"Om." "Ya?" "Belum mau tidur?" tanyaku saat melihat laki-laki itu masih berdiam diri di meja kerjanya. "Tidurlah, kamu butuh istirahat, Kay." "Maunya sama, Om." Aku berusaha mencairkan suasana, karena aku tahu, masih ada rasa bersalah di dalam diri laki-laki itu. Om Riyan menatapku sesaat, sementara aku menunjukkan senyum. Ia berdiri, lalu mendekat. "Ya sudah, Om temani tidur." Ia menarik selimut sampai ke dadaku, tapi Om Riyan tidak ikut berbaring. Ia hanya duduk di sebelahku. "Om." "Ya?" "Boleh minta sesuatu, supaya tidurnya cepet." "Apa, Kay?" "Mau ... dipeluk tidurnya." Hening. Om Riyan berbaring, lalu memelukku. "Makasih ya, Om." "Tidurlah, tubuhmu butuh istirahat, Kay," bisiknya di telinga yang kujawab dengan anggukan kepala. Sepertinya aku harus bersikap kembali

