Dinikahi Om Om
**
Saat Om Riyan hendak berangkat bekerja, mama mengantarnya sampai ke teras, tapi melarangku untuk ikut ke sana. Aku membuka hordeng jendela, lalu memperhatikan mereka. Mama seperti marah-marah pada Om Riyan entah karena apa. Beberapa kali lelaki itu terlihat sepertinya menenangkan wanita yang melahirkannya itu. Jujur, aku jadi penasaran, sebenarnya apa yang sedang mereka bahas. Apa mama membahas soal aku? Atau ....
‘Ah, mungkin ini hanya kekhawatiranku saja.’
Aku kembali menutup hordeng jendela, lalu menuju ke dapur. Sampai di belakang, aku menatap ada piring kotor bekas kami sarapan pagi ini. Aku mendekat, lalu memperhatikan. Sepertinya aku harus belajar melakukan banyak pekerjaan rumah mulai hari ini. Aku merasa tidak enak jika hanya mengandalkan mama, bukankah aku di sini menumpang. Aku menggulung lengan kemejaku yang panjang, lalu mencoba mencuci piring sebisaku. Anehnya kenapa mangkuk-mangkuk yang aku cuci masih berminyak, tidak bersih dan kesat seperti mama. Saat mencuci salah satu gelas, tanpa sengaja aku menjatuhkannya ke lantai.
“Prak!!”
Hingga membuat gelas itu pecah. Aku berjongkok, hendak mengambil pecahan beling itu, tapi tanpa sengaja tanganku tergores dan terluka hingga membuatku kesakitan.
“Aww!!”
Tidak berapa lama Om Riyan dan mama datang. Om Riyan langsung berlari mendekat, sedangkan mama pergi entah ke mana. Pria ini langsung mengambil jariku yang terluka, lalu menghisapnya. Aku memejamkan mata menahan sakit dan perih.
“Ya Allah, Kay. Kamu ada-ada saja, sih!” katanya khawatir.
Mama datang, beliau langsung mengobati lukaku dengan obat tetes anti septik, lalu membungkusnya dengan kain kasa. Om Riyan menuntunku duduk di kursi meja makan setelah selesai.
“Kay, kamu ngapain, Nak?”
“Mau belajar cuci piring, Ma. Kayla pengen jadi istri yang baik untuk Om Riyan.”
“MashaAllah .... “
Mama tersenyum bahagia mendengarnya, tapi Om Riyan hanya menatapku beberapa saat, kemudian mengalihkan pandangan.
“Kamu nggak perlu melakukan semua ini, Kay,” sambung Om Riyan.
“Tapi Om, Ayah meminta aku belajar banyak hal dari mama supaya bisa jadi istri yang baik dan istri yang pantas untuk Om Riyan.”
“Ya udah, tapi lain kali hati-hati, ya!” katanya seraya mengusap pucuk kepalaku, yang berhasil membuat hati ini menghangat.
Setelah semua baik-baik saja, barulah Om Riyan pamit untuk kembali pergi bekerja. Di rumah, Mama terus meyakinkan kalau aku tidak perlu menjadi siapa-siapa, katanya asalkan aku sehat dan bahagia, itu sudah lebih cukup untuknya. Aku hanya tersenyum patuh mendengarkan kalimatnya, setelah mama bicara, barulah aku mulai bicara. Aku menatap Mama cukup lama, lalu menggenggam salah satu tangannya.
“Ma, Kay tahu, Mama pasti sangat sayang sama Kayla, tapi pesan Ayah, beliau ingin aku menjadi wanita yang sebenarnya untuk Om Riyan. Ayah ingin aku belajar bisa mengurus Om Riyan dengan baik. Tidak selamanya kami bisa bergantung dengan Mama. Di hati Kayla, sangat ingin bisa melakukan banyak hal untuk menjadi wanita terbaik versiku untuk anak mama itu. Ijinin Kayla ya, Ma dan mohon bimbingannya.”
Mama terharu, beliau mengusap lembut kepalaku, lalu menciumnya sesaat.
“Terimakasih sudah jadi matahari di rumah ini, Nak. Sebelum kamu datang, rumah ini sangat suram. Hati mama selalu mendung, tak ada cahaya di dalamnya. Semenjak kamu datang, semangat mama untuk menapaki hari tua kembali membucah. Mama tidak bisa membayangkan kalau Riyan tidak membawa kamu pulang.”
Melihat mama menangis, aku jadi ikut menangis. Aku memeluk Mama, kemudian menyampaikan banyak hal. Seharusnya, akulah yang harus bertermakasih karena diterima dengan baik di rumah ini. Di sayangi seperti anak sendiri dan merasakan bertapa bahagianya mendapatkan kasih sayang seorang ibu yang selama ini tidak kudapatkan. Mama mengangguk, lalu melerai pelukan.
“Kamu itu bukan seperti menantu di rumah ini, tapi kamu adalah anak mama.” Kami sama-sama tersenyum.
Setelah hari itu, hari-hari selanjutnya mama banyak mengarkan banyak hal kepadaku. Dari mencuci piring, menyapu, mengepel dan mencuci pakaian. Om Riyan sampai geleng-geleng kepala melihat semangatku belajar menjadi seorang istri rumah tangga. Loh, kok bukan ibu rumah tangga? Belum, soalnya belum punya anak. Hehehe
**
“Udah bisa ngapain aja, Kay?” tanya Om Riyan saat aku duduk di depan meja rias.
Leherku rasanya pegal sekali, karena tadi sore aku belajar menyetrika pakaian.
“Udah bisa semua, Om.”
“Serius?”
“Iyalah. Aku udah bisa masak, meskipun baru masak tempe sama sayur bayem, terus aku juga udah bisa mencuci piring dan mencuci pakaian.”
Om Riyan tertawa seraya menggelengkan kepalanya.
“Udah pinter rupanya. Terus bisa apa lagi?”
“Bisa nyapu, mengepel dan masih banyak lagi.”
Om Riyan menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Setelah itu dia menuju ke meja kerjanya, katanya ada kerjaan yang belum ia selesaikan. Aku hanya memperhatikan ia berjalan ke arah sana, lalu membuka laptopnya.
“Om, mau kopi nggak?”
Om Riyan menoleh, lalu nampak berpikir beberapa saat.
“Kira-kira ngerepotin nggak?”
“Nggak, istri yang baik kan harus selalu siap untuk suaminya.”
Sontak laki-laki itu tertawa lepas, yang membuat aku ikut tertawa. Setelah tawanya mereda, ia kembali fokus menatapku.
“Boleh deh, tapi bener ya, nggak ngerepotin?”
“Bener Om .... “
“Oke.”
Aku menguncir rambut, lalu keluar dari kamar menuju ke dapur. sampai di dapur langsung membuatkan segelas kopi. Kepalaku berkeliling mencari camilan yang bisa aku siapkan untuk menemaninya bekerja, setelah dapat, kuletakkan dalam nampan yang juga mengangkut kopinya. Saat menuju ke kamar, aku jadi senyum-senyum sendiri saking bahagianya bisa melakukan ini. Aku tidak menyangka, kalau ternyata melayani suami itu semenyenangkan ini. Jadi ingat nasihat ayah dulu.
“Mencari surga untuk perempuan itu mudah, Nak.”
“Oh ya?”
“Ya. Hanya empat syaratnya.”
“Apa?”
“Yang pertama menjaga salatnya, yang kedua berpuasa di bulan Ramadhan, yang ketiga menjaga kehormatannya, dan yang terakhir taat kepadanya suaminya. Sekarang kamu sudah menjalankan yang tiga, tinggal yang satu belum karena kamu belum punya suami.”
“Ya udah, kalau gitu taatnya sama ayah dulu aja.”
Mendengar jawabanku saat itu, ayah tertawa. Dan kinilah saatnya, untukku melengkapi syarat itu supaya nanti bisa masuk surga dari pintu mana saja yang aku mau. Aku semangat melangkahkan kaki menuju ke kamar. Sampai di kamar, perlahan aku membuka pintunya, lalu tersenyum saat Om Riyan melempar senyumnya. Aku langsung menuju ke meja kerjanya, dan meletakkan minuman serta camilan di meja.
“Om diminum kopinya. Oh iya ini ada kue juga, jadi sekalian aku bawa.”
“Oke. Makasih banyak, ya!”
“Sama-sama, Om.”
Aku berbalik hendak menjauh, tapi langkahku terhenti karena Om Riyan menarik lenganku. Aku menoleh, menatapnya tidak mengerti.
“Mengapa, Om?”
“Mau nanya. Emmm, Mama udah ngajarin cara memproduksi bayi belum sih?”
Ehh!!