang mereka kandung adalah anak miliknya tetapi tidak ada yang pernah terbukti.
Test yang di keluarkan dokter pribadinya selalu negative. Erangan keras klimaks Gemma memenuhi ruangan diikuti Adrian kemudian. Napas mereka memburu, rambut Gemma yang awalnya tertata rapi menjadi sangat acak-acakan. Adrian bangkit, ada sesak di hatinya, dia melangkah menuju kamar mandi dan menyalakan shower. Air hangat membuat badannya rileks. Dadanya masih sakit, bukan secara medis.
Semenjak Viki masuk dalam kehidupannya, dia menjadi seperti ini. Ada suatu ketergantungan yang membuatnya tak nyaman. Bahkan tidur dengan banyak wanita selama seminggu ini membuat dirinya diliputi rasa bersalah. Dia dan Viki setuju untuk tidak melakukan kegiatan ranjang dengan oranglain selama mereka menyetujui kesepakatan ini, tetapi dialah yang melanggar pertama kali. Apa yang bisa dilakukannya ketika kebutuhannya harus di salurkan? Viki menolaknya. Adrian melangkah keluar dengan handuk melilit rendah, Gemma bangkit dan memasuki kamar mandi.
Adrian sudah bersiap menuju acara, mengenakan tuxedo Arm*ni dan terlihat sangat tampan. Gemma, pasangannya malam ini cantik mengenakan dress rancangan Mugl*r. Mereka berjalan berdampingan menuju limusin Adrian. Sepanjang perjalanan pikirannya terpaku dengan sosok viki. Setelah sekian hari mereka akan bertemu. Adrian menarik napas panjang, baru kali ini hatinya sangat galau.
Adrian tiba di hall yang penuh dengan beberapa pasangan. 8 pengawalnya menunggu di luar dan 2 di antaranya di persilahkan masuk untuk menjaganya dari kejauhan. Gemma menempel bagai lintah di lengannya. Mata Adrian menebar di ruangan mencari sosok Viki tetapi Viki tidak juga kunjung datang. Lewis menghampirinya bersama Eifelin, tunangannya.
“Hey.” Sapa Lewis.
“Hum.” Mata Adrian terus menebar di seluruh ruangan.
“Dia belum datang.” bisik Lewis.
“Oh.” Hanya itu jawabannya. Lewis menggiring Adrian untuk menuju salah satu lingkaran pengusaha muda, sementara Eifelin dan Gemma bergabung dengan sekumpulan wanita.
“Hey.” Sapa Don, salah satu pewaris retail Inggris yang besar. Adrian mengulurkan tangannya. “Apa kabar?”
“Baik.” Jawab Adrian dingin, matanya masih terpaku dengan pintu masuk hall.
“Jadi, kapan kamu settle down?”
Adrian tersenyum sinis, “Never.”
Don dan pengusaha muda lain tertawa renyah, kisah mereka hampir-hampir sama yang dialami Adrian. 20 menit bercakap-cakap, perhatian mereka teralih di pintu masuk.
“Look, itu puteri keluarga Vinc bukan?” kata Don kemudian.
“Damn! She’s really hot!” balas Aston.
“Grace memang menawan tetapi adiknya Victoria lebih sensual.” Tawa Bray.
“Oh! Kalau bisa meniduri dia pasti surga. Lihat d**a dan bokongnya.” Tambah Alan dan disambut dengan siulan oleh 5 pemuda lain dilingkaran mereka. Mereka semakin cekikian dengan tertawa bahagia memfantasikan tubuh Viki. Tangan Adrian terkepal marah. Wajahnya panas menahan dirinya untuk tidak membunuh semua laki-laki di hadapannya sekarang. Lewis disampingnya dengan sigap menahan tinjunya.
“Tidak disini.” Bisik Lewis. “Pikirkan reputasimu.” Lewis menghela napas panjang, “Aku tahu kamu marah tapi enggak kayak gini.”
Adrian menutup mulutnya rapat, dia tidak rela orang lain memfantasikan Viki seperti itu. Viki hanya akan menjadi miliknya. Miliknya? Sejak kapan dia suka meng-claim seperti ini. Lewis menariknya agak menjauh, tatapan Adrian fokus kepada gerbang hall, dan di sanalah Viki sangat menawan mengenakan dress maroon yang mempelihatkan pahanya yang mulus.
Wajahnya terlihat bahagia. Seketika hatinya menghangat, dia merindukan Viki dengan sangat. Bahkan tidurnya tidak lagi senyenyak saat mereka masih bersama. Viki berjalan memasuki hall diikuti seluruh pandangan mata lapar pria-pria di sana dan pandangan iri serta membunuh dari wanita-wanita dalam ruangan itu. Senyumnya seketika pudar ketika Adrian menyadari ada sosok pria yang memeluk pinggang Viki posesif. Tangannya kembali terkepal marah, langkahnya maju tanpa dia sadari. Seperti alarm, Lewis menahan bahu.
“Adrian!” desis Lewis, “Pikirkan reputasimu.”
“Lepaskan.” Otot Adrian mengencang, “Atau aku akan memukulmu lagi?” tatap Adrian tajam.
“Kamu cemburu.” Lewis melepaskan bahu Adrian.
Seperti tertampar di wajah, Adrian tertawa sinis, “Cemburu? Aku?”
“Ya. Kamu terlihat sangat gelap mata oleh cemburumu sekarang.” Lewis sengaja ingin memancing amarah Adrian.
Adrian berbalik menghadap lewis, “Listen… aku, Adrian Stanley Henderson pantang untuk cemburu. Aku tidak akan menjilat kaki wanita manapun. Aku tidak akan sudi menjadi salah satu bagian dari pria-pria frustasi yang patah hati oleh karena satu wanita.”
Lewis tersenyum, “Tunjukkan itu di hadapan Victoria. Aku tahu dia wanita yang sangat berbeda dari wanita-wanita yang kamu tiduri selama ini karena dia bukan dari kalangan seperti mereka. Victoria terdidik baik dengan keluarga yang baik-baik pula. Kamu pikir Victoria akan senang jika kamu muncul dan menghajar pria yang bersama dengannya malam ini?”
Tersadar oleh perkataan Lewis, Adrian menghela napas. Tidak seharusnya dia seperti ini. Mengapa hanya bersangkutan dengan Victoria, dia seperti menjadi orang lain? Tidak terkadang mempermalukan dirinya sendiri. Adrian menatap Viki dari kejauhan. Adrian sudah meneguk winenya yang ke 8. Lewis selalu menemaninya untuk menyadarkannya dari kebodohan yang akan dilakukannya. Eifelin yang bersama dengannya terpaksa diabaikan untuk sementara waktu.
“Siapa pria itu?” tanya Adrian tajam.
“Raffy, pewaris tunggal salah satu alat berat asal Jerman dan peralatan medis.” Jawab Lewis. Adrian mengangguk, matanya masih mengikuti gerak tubuh Viki, bagaimana Viki sangat nyaman berbicara dengan rekan bisnisnya. Kakinya yang mulus terpampang bahkan membuat juniornya perlahan bangkit. “Tenang. Keluarga kamu masih yang terkaya.” Lanjut Lewis.
“Kamu pikir Victoria tertarik hanya karena uang? Keluarganya bahkan memiliki banyak kekayaan, sebanding dengan kekayaan yang keluargaku miliki bahkan mungkin lebih. Kamu pikir dia mengincar harta?”
Lewis tertawa kecil, “Itulah alasan yang aku ingin ketahui mengapa seorang putri mahkota seperti Victoria mau menjalani hubungan tanpa status dengan dirimu.” Lewis menggeleng dengan lelah. “Terlebih ayahnya sangat sangar. Aku pernah bertemu dengan sosoknya sekali. Bahkan tidak dari jarak dekat, aku sudah seperti akan pipis di celana.”
Adrian tertawa kecil, “Kamu terlalu melebihkan. Om Leo sangat baik. Dan mengenai mengapa Victoria bersedia menerima tawaranku, itu karena aku memang menawan. Tidak ada satu wanita pun yang akan menolak pesonaku.” Angkuh Adrian dan merapikan jasnya. Adrian meletakkan gelasnya dan berjalan di mana Victoria berdiri bersama dengan pengusaha muda lainnya, dia harus bergerak sekarang atau tidak sama sekali.
Adrian berdehem pelan, dirinya berdiri tak jauh dari jarak Viki yang kini masih membelakanginya.
“Hey… Adrian.” Sapa Dini. Salah satu chef terkenal di Italy yang juga dulu adalah kakak seniornya di MIT. Seketika Viki berbalik, wajahnya berubah dingin. “Bagaimana kabarmu?” Dini menghampiri Adrian sementara Viki hanya menatap lurus.
Adrian mengeluarkan senyum mautnya, matanya tak lepas menatap dalam Viki yang tidak ingin melihat kearahnya. “Baik.”
“Apa Hades yang agung sekarang masih suka berpetualang?”
“Tergantung?”
“Tergantung apa?” Jena, salah satu seniornya yang merupakan banker juga ikut menyahut.
“Menunggu seorang wanita yang menjadi pelampiasanku satu-satunya.” Jawab Adrian sambil tersenyum, seluruh wanita di sekeliling Viki tertawa renyah. Mereka berusaha keras ingin mendapatkan perhatian Adrian, beberapa bahkan menurunkan dress mereka di bagian d**a untuk memperlihatkan pandangan ranum itu. Viki mulai tak nyaman, bahkan sedekat ini pun Adrian lebih memilih menebar pesona.
Beberapa hari lalu, Grace memberitahunya jika Adrian mem-booking 3 model baru di VS untuk satu malam. Viki kecewa, dia berpikir bahwa Adrian sudah menetapkan peraturan untuk tidak melakukan hubungan badan dengan wanita lain tetapi Adrian-lah yang melanggarnya pertama kali. Hatinya semakin sesak, tangannya kirinya yang tersembunyi terkepal menahan perih hatinya.
Langkahnya perlahan mundur. Raffy segera menghampirinya. Sementara Adrian tidak terlihat lagi, lingkaran wanita-wanita itu sudah menutupi sosoknya dari pandangannya.
“Are you okay?” tanya Raffy panik.
“Aku butuh udara segar.” Jawab Viki pelan. “Bisakah kamu mengantarku ke balkon?”
Raffy mengulurkan tangannya dan menuntun Viki keluar balkon. Di sana Viki menarik napas dalam. Pemandangan di luar sungguh indah, banyak bintang dan tak nampak tanda akan hujan. “Better?” Raffy berdiri di sampingnya.
Viki mengangguk pelan, “Thanks.”
“No problem. Itulah mengapa aku bertanya-tanya.” Raffy menatapnya intens.
“Tentang?”
“Mengapa selama ini kamu tidak pernah mengikuti acara ini dan sekarang kamu menyetujuinya. Apa ada yang berubah?”
Viki menggeleng pelan, “Tidak ada yang berubah.” Tatapannya menerawang. “Tetap sama.”
“Kamu tahu, aku mencintaimu sejak kamu masih di MIT untuk mengambil level bachelor. Apa aku tidak pernah cukup?”
“Raffy… please…” Viki menatap sedih Raffy yang kini semakin dekat dengannya. Dari dulu hanya Raffy yang tulus mendekati dan bersahabat dengannya. Perkenalan mereka pun saat mereka berdua di perpustakaan. Raffy yang saat itu mengambil pendidikan doctoral terpukau oleh presentasi Viki di organisasi kesehatan kampus. Usia Raffy lebih tua 4 tahun dibandingkan Adrian yaitu berbeda 10 tahun dari Viki.
“Aku tahu, aku akan menunggumu sampai kapanpun.”
“Please... do not.”
“Kenapa? Apa karena Adrian?” Raffy to the point.
Viki berbalik menatap wajah Raffy kaget, “Ho… how? Bagaimana kamu tahu?”
“Aku tidak buta. Sejak dari tadi Adrian memandangmu bahkan pandangannya ingin membunuhku.”
“Maaf.” Viki menunduk lesu.
“Dari semua pria di dunia ini kenapa harus dia?” Raffy memegang pundak Viki dan mengelusnya lembut. “Apa yang dimilikinya dibandingkan aku dan pria lain?” Viki terdiam tak bisa menjawab, Raffy menghela napas. “Aku tak rela jika pria macam dia mengambil perhatianmu, kamu tak pantas untuk disakiti seperti itu.”
“Aku tahu.” Viki menutup matanya dengan kedua telapak tangannya dan menangis terisak, penatnya selama ini akhirnya tertuang juga. Raffy memeluknya pelan dan mengelus punggungnya.
“Kamu wanita yang berharga, Victoria. Kamu sangat berharga di mataku. I love you.” Bisik Raffy. Raffy memilih diam, membiarkan hanya isak kecil Viki yang terdengar. Raffy mengerti bagaimana Viki sangat membutuhkannya.
“NOOO!” suara baritone tiba-tiba mengagetkan mereka. Viki dan Raffy menoleh cepat. Adrian menghampiri mereka dengan langkah besar. “YOU!” Adrian menunjuk wajah Raffy dan meraih tubuh Viki dalam pelukannya.
“Adrian?” Viki terkaget dan dengan segera menghapus air matanya, dia berusaha melepaskan tangan Adrian yang melilit pinggangnya posesif.
“Hey.” Raffy berusaha meraih tubuh Viki.
BUKKK!
Sebuah tinju mendarat di wajah Raffy seketika. Viki terpekik dan tubuh Raffy terhunyun hingga terjatuh. Viki berusaha membantu Raffy berdiri tetapi tangan Adrian mencegahnya.
“Ada yang perlu kita bicarakan!” desis Adrian di telinganya. Viki memandangnya tajam. Dengan segera Adrian menarik tubuh Viki dan membawanya keluar menuju taman belakang. Viki menahan keras air matanya, awalnya Adrian memposisikan dirinya sebagai wanita yang bisa dibayar dan sekarang dirinya di perlakukan bagai barang yang di seret-seret. Tidak ada kelembutan.
Begitu sampai di tengah taman, Adrian membalikkan tubuhnya dan menghadap Viki yang menatapnya dengan tajam. Mata Viki memerah dan wajahnya mengeras. Baru kali ini dia melihat bagaimana marahnya Viki namun dia memendamnya. “Look.” Adrian melepaskan lengan Viki yang di cengkramnya keras.
PLAAAAAAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Adrian tanpa dia sadari. Adrian menatap Viki tak percaya. “Br*ngsek!” umpat Viki, dadanya naik turun menahan marah. Viki melangkah mundur, hatinya perih. Viki menggeleng kuat, ditekannya dadanya yang mulai sesak. Viki tersenyum sedih. “Mungkin inilah batasnya.” Adrian masih terdiam, Viki berani menamparnya. “Aku tidak sanggup. Aku ingin kita mengakhiri di sini.”
“Maksudmu?” wajah Adrian seketika mengeras.
“Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi. Untuk seterusnya, aku tidak pernah ingin melihat wajahmu.”
“Tidak!” Adrian mendekati Viki dan mencengkram lengan Viki keras. “Aku yang memutuskan kapan kita akan mengakhiri perjanjian ini. Bukan dirimu!”
“Aku akan menikah.” Kata Viki seketika. Adrian melepaskan cengkramannya dengan wajah syok.
“Me… menikah?”
Viki menghapus air matanya, “Aku akan berhenti menemuimu. Aku ingin memikirkan diriku sendiri mulai dari sekarang. Aku juga ingin bahagia.”
“Kamu tidak bisa seperti ini!” protes Adrian.
“Kenapa? Di dalam perjanjian ini, kamu tetap meniduri banyak wanita. Bukankah tidak ada yang berubah? Aku berpikir kamu bisa memegang janjimu tetapi aku salah dalam menilaimu.”
“Kamu yang memilih tidak ingin ditemui. Kamu tahu aku membutuhkan pelampiasan.”
“Oleh sebab itu, lebih baik kita akhiri saja. Lebih mudah bukan? Bertahan denganku tidak akan memuaskanmu.”
“Lalu mengapa kamu ingin menerima dari awal dan membuat hidupku kacau!”
“Kamu yakin aku penyebabnya? Bukankah aku tidak ada harganya di matamu? Hanya pelampiasan. Bagaimana mungkin aku menghancurkan hidupmu?” Viki kembali menangis.
Adrian tidak dapat mengatakan apapun. Melihat Viki menangis membuat hatinya terluka tanpa disadarinya. Perkataan ayahnya terngiang di telinganya. Viki tak pantas diperlakukan seperti ini. Tetapi hatinya tidak rela melepaskan Viki, ada sesuatu yang membuatnya menjadi merindukan Viki. Mengetahui Viki akan menikah pun membuatnya sangat marah. Hatinya panas sampai dia ingin membunuh siapapun. “Kamu harus bertanggung jawab!” akhirnya Adrian memiliki suara kembali untuk berbicara. “Kamu membuatku kacau!”
“Kamu sangat egois! Kamu tidak memikirkan perasaanku dari awal. Aku tidak meminta apapun darimu. Aku hanya ingin kamu melihatku bukan sebagai wanita yang bisa kamu bayar, tidak memperlakukanku sebagai barang. Tapi sepertinya aku terlalu berharap tinggi. Pada dasarnya kamu tidak pernah bisa menjadi selayaknya pria.”
Mendengar perkataan Viki, hati Adrian semakin memanas. “Jadi Raffy lebih baik? Apa Raffy bisa memuaskan napsumu?!” sinis Adrian.
“Untuk menjadi nyaman dengan seseorang, urusan di balik celana dalam bukan satu-satunya. Tapi di sini juga.” Viki menunjuk dadanya.
“HAH! Jadi kamu berharap aku akan jatuh hati terhadapmu? Kamu terlalu tinggi bermimpi.” Balas Adrian.
Viki memandang Adrian lama, lagi-lagi kata-kata Adrian menusuknya berkali-kali. Tetapi inilah Adrian yang sesungguhnya. Bukankah semua orang sudah mewanti-wantinya. “Ya kamu benar. Aku hanya bermimpi, mari jadikan ini tetap mimpi.” Lirih Viki, di tariknya napas dalam. Meski sulit, dia harus mengatakannya. “Selamat tinggal, Adrian” Viki tersenyum untuk terakhir kalinya dan berbalik pergi.
Adrian mematung, melihat senyum Viki yang terakhir kalinya membuat dadanya sangat sesak, dia mematung di sana entah sampai berapa lama. Sampai dia menyadari bahwa Viki sudah pergi, untuk selamanya.