Panggilan

1050 Kata
"Hallo Ma," Agatha menjawab panggilan, kala tulisan My Mom berkedip di ponselnya. "Hallo Sayang, kamu ngak lupa kan hari ini, kamu udah janji loh?" Suara seorang Ibu yang penuh kelembutan. "Ngak kok Ma, Ini Aga juga udah mau berangkat kok ke Rumah Sakitnya," tutur Agatha sambil membuka notebook di sela- sela perjalanan. "Posisi kamu di mana sekarang? jemput mama dulu dong, Mama mau nemenin kamu Sayang." Di benak ibunya, sedikit ragu jika anaknya mau melakukan terapi lagi, setelah beberapa tahun dulu tidak mendapatkan hasil apa-apa. Amira Aprilia adalah nama Ibu Agatha, Ia tidak suka menyematkan nama Imanuel di akhir namanya ketika arisan bareng teman-temannya yang hanya Ibu-ibu di kompleksnya saja. Tidak seperti kebanyakan Ibu-ibu kaya yang berteman dengan Ibu-ibu sosialita. Ibunya Agatha adalah wanita sederhana yang terbiasa mengurus rumah tangga, ia tidak tertarik dengan barang-barang mewah dan branded layaknya orang kaya, ia berpakaian selayaknya dan sewajarnya saja agar terlihat bersih dan rapi. Ibunya Agatha keturunan sunda yang dulunya kuliah di Jakarta hingga bertemu dengan Ayahnya Agatha, Hideyhosi Masimura keturunan Jepang yang satu Fakultas dengannya. Sampai akhirnya dengan segala sekelumit masalah ujian cinta mereka, Ayahnya Agatha mengucap dua kalimat syahadat untuk menikah dengan Ibunya Agatha, saat itulah nama Ayahnya Agatha berubah menjadi Hideyhosi Imanuel. Imanuel adalah nama yang di sematkan oleh Ibunya Agatha sebagai rasa syukur untuk kekesihnya yang masuk Islam kala itu. "Ma, Aga langsung aja ya. Repot kalo harus jemput Mama dulu, perjalanannya malah jadi makin lama. Mama kan bisa minta anter sama supir Ma," Agatha menolak secara halus. Bukan tentang memakan waktu yang Agatha pikirkan, tapi tentang kemandiriannya. Ia ingin menunjukkan kekuatannya meskipun begitu banyak badai menerpanya. "Baiklah kalau gitu. Jadwal kamu terapi jam berapa Sayang?" "Jam sembilan Ma. Mama ngak perlu ke sana juga Ma, takutnya pas Mama nyampe Aga udah pergi. Aga buru-buru mau ke kantor, ada rapat setelahnya Ma," Agatha sengaja membuat alasan agar Ibunya tidak ke rumah sakit melihatnya sedang terapi. Ia tidak tega melihat wajah sendu Ibunya selalu bersedih melihat kondisinya. "Iya Sayang, kamu terapinya sungguh-sungguh ya, sambil berdo'a agar Aga bisa sehat seperti dulu lagi" mata Amira mulai berkaca-kaca, ia sembunyikan tetesan air mata yang selalu membasahi pipinya di balik ponselnya. "Iya Ma selalu, Aga selalu berdo'a agar kita semua di beri kesehatan" Agatha tersenyum mengucapkan kata-kata itu. "Ya udah Sayang, Mama tutup telponnya ya! Hati-hati, bilangin sama Pak Adi ngak usah ngebut!" "Iya Ma, Assalamu'alaikum Mamaku yang cantik" "Wa'alaikum salam Sayang" Agatha dan Amira sama-sama mematikan ponselnya. # "Mas sudah sampai," ucap Pak Adi yang sudah membukakan pintu mobil namun Agatha tidak menyadari karena sibuk dengan notebooknya. "Oh Ya" Agatha agak sedikit linglung, sebab ia baru tersadar jika Pak Adi sudah memarkirkan mobilnya di halaman Rumah Sakit. Agatha berpikir jika mobilnya terus berjalan di jalan raya. Pak Adi membantu Agatha keluar mobil menaiki kursi roda yang sudah di siapkan Pak Adi. "Mas, Pak Adi anter sampe ruangan ya?" tanya Pak Adi. Biasanya Agatha akan menolak dan pergi sendiri, namun ia selalu gagal untuk sendiri sebab selalu ada Ibunya yang sudah datang duluan di ruang tunggu. Tapi ia berpikir sepertinya kali ini tidak karena Ibunya masih dir rumah. "Tidak perlu Pak, Bapak tunggu di sini saja. Seperti biasa." Agatha lega jika ia bisa sendiri terapi, tanpa tatapan kasihan dan sedih oleh orang di sekelilingnya. Agatha menyusuri lorong Rumah Sakit untuk langsung keruangan Dokter yang menanganinya. Namun ada sosok wanita yang ia kenal duduk di depan ruangan Dokter spesialisnya. "Mama, kok bisa disini. Bukannya kata Mama tadi di rumah" Agatha sedikit kesal karena merasa di bohongi Ibunya. "Mama tadi udah siap-siap pas nelpon kamu, jadi langsung berangkat sama Mang Ujang pas kamu bilang ngak bisa jemput. Mama juga kaget kamu belum nyampe. Malah Mama yang nyampe duluan," tutur Bu Amira menyentuh rambut Agatha lembut. "Ya udalah Ma, kita masuk aja. Aga buru-buru soalnya harus ke kantor abis ini" Agatha melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia sampai tepat pukul 09 pagi. "Sayang, bisa ngak kita fokus dulu. Saat lagi terapi kamu pikirin kesembuhan kamu bukan kantor. Lagian kamu kan Bosnya bisakan ambil cuti sehari pas lagi jadwal terapi," Ibunya Agatha juga kadang kesal dengan tingkah Agatha yang terlalu memporsir pekerjaannya. Memang Agatha seorang pekerja keras, tapi apa harus dia memikirkan pekerjaan di manapun ia berada. "Ma, bukan itu intinya. Kalau bisa dua-duanya kenapa harus satu-satu. Lagian terapi kan cuma berapa jam, ngak sampe seharian Ma." "Aga Kamu selalu begini. Kamu ngak bisa terapi sambil kerja, hidup itu memang harus satu-satu," Bu Amira lebih ngotot. Agatha dan Ibunya malah berdebat di depan ruangan Dokter. "Pak Agatha, silahkan masuk!" Dokter yang mendengar suara di luar tahu jika itu suara Agatha dan Ibunya karna pintu ruangan kedap udara sedikit terbuka. "Oh ya, Pak Dokter. Maaf sedikit perdebatan tentang perbedaan argumen orang tua dan anak muda itu biasa. Anak sekarang suka ngak bisa dimengerti jalan pikirannya," ucap Ibu Agatha dengan senyuman. "Ia saya maklum, saya juga sering gitu sama anak saya. Sampe harus pembuktian segala," ucap Dokter Zaki sembari tersenyum. "Mari Buk, Pak Agatha!" Dokter Zaki mempersilahkan masuk. Setelah sedikit konsultasi dan perbincangan, terapi Agatha untuk bisa berjalan normal kembali di mulai. Ada suster dan ibunya yang mendampingi Agatha. Suster Airin adalah suster yang selalu mendampingi Agatha saat terapi, terlihat jelas suster Airin mengagumi sosok Agatha yang selalu tampak kuat dan mempesona, meskipun ia menyandang gelar cacat. Selesai terapi Agatha berpamitan pada Ibunya dan berangkat kekantor. Ia melihat ponsel dengan deretan miscall Sahira. Agatha lupa memberi tahu Sahira jika ia sangat telat hari ini. Dering ponsel Agatha berbunyi kembali, tulisan di ponsel Agatha menyatakan 'My Sekretary' kata my menyatakan kepunyaannya. Entah mengapa Agatha tidak menulis nama Sahira saja. "Hallo" Agatha segara menjawab panggilan. "Hallo, Bapak dimana?" ucap Sahira tidak sabar. "Saya di jalan, sedang menuju kantor" Agatha menjawab dengan santainya. "Oh ya Pak, karena Bapak tidak hadir pagi ini jadi jadwal rapat kantor saya jadwal ulang jam 02 siang Pak" ucap Sahira takut-takut jika Agatha tidak suka. "Ya baiklah" "Ya Pak, saya izin makan siang ya Pak" Sahira meminta izin takut jika Agatha sampai ke kantor Sahira malah tidak ada di meja kerjanya. "Ya silahkan, kan memang sudah jadwal istirahat makan siang" Agatha masih dengan nootbooknya, memeriksa laporan dari Amara adiknya. "Ya sudah kalau gitu saya tutup Pak, Assalamu'alaikum" ucap Sahira sedikit terbata, tiba-tiba ia gugup berbicara di telpon dengan Agatha. "Wa'alaikum salam" Agatha terkekeh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN