"Pa," Sahira masuk ke kamar ayahnya. Kamar sederhana yang minimalis namun menampilkan kesan rapi dan bersih. Ayahnya duduk di kursi dekat jendela. Ayahnya tidak bergeming saat Sahira memanggil. "Kenapa Pa?" Ayah Sahira menoleh. "Pa, apa salahnya jika dia penyandang cacat. Bukankah ayah tahu dalam agama kita Allah tidak memandang fisik namun apakah hambanya bertaqwa atau tidak." Suara Sahira lirih. "Sahira, ayah tidak bermaksud sama sekali memandang fisik terlebih menghinanya." Ayah Sahira bangkit. "Lalu kenapa? Sikap Papa benar-benar menunjukkan kalau Papa tidak menyukainya." Sahira yang tadi menunduk mulai menatap. "Papa bukan tidak suka padanya Sahira, ada hal yang tidak bisa kamu mengerti." Ayahnya menghadap ke jendela membalakangi Sahira. "Apa Pa, jelaskan agar Sahira bisa menge

