Pulang

698 Kata
Flash Back "Sayang, kamu pesan gih?" ucap Iman lembut pada wanita berambur panjang di sampingnya. "Abang aja yang pesen gih! Samain aja ya Bang," ucap cewek berambut hitam lurus sepinggang, ia nampak sibuk memencet tombol pada ponsel BlackBerry miliknya. "Mbak seperti biasa, Ramen dan just jeruk dua ya" ucap laki-laki tampan yang dengan melihat wajahnya saja orang lain akan tahu jika dia punya keturunan Jepang. "Maaf mas, ngak ada Ramen," ucap pelayan itu ketus, sabab anak yang masih duduk di bangku sekolah itu selalu salah kalau pesan makanan. "Maksudnya Spageti Mbak, ah si mbak pura-pura ngak paham deh," ucap Iman. "Iya. Situ yang suka salah dalam penempatan kata." "Ye... si Mbak, gitu aja marah-marah." Iman menikmati memandangi wajah Sahira yang manis tanpa Sahira tahu karena dari tadi ia hanya sibuk memainkan ponselnya. "Sayang, kok lihat hp terus sih. Kamu selingkuh?" ucap Iman dengan bibir manyun. "Apa sih Bang, aku lagi baca chat di grup, lagi seru nih tanggung," Sahira menatap Iman sejenak lalu kembali menatap ponselnya. "Masak pacarnya di anggurin sih Sayang, nanti aku ngambek lo," Iman bersuara manja. "Apaan sih bang. Kita itu bukan anak kecil lagi pake' acara ngambek segala," Sahira menaruh ponselnya di meja sedikit kasar. "Gitu donk, dari tadi juga.Sayang kalau kamu main ponsel terus, aku kayak obat nyamuk jadinya." ucap Imam masih dengan bibir manyunnya. "Terus yang jadi nyamuknya siapa dong?" tanya Sahira dibikin bercanda. "Tuh hp kamu. Dari tadi bunyinya, totet totet, totet totet." "Emang bunyi nyamuk kayak gitu?" Sahira terkekeh. "Anggap aja samalah." "Mana ada nyamuk kayak gitu, haha." "Terus bunyi nyamuk itu gimana?" "Ciut, ciut, ciut,... gitu." "ciut? Kamu kira nyali, ciut. Hahaha." Mereka berdua berbincang layaknya anak muda yang sedang kasmaran. Sesekali Iman merayu Sahira sehingga membuat wajah Sahira berasa kebas dan merasa sedang terbang di atas awan. Flash Back Off. Agatha berada di ruangannya, memandang kota Jakarta dari balik kaca jendelanya, membayangkan sejenak isi percakapannya dengan Sahira siang tadi. "Ceh, Sahira Amalia," ucap Agatha, tak terasa bibirnya tersenyum kala menguapkan nama itu. Agatha mencari berkas lamaran Sahira yang lupa ia taruh di mana setelah Desi memberikan itu padanya tadi. Setelah beberapa menit mencari, ia menemukannya. Agatha membuka lembaran Riwayat Hidup yang di lampirkan di berkas surat lamaran Sahira. "SMA Bakti. Sudah ku duga," Agatha membaca lembaran Riwayat hidup Sahira. SMA Bakti adalah SMA yang sama dengan Agatha. Kemudian Agatha melihat tahun lulusnya. Dan persis setahun di bawahnya. "Sahira, kamu begitu berbeda sekarang. Kamu semakin cantik," ucap Agatha dalam keheningan malam. Mungkin seluruh staf telah pulang, hanya ia dan Satpam di luarlah yang masih di kantor. "Sadar Agatha, sadar. Masa lalu tetaplah hanya masa lalu belaka," Agatha sedikit mengetok kepalanya dengan jari. "Tok.. tok..tok," ketukan pintu mengagetkan Agatha. "Masuk!" Muncul sosok gadis berkerudung dari balik pintu. Sepertinya berkeliaran di mana-mana, terutama dalam pikiran seseorang. "Sahira, kamu kenapa belum pulang?" Agatha kaget, dia pikir seluruh karyawannya sudah pulang. "Bapak belum pulang, ya masak saya pulang duluan. Bapak biasa pulang jam berapa?" Sekarang sudah menunjukkan pukul 21.30. "Ngak apa-apa, asal kerjaan kamu udah beres ya ngak masalah," ucap Agatha yang membalik kursi Rodanya menghadap ke Sahira "Ngak enak aja Pak, Hehe," Sahira cengengesah seolah sedang menghadapi seorang kakak. "Udah kita pulang sekarang, kamu perginya tadi naik apa?" Agatha mendekati Sahira. "Naik Ojol Pak," ucap Sahira polos. "Ya sudah, kamu pulang bareng saya ya." Agatha menaruh berkas yang di pegangnya ke dalam laci. "Saya bisa naik Ojol lagi Pak," sahut Sahira cepat. Sahira takut bila bersama dengan Agatha dari pagi sampai malam ia tidak bisa menahan untuk tidak mengajak Agatha menikah. "Sayangnya tadi bukan tawaran tapi perintah," Agatha berkata tegas. "Maaf Pak, Iya terserah Bapak saja," ucap Sahira pasrah. 'Bentar-bentar bijak, bentar-bentar sok memerintah. Sebenarnya dia orang yang seperti apa sih?' 'Gitu donk,' batin Agatha. Tanpa basa-basi Agatha keluar ruanga di ikuti oleh Sahira. Agatha mengeluarkan ponselnya dari saku jas. "Hallo, Bapak dimana?" Agatha menelpon seseorang. "Oh Ya sudah, tunggu saya di parkiran ya!" Sahira yakin yang di telpon Agatha adalah supirnya, meskipun Sahira tidak tahu jawaban dari seberang ponsel. Agatha mengunci ruangannya sebelum pergi, Agatha dari dulu memang selalu teliti dalam semua hal. Itulah sebabnya Agatha lebih di percaya memegang perusahaan utama dari pada Kakaknya yang menjadi Direktur di Perusahaan cabang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN