18.Malam Pertama

1769 Kata
*** Nafas Nona Yun menderu, otaknya sebagian sudah tak berfungsi lagi. Yang ada saat ini dalam hatinya adalah ia ingin lepas dari belenggu jiwanya yang membara akibat ramuan yang mungkin dicampur Kaisar Qiang pada minumannya. Persetan dengan rasa malu, gadis itu sudah kehilangan kontrol dirinya. Namun ia berjanji akan membuat perhitungan pada pria itu setelah semuanya benar-benar berakhir. Nona Yun menghentikan ciuman panasnya, nafasnya berat dan tersengal. Ia sudah tidak kuat dengan apa yang ia derita saat ini, bibirnya bergumam tak jelas membentuk sebuah seringaian licik dari bibir sang kaisar. "Aku akan membuat perhitungan padamu, Qiang Wen." gumam Nona Yun sambil sesekali mengusap peluhnya karena hawa panas dalam tubuhnya. Ia memandang wajah Kaisar Qiang Wen dengan tatapan kesal bercampur marah namun apa boleh buat dirinya kini tengah bernafsu, sebuah perasaan yang tak pernah ia rasakan terhadap lawan jenisnya. "Buatlah perhitungan dan dengan senang hati aku akan menanggapinya." timpal Kaisar Qiang lalu mencengkeram pinggung Nona Yun yang masih duduk di atas kedua pahanya yang kekar. Nona Yun mendesis, ia hanya bisa meremas kursi empuk itu dengan kedua tangannya yang mungil. Melihat Nona Yun kepayahan Kaisar Qiang kembali memegang kendali. Pria itu segera mengangkat tubuh Nona Yun turun ke sampingnya lalu kembali menindihnya tanpa ampun. "Wajahmu merona sekali, apa yang kau rasakan Nona Yun Xiaowen? Jangan menahannya, aku mohon. Kau tahu kenapa aku melakukannya?" ucap Sang Kaisar akhirnya buka suara. "Karena aku menginginkan malam pertama yang indah denganmu. Selama ini kau selalu menolak keinginanku jadi aku terpaksa mencampur ramuan perangsang pada minumanmu." "Apa??" pekik Nona Yun seraya melotot tak habis pikir. "Aku sudah mengatakan berulang-ulang Nona Yun, hari ini akan jadi hari yang sempurna untukku." bisik Kaisar Qiang di telinga Nona Yun membuat sang gadis harus kembali menelan ludah menahan dirinya. "Kau memang licik, Qiang Wen." tegas Nona Yun dengan nafas naik turun. Pria itu menatapnya begitu dingin, tangannya yang besar bebas bergerak menelusuri d**a Nona Yun. Gadis itu kembali terombang-ambing diantara ya atau tidak. Tak menunggu waktu lama sang kaisar segera menarik hanfu Nona Yun meninggalkan suara robekan yang cukup nyaring terdengar. "Aahh... Hmmmn...." desis Nona Yun tak tertahankan ketika pria tampan itu segera mencecap p****g payudaranya yang sudah mengeras karena terlalu lama menahan gairah. Darahnya kembali berdesir tak karuan, gadis itu meremas rambut Kaisar Qiang yang sudah menempatkan dirinya dalam posisi sulit seperti ini. Ia hanya menahan hasrat liarnya yang makin terasa aneh saja. "Ahh.... Kaisar Qiang Wen..." desisnya lagi ketika menikmati sapuan lidah hangat sang kaisar yang dengan pelan namun menghanyutkan mampu mengulum putingnya dengan sempurna. "Jangan membuatku gila." gumam Nona Yun mulai frustasi terhadap dirinya sendiri. Gadis itu melengkungkan tubuhnya, mendongak menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan begitu sayu. Ia begitu b*******h dengan segala sentuhan yang kaisar perbuat pada tubuhnya. Nona Yun kembali meremas rambut panjang sang kaisar yang kini terurai akibat kekurangajarannya yang telah berani memegang kepala seorang kaisar mematikan macam Liuu Qiang Wen. "Ehhmmn.... Ahh..."desah Nona Yun ketika Kaisar Qiang belum juga melepas putingnya dari mulut sang kaisar. Ia menggeliat ketika pria itu dengan lihai menghisapnya dan memainkan putingnya secara bergantian. Nona Yun makin tak karuan ketika dengan nakalnya tangan sang kaisar sengaja menyusup ke sela-sela pahanya, mencari sesuatu yang bisa ia mainkan dan membuat Nona Yun makin terangsang hebat. "Kaisar...." bisiknya lirih dan hampir tak terdengar kala Kaisar Qiang Wen mengelus vaginanya yang mulai basah. "Apa kau menyukainya?" tanya sang Kaisar lirih membuat wajah Nona Yun memerah tak karuan karena ketahuan ia begitu bernafsu sekarang. Nona Yun memilih bungkam dan menunduk hingga akhirnya Sang kaisar mendekatkan wajahnya dan menawarkan bibirnya pada sang Nona. Gadis bersurai acak-acakan itu tak menolak, ia menyambut saja bibir Kaisar Qiang yang begitu sensual dan memikat. Dirinya kembali bergumam tak jelas ketika menikmati ciuman lidah itu bersamaan dengan jari sang kaisar yang memainkan klitorisnya. Nona Yun melepas ciumannya, ia tersengal-sengal seakan tak kuasa menahan geloranya yang kini menghantam dadanya berkali-kali. "Kenapa?" tanya Kaisar Qiang setengah berbisik ketika Nona Yun melepaskan tautan lidah mereka. "Aku... Aku sudah tidak sanggup lagi." aku Nona Yun sembari meremas tangan sang kaisar yang masih asyik berada di area vaginanya. Kaisar Qiang mengulum senyum tipis, ia melepas jarinya dari v****a Nona Yun. Tanpa rasa jijik sedikitpun ia memperlihatkan bagaimana ia begitu menikmati cairan putih milik Nona Yun dan menjilatinya hingga ke sela-sela jari yang lainnya. "Aahh..." Nona Yun kembali memekik ketika Kaisar Qiang kembali menarik hanfu bagian bawahnya dengan paksa. Dengan sekali tarik maka telanjang sudah tubuh Nona Yun di hadapan sang Kaisar. Gadis itu mencoba menutupi tubuhnya namun ditahan oleh sang kaisar, pria itu merosotkan tubuhnya ke bawah, membuka lebar-lebar paha sang gadis dan mulai menjilatinya. "Aahh.... Yang Mulia... Ahh...." desis Nona Yun menggelinjang hebat ketika bersentuhan langsung dengan lidah sang kaisar yang kini bermain-main dengan klitorisnya yang mulai keras karena terangsang. Gadis itu memejamkan matanya, menahan dirinya yang terasa semakin meledak-ledak tak karuan. Nona Yun melengkungkan tubuhnya, kakinya gemetar hebat ketika sang kaisar mencoba memperdalam jilatannya hingga ke dalam liat vaginanya yang memerah. "Ahh.. Ahh.... Aahhh...." Nona Yun tak bisa menahan suaranya akibat sensasi yang diberikan Kaisar Qiang kepadanya. Pria yang berada di bawah sana seakan terpacu akan suara Nona Yun yang terdengar begitu seksi di telinganya, ia semakin bernafsu saja dalam menjilati setiap inci k******s pasangannya dengan penuh rasa nikmat. "Aaahh... Yang Mulia aku... Aku ingin....." suara gadis itu tercekat dalam kerongkongannya ketika hawa panas berhasil keluar dari vaginanya, meleleh cukup banyak dan menyiram lidah Kaisar Qiang yang seakan tahu akan gelombang klimaks yang Nona Yun coba katakan baru saja. Pria itu menjilati vaginanya dengan sabar membuat Nona Yun menggelinjang dan berdesis tak karuan karena kenikmatan yang baru saja ia rasakan. Peluhnya mengucur, setidaknya ia bisa merasakan lega karena gejolak hasratnya bisa terlepaskan begitu saja. Mata Nona Yun menatap sang Kaisar yang kini bangkit dan berdiri di hadapannya. Tanpa ragu sedikitpun ia melepaskan celana panjangnya dan membuangnya ke sembarang arah. "Apa kau tak menginginkannya?" tanya sang Kaisar seraya menatap Nona Yun yang masih terengah sambil terus melepaskan celana dalamnya yang tipis. Wajah Nona Yun memerah ketika Kaisar Qiang berhasil bugil di hadapannya. Ia mencoba menunduk namun tangan sang kaisar menahannya hingga mau tak mau ia harus melihat kejantanan suaminya yang besar dan perkasa. "Apa kau tak menginginkan yang lebih Nona Yun?" bisik Kaisar Qiang terdengar begitu menggoda sambil menaiki tubuh Nona Yun. "Yang Mulia... Uuhhmn....." Nona Yun tak sanggup berkata-kata ketika Kaisar Qiang meraih kepalanya dan mengulum bibirnya dengan cepat. Pria itu mencecap bibir Nona Yun dengan ganas, menggigit pelan bibirnya yang kenyal hingga gadis itu membuka mulutnya dan bersedia menari dengan lidahnya yang hangat. Kaisar Qiang menahan wajah Nona Yun, tak membiarkan gadis itu memutus perciuman mereka yang teramat panas. "Mmmnnnn...." desis Nona Yun tak kuat menahan nafas sembari memukul-mukul d**a sang kaisar. Pria bersurai kelam itu tak bergeming, ia mengulum bibir manis Nona Yun dengan rakus. Ia meraih tangan kecil yang memukulinya dan membimbingnya untuk memegangi kejantanannya yang sudah tegak tak terbantahkan. Nona Yun terkesiap, ia melepas ciumannya dan bernafas terengah-engah sedangkan tangannya masih dicekal oleh tangan sang kaisar. "Nona Yun ooh.... Peganglah." titahnya sedikit mendesah tatkala tangan Nona Yun dibimbing untuk menyentuhnya dan bermain dengannya. Gadis itu menolak namun dengan sigap sang kaisar menindihnya, tak memberikan ruang gerak untuk Nona Yun menolaknya. Alhasil gadis itu menurut saja ketika ia diinteruksi agak memegangi dan membelai kejantanan kaisar Qiang yang semakin besar dan mengeras. "Oohh... Nona Yun..." desahnya terdengar sangat menggoda lalu menjilati telinga Nona Yun dengan sensual. Gadis itu bergidik namun nalurinya masihlah sama, ia menginginkan sesuatu yang lebih. Nona Yun meraih leher Kaisar Qiang dan menciumnya, memberi tanda merah keunguan di sana. Apalagi desahan sang kaisar membuatnya kembali menggebu tak karuan, entah kenapa melihat kejantanan sang kaisar ia merasa gemas sendiri. Gadis itu menatap mata sang kaisar yang terpejam karena merasakan nikmat akibat elusan tangan sang Nona di kesaktiannya. "Nona Yun... Ahh..." desisnya lagi membuat Nona Yun kembali mencium dan mengulum bibir Kaisar yang begitu menggoda. Perlahan ia mengarahkan batang kejantanannya ke arah liang kenikmatannya yang kembali basah. Ia menghembuskan nafas berat ketika sesuatu yang besar dan sesak menyusup di vaginanya makin dalam. "Aaahh... Mmmnnn...." gumamnya ketika kejantanan sang kaisar memasukinya perlahan. Sang kaisar kembali menatap mata Nona Yun yang memerah, ia mengulum bibir gadis itu dan menghujamkan kuat-kuat kejantanannya di v****a Nona Yun. "Mmmnnnn.... Sssshh...." Nona Yun tak bisa menghindari kenikmatan yang hinggap di vaginanya. Ia kembali terbakar ketika Kaisar Qiang secara perlahan mengayunnya maju mundur seirama dengan tubuhnya. "Aahh...." desis Nona Yun ketika Kaisar Qiang menghujamnya sangat dalam dan nikmat. "Nona Yun apa yang kau rasakan? Apakah nikmat? Apakah kau puas dengan milikku?" ceracau Kaisar Qiang seraya terus memompa v****a Nona Yun yang basah. Gadis itu hanya mengangguk perlahan, ia semakin tak berdaya ketika sang kaisar justru memelankan laju ayunannya dan sesekali memompanya dengan keras. Ia benar-benar merasa gila jika diperlakukan seperti ini. Nona Yun mendorong tubuh Kaisar Qiang ke samping hingga kejantanannya terlepas begitu saja dari vaginanya. Dengan rasa kesal Nona Yun kini gantian yang menduduki tubuh sang kaisar. Gadis itu mengarahkan batang perkasa itu ke arah vaginanya, menelannya dengan perlahan. "Aahh... Ssssh..." desis Nona Yun ketika batang keras itu benar-benar tenggelam di vaginanya. Ia memompanya naik turun seraya memperhatikan wajah Kaisar yang begitu menggoda dan seakan menikmati permainannya. "Terus Nona Yun, ini sangat nikmat. Oohh...." gumam Kaisar Qiang lalu meraih pinggul Nona Yun dan menghujamkan batangnya keras-keras. "Aahh... Yang Mulia... Ahh..." desis Nona Yun tak kalah ketika pria itu menusukkan benda kerasnya dengan kuat-kuat. Gadis itu menggelinjang ketika sang kaisar mengayunnya seraya mengulum p****g Nona Yun bersamaan. "Aahhh.... Kaisar, ehhmmm...."gumam Nona Yun ketika mendapatkan kenikmatan ganda. "Ohh... Ratuku, ayo makin dalam lagi.. Aku... Aku sudah tak tahan." ceracau sang kaisar semakin mempercepat laju pompaannya. Nona Yun hanya berdesis tak karuan, suara basah karena alat kelamin mereka sudah tidak mereka hiraukan. Mereka terus mempercepat laju permainan mereka yang panas. Kaisar Qiang meraih leher Nona Yun dan menciuminya, ia memeluk pinggang Nona Yun dan berganti posisi miring. "Aaahh...." desah Nona Yun ketika ia disodok dengan kesaktian suaminya yang masih begitu tegak dan menggoda. "Aah... Yang Mulia... Hemmn.. Nikmat."ceracaunya ketika pria itu terus mengocok vaginanya dengan batang keras dan memainkan jarinya di k******s Nona Yun. "Ssshh... Yang Mulia... Aaahh..." desis Nona Yun membuat Kaisar Qiang segera meraih bibir Nona Yun dan menenggelamkan suaranya dalam ciuman yang panas. Gadis itu terayun-ayun, ia menerima kuluman bibir sang kaisar, menikmati kejantanannya sekaligus permainan di klitorisnya yang sangat liar. "Aahh.. Nona Yun, aku.. Aku akan keluar." gumam Kaisar Qiang semakin mempercepat ayunannya menjadi dalam dan sangat nikmat. "Ooooohhhh.... Mmmnn..." lenguhan sang kaisar memberi tanda bahwa ia tengah meraih puncak kenikmatannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN